Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Abdul Gawi, Tunanetra Pertama Lulus dari FKIP Unram: Saya Harus Menembus Dinding Keterbatasan

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 10 Oktober 2025 | 14:41 WIB
Abdul Gawi, Anggota DPRD Kota Mataram Nyayu Ernawati, dan keluarga besarnya.
Abdul Gawi, Anggota DPRD Kota Mataram Nyayu Ernawati, dan keluarga besarnya.

Perjalanan Gawi juga menjadi cermin bagi perguruan tinggi di Indonesia. Di tengah wacana pendidikan inklusif, kisahnya mengingatkan akses dan fasilitas belum sepenuhnya berpihak pada difabel.

---

LANGKAH Abdul Gawi menapak kampus Universitas Mataram bukan langkah biasa. Ia menembus dinding keterbatasan dan menjadi tunanetra pertama yang berhasil meraih gelar sarjana dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). 

“Saya ambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris,” tuturnya, Rabu (8/10). 

Perjalanan delapan semester itu bukan sekadar tentang ujian dan skripsi. Di balik toga yang kini disandangnya, ada kisah panjang tentang perjuangan, kesabaran, dan keteguhan melawan sistem pendidikan yang belum sepenuhnya ramah difabel.

Gawi mengaku, interaksi dengan dosen sangat bergantung pada pribadi masing-masing. “Kalau dosennya akomodatif, belajar terasa nyaman,” ujarnya.

Namun, tidak semua pengajar memahami kebutuhan mahasiswa tunanetra. “Kalau dosennya kaku, kami sulit mendapat toleransi,” katanya lirih.

Hambatan terbesarnya bukan semata pada pengajaran, melainkan pada fasilitas kampus yang jauh dari kata inklusif. Banyak ruang kelas berada di lantai tiga tanpa fasilitas penunjang seperti guiding block. 

“Saya selalu butuh pendamping untuk menuju kelas,” ungkapnya.

Selama empat tahun kuliah, ia tak pernah bisa berkeliling kampus sendirian. Lingkungan Unram yang luas membuat mobilitasnya sangat terbatas. 

Baca Juga: Top, Mahasiswa Unram Ikut Kongres Ilmuwan Muda Dunia di Rusia

“Kalau di SMA 6 Mataram dulu, tahun kedua saya sudah bisa ke kamar mandi sendiri,” kenangnya.

Meski penglihatan hanya mampu menangkap cahaya dan warna dasar, Gawi tetap menyerap ilmu setara mahasiswa lain. Ia mengerjakan tugas makalah sendiri menggunakan perangkat lunak pembaca layar. 

“Software akan membacakan teks di layar,” jelasnya.

Namun tantangan muncul saat tugas presentasi atau pembuatan PowerPoint. Konten visual menjadi hambatan besar. 

Baca Juga: Tim Asesor BAN-PT Lakukan Asesmen Lapangan di Unram, Dua Prodi Targetkan Akreditasi Unggul

“Biasanya saya dibantu teman untuk bagian visual,” tuturnya. 

Dalam kelompok, Gawi lebih sering menjadi moderator atau penjawab pertanyaan. “Kalau ada yang sedikit dianggap rumit, itu bagian saya,” jelasnya.

Kendala lain muncul saat penulisan skripsi, terutama dalam pembuatan sitasi. Ia harus bekerja sama dengan teman untuk mengetikkan kutipan sesuai format akademik. 
Baca Juga: Akademisi Unram Desak BPK Audit Pergeseran Dana BTT, Masuk Ranah Tipikor?

Meski demikian, konstruksi ide dan arah penelitian tetap ia tentukan sendiri. “Presentasi kadang membuat saya gugup,” aku Gawi. (Bersambung/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#FKIP Unram #Universitas Mataram #Abdul Gawi #mahasiswa difabel #pendidikan inklusif