LombokPost – Upaya penanganan stunting di Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, mulai membuahkan hasil signifikan. Data terbaru menunjukkan angka stunting di wilayah ini berhasil diturunkan dari 8 persen menjadi 7 sekian persen.
Kecamatan Sekarbela kini menetapkan target ambisius untuk menekan prevalensi stunting hingga 5 persen pada akhir tahun 2025.
Camat Sekarbela, Arief Satriawan, mengungkapkan bahwa penurunan ini adalah hasil dari kolaborasi lintas sektor yang konsisten dan berkesinambungan.
“Dari kemarin kita 8 persen, sekarang sudah turun lagi ke 7 persen sekian. Sudah ada penurunan. Jadi setiap hari ini kita lakukan terus,” ujar Arief.
Penurunan angka stunting ini didorong oleh program harian yang terintegrasi, dengan fokus utama pada periode krusial seribu hari kelahiran:
* Sosialisasi Intensif: Program penyuluhan dan edukasi dilakukan secara berkelanjutan kepada masyarakat.
* Aktivasi Posyandu: Posyandu diaktifkan kembali secara maksimal sebagai ujung tombak pemantauan gizi anak dan ibu.
* Pendampingan Orantua: Pendampingan diarahkan kepada orang tua, mulai dari masa kehamilan hingga periode seribu hari kelahiran, untuk memastikan asupan gizi yang tepat.
Kolaborasi dan Bantuan Makanan Bergizi
Keberhasilan penekanan angka stunting di Sekarbela sangat didukung oleh partisipasi berbagai pihak di luar pemerintah kecamatan.
* Dukungan DWP: Dharma Wanita Persatuan (DWP) aktif memberikan bantuan logistik makanan bergizi, termasuk telur, susu, abon, dan biskuit sebagai makanan tambahan bagi anak-anak di wilayah fokus.
* Intervensi Dikes: Dinas Kesehatan hampir setiap hari turun langsung ke lokasi untuk memberikan penyuluhan dan memantau kondisi kesehatan.
Penyuluhan kesehatan dan pemantauan rutin menjadi kunci intervensi. Ibu hamil diarahkan untuk rutin mengunjungi Posyandu.
Jika ditemukan indikasi stunting saat penimbangan anak, penanganan dilakukan secara cepat:
* Rujukan Spesialis: Anak dengan indikasi stunting langsung dibawa dan ditangani oleh dokter anak.
* Analisis Dua Faktor: Penanganan mempertimbangkan dua faktor utama yang menjadi penyebab stunting, yaitu pola hidup, keluarga, dan kondisi ekonomi.
Fokus Utama di Kelurahan Jempong Baru dan Karangpule
Arief menyebutkan dua kelurahan yang menjadi fokus utama penanganan stunting karena tingkat prevalensinya yang tinggi:
* Kelurahan Jempong Baru
* Kelurahan Karangpule
Meskipun Jempong Baru dikenal dengan perumahan modern, Arief mengakui bahwa keterbatasan ekonomi masih menjadi pemicu stunting di beberapa wilayahnya.
Dengan dukungan dan kolaborasi semua pihak, Kecamatan Sekarbela optimis dapat menyentuh target 5% stunting pada akhir 2025 dan bergerak menuju nol stunting.
Editor : Siti Aeny Maryam