Tidak semua ketakutan datang untuk dihindari. Sebagian justru diciptakan agar dihadapi.
----
ITULAH yang ditawarkan wahana rumah hantu bertajuk Selak! di lantai 3 pusat perbelanjaan Mataram Mall atau yang lebih akrab disebut warga sebagai Mall Lama.
Lombok Post mencoba masuk. Bukan untuk menguji nyali semata, tetapi untuk merasakan bagaimana ketakutan dirancang, diatur, dan dipentaskan dalam lorong sempit bernuansa gelap, di mana kepanikan diuji, dan ketenangan menjadi satu-satunya jalan keluar.
“Mohon perhatian sebelum masuk,” ucap seorang petugas yang berjaga di pintu masuk.
Sebelum pintu lorong dibuka, kami diberi pengarahan singkat oleh petugas. Suaranya tenang, nyaris datar, seolah ingin menurunkan ekspektasi agar ketegangan tidak melonjak sejak awal.
Aturannya jelas dan berulang ditegaskan. Tidak boleh menyentuh ‘penghuni’ lorong. Tidak boleh berlari. Tidak boleh panik. Tidak boleh mendorong. Tidak boleh memukul. Dan satu larangan penting: telepon genggam dilarang dinyalakan.
Tidak untuk merekam video, tidak untuk memotret, bahkan tidak untuk sekadar menyalakan layar. “Kalau mau rekam suara, silakan. Tapi HP jangan dinyalakan,” imbuhnya.
Larangan itu bukan tanpa alasan. Cahaya sekecil apa pun bisa mematahkan ilusi.
Padahal, di dalam lorong Selak, ilusi adalah segalanya. Begitu pintu tertutup, kegelapan menyergap.
Bukan gelap biasa, melainkan gelap yang temaram. Seperti cahaya yang sengaja dipadamkan setengah, menyisakan bayangan-bayangan samar.
Lorong sempit membelah ruang. Udara terasa berat. Musik latar berdetak pelan, rendah, seperti detak jantung yang dipercepat paksa.
Beberapa langkah pertama terasa sunyi. Terlalu sunyi.
Hingga tiba-tiba, sosok putih muncul dari sudut pandang. Tubuhnya dibalut kain panjang, rambut hitam menjuntai menutupi wajah.
Ia berdiri diam, lalu bergerak perlahan. Tidak menyentuh, tetapi cukup dekat untuk membuat refleks tubuh menegang.
“Aaa… !” beberapa pengunjung memekik.
Mereka terkejut. Ada yang menahan napas. Ada yang spontan mundur.
Baca Juga: Pemerintah Resmi Bagi-Bagi 'Bonus' Lewat Aturan Baru 2026!
Anak-anak yang ikut bersama rombongan langsung merapat ke orang dewasa. Dari kegelapan, suara lirih terdengar, entah dari pengeras suara, entah dari sosok itu sendiri.
“Jangan keluyuran malam-malam…” desisnya.
Pesannya sederhana, nyaris klise. Tapi di ruang gelap, kalimat itu terdengar seperti peringatan.
Lorong berikutnya jauh lebih gelap. Musik berubah. Lebih keras. Lebih menghimpit.
Dari balik sudut, muncul bayangan besar. Tubuhnya tinggi, hitam pekat, nyaris menyatu dengan dinding.
Baca Juga: Tanpa Pesta, Tanpa Kembang Api: Cara Mataram Memulai 2026 Ini Bikin Suasana Lebih Hening
Sosok itu bergerak cepat, giginya menyeringai, taringnya tampak dalam kilatan cahaya sesaat. Tubuhnya besar, bahunya lebar, gerakannya berat, cukup untuk membuat siapa pun berpikir ulang untuk maju.
Beberapa pengunjung mulai gemetar. Ada yang berteriak tertahan. Petugas sebelumnya sudah mengingatkan: wahana ini tidak untuk mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung atau gangguan kecemasan.
Peringatan itu kini terasa sangat masuk akal. “Tidak ada yang punya masalah asma kan?” terngiang kembali ucapan petugas jaga di pintu masuk, sebelum pintu tadi ditutup dengan sangat rapat.
Lalu datang bagian paling menentukan.
Kami memasuki sebuah ruang buntu. Tidak ada jalan keluar yang terlihat.
Baca Juga: Gaji Utuh Tanpa Potongan! Buruan Cek, Anda Termasuk Karyawan yang Bebas Pajak Mulai Januari 2026?
Dinding-dinding tertutup rapat. Gelap. Sunyi. Musik berhenti mendadak.
Di titik ini, ketakutan berubah bentuk. Bukan lagi soal hantu, melainkan soal ketidakpastian.
Apa yang harus dilakukan?
Di ruang ini, pengunjung dipaksa memilih: panik atau berpikir.
Tidak ada petunjuk terang. Tidak ada cahaya. Tidak ada kunci yang jelas terlihat.
Baca Juga: GIS Perumahan Ungkap Zona Rawan Banjir di Mataram: Zona Merah Dominan Kawasan Padat
Yang ada hanya suara langkah dari kejauhan—sosok hitam besar itu kembali mendekat.
Di sinilah konsep Selak bekerja. Ini bukan sekadar lorong horor, melainkan simulasi pertarungan batin: antara rasa takut yang mendesak untuk berlari, dan kebutuhan untuk tetap tenang agar bisa keluar.
Banyak yang terjebak di titik ini, berteriak, berputar-putar, kehilangan arah. Setelah upaya yang terasa lama, pintu akhirnya terbuka.
Namun kelegaan itu semu. Di lorong terakhir, dua sosok berdiri menunggu. Yang pertama tinggi, dibungkus kain putih seperti jasad yang baru diangkat dari liang.
Yang kedua lebih mengerikan, wajahnya rusak, tatapannya kosong, gerakannya mendadak dan tak terduga.
“Jangan main HP!” lirihnya dalam, mendekati seorang anak yang menjerit ketakutan memeluk ibunya.
Di titik ini, kepanikan pecah. Ada yang menjerit. Ada yang melompat.
Ada yang nyaris berlari, meski aturan melarang. Ini adalah ujian terakhir, batas antara bertahan dan menyerah.
Pintu keluar akhirnya terbuka. Cahaya mall menyambut.
Suara pengunjung lain terdengar normal kembali. Jantung masih berdetak cepat. Nafas belum sepenuhnya teratur.
Keluar dari lorong Selak, satu hal menjadi jelas: rumah hantu ini bukan hanya soal menakut-nakuti.
Ia dirancang sebagai pengalaman psikologis, tentang bagaimana manusia bereaksi saat ketakutan menutup logika, dan bagaimana ketenangan menjadi kunci keselamatan.
Di luar, seorang remaja sampai terjungkal jatuh. Wajahnya masih menyimpan rasa takut, sementara rekan-rekan sebayanya tertawa kencang setelah lepas dari jerat gelap yang menyimpan lebih banyak lagi kejutan selain sedikit cerita di atas.
“Tadi aku mau nyalain HP, tapi takut,” ucapnya dengan suara bergetar.
Di lorong gelap itu, bahkan cahaya kecil pun terasa seperti pelanggaran. Dan mungkin, itulah pesan paling halus dari Selak.
“Dalam gelap, bukan cahaya yang menyelamatkan, melainkan kendali diri”.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin