Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cuaca Ekstrem Hantam Mataram: Mobil Terjun, Jalan Banjir Parah

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 23 Januari 2026 | 07:26 WIB
Mobil box yang jatuh ke dasar sungai akibat tebing longsor di belakang kompleks pertokoan Dokter Wahidin.
Mobil box yang jatuh ke dasar sungai akibat tebing longsor di belakang kompleks pertokoan Dokter Wahidin.

LombokPost — Dampak cuaca buruk kembali terasa. Sebuah mobil box terjun ke dasar sungai sedalam sekitar 10 meter setelah tebing sungai di belakang komplek pertokoan Jalan Dokter Wahidin longsor.

Longsoran menyeret area parkir di bibir tebing, membuat kendaraan yang terparkir tak sempat diselamatkan. “Saya dengar dulu suara tembok spandek seperti patah, lalu tidak lama terdengar gemuruh dari arah sungai,” kata Udin, petugas keamanan komplek pertokoan, Selasa (20/1). 

Ia menyebut kejadian terjadi sekitar pukul 06.00 Wita, didahului kondisi listrik padam sejak subuh. Longsor terjadi hampir sepanjang 15 meter di belakang deretan toko. 

Area parkir yang ambles langsung menyeret satu unit mobil box ke dasar sungai. Beruntung, kendaraan dalam kondisi kosong sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Pemilik mobil, Mola mengatakan kendaraan tersebut sehari-hari digunakan untuk mengangkut suku cadang kendaraan. “Yang jatuh itu posisinya paling barat, tepat di atas tebing yang longsor. Memang di situ biasa kami parkir,” ujarnya.


Evakuasi dilakukan dengan pengamanan ketat. Petugas gabungan menggunakan crane karena posisi mobil berada di dasar sungai dan kondisi tebing masih labil.

Proses pengangkatan dimulai sekitar pukul 09.30 Wita dengan memasang sling baja pada badan kendaraan, lalu crane mengangkat mobil secara perlahan. Selama proses berlangsung, arus lalu lintas di Jalan Dokter Wahidin sempat tersendat. 

Warga dan pemilik toko menyaksikan evakuasi dari jarak aman hingga mobil berhasil diangkat ke permukaan sekitar pukul 11.30 Wita. Dugaan sementara, longsor dipicu oleh tergerusnya dasar tebing sungai akibat derasnya aliran air saat hujan lebat mengguyur Kota Mataram sejak malam sebelumnya.

Kondisi tanah yang jenuh air mempercepat runtuhnya tebing meski sebelumnya tidak tampak tanda-tanda mencolok. Petugas di lokasi mengimbau warga dan pemilik usaha agar lebih waspada terhadap kondisi bantaran sungai selama musim hujan.

“Untuk sementara kami minta area di dekat tebing dikosongkan dulu demi keselamatan,” ujar salah satu petugas penanganan di lokasi.

Sementara itu, pantauan di lapangan menunjukkan, air menggenangi jalan, ruang-ruang publik, kawasan perkantoran, hingga permukiman warga. Di Taman Loang Baloq, genangan air menutup sebagian besar area taman akibat hujan yang turun tanpa jeda. 

Kondisi serupa juga terjadi di halaman DPRD Kota Mataram terendam luapan air dari saluran drainase di sekitarnya. Genangan meluas di sepanjang jalan dr Sujono Lingkar Selatan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saluran air di sisi jalan kembali meluap dan menutup sebagian badan jalan. Genangan muncul mulai dari depan Kantor DPD PDI Perjuangan NTB hingga kawasan SMP Negeri 17 Mataram akibat saluran yang mampet.

Kondisi tak kalah mengkhawatirkan terjadi di Karang Buaya. Drainase di kawasan tersebut dilaporkan tidak lagi mampu menampung volume air, sehingga air meluap ke badan jalan. 

Sementara di Kamasan RT 03, sebuah saluran air bahkan mengalami kerusakan talut dan longsor akibat tekanan debit air yang meningkat. Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram Abd Rachman menilai, banjir yang terus berulang menjadi sinyal kuat perlunya penataan kota yang lebih serius dan berjangka panjang.

“Penataan ulang kawasan yang sudah terbangun itu jauh lebih berat daripada menata ruang kosong. Karena itu perencanaan yang visioner dan alokasi anggaran harus jadi prioritas,” tegasnya.

Rachman—yang juga Ketua DPC Gerindra Kota Mataram—menekankan pentingnya normalisasi saluran dari hulu ke hilir. Menurutnya, banjir yang sudah terjadi berkali-kali, bahkan lebih intensif di tahun 2025 hingga awal 2026 menunjukkan persoalan struktural yang belum tuntas.

Senada, anggota Komisi III DPRD Kota Mataram lainnya, Ismul Hidayat, mengungkapkan laporan kerusakan talut dan dinding saluran di Kamasan telah disampaikan secara berjenjang.

“Volume air semakin besar dan itu menyebabkan longsor di beberapa titik saluran,” katanya.

Sementara itu, anggota DPRD dari Babakan Herman, mengingatkan faktor geografis Kota Mataram yang relatif rendah. “Secara teori air pasti mengalir ke wilayah yang lebih rendah. Kalau ini tidak segera ditangani, Mataram bisa menghadapi kondisi yang lebih buruk. Bisa tenggelam kalau kanal dan tanggul sungai di selatan tidak segera dibenahi,” tegasnya.

Genangan di jalan akibat melubernya air saluran paling parah terjadi di kawasan Asrama Haji, Kantor Inspektorat Kota Mataram, hingga area sekitar PTUN Mataram. Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram Ahmad Azhari Gufron, mempertanyakan belum optimalnya normalisasi saluran.

“Setiap hujan deras, genangan selalu muncul. Ini menunjukkan normalisasi saluran belum berjalan maksimal,” ujarnya.

Selain genangan, debit air Kali Jangkok juga dilaporkan meningkat dan sempat naik ke area permukiman warga. Genangan air juga merendam jalan lingkar di kawasan Mapak, memperparah daftar titik rawan banjir di ibu kota provinsi tersebut.

Rentetan genangan dan banjir ini menegaskan cuaca ekstrem bukan sekadar persoalan alam, tetapi berkelindan dengan persoalan tata kota, drainase, dan pengelolaan lingkungan. Dengan intensitas hujan yang masih tinggi, Kota Mataram kini berada pada fase krusial untuk berbenah sebelum genangan rutin berubah menjadi bencana yang lebih besar.

Di sisi teknis, Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning mengungkapkan lonjakan volume sampah di saluran drainase permukiman menjadi persoalan serius.

“Kalau di sungai besar relatif tidak ada. Justru di drainase permukiman volumenya meningkat, rata-rata 2 sampai 3 ton per hari,” jelasnya.

Menurutnya pengangkutan sampah juga terkendala kondisi cuaca. Jalur menuju lokasi pembuangan di Kebun Kongok dan Kebon Talo di Bintaro licin dan berbahaya bagi truk pengangkut.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#genangan air #Mobil Box Terjun #Drainase Tersumbat #Banjir Jalan Dr Wahidin #Longsor Mataram