LombokPost - Setelah maraknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), sekarang ancaman baru bagi peternak mulai mengintai dari arah Barat. Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol, dilaporkan telah terdeteksi di Pulau Bali pada akhir Desember lalu.
Posisi Bali yang bertetangga dekat dengan Nusa Tenggara Barat (NTB) memicu alarm kewaspadaan di Kota Mataram.
“LSD ini pertama kali terdeteksi di Riau pada 2022, lalu menyebar ke Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa. Kabar terbarunya, akhir Desember kemarin sudah masuk ke Bali. Itulah mengapa kami segera melakukan langkah antisipasi masif,” kata Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Pertanian Kota Mataram Lalu Hapiludin.
Hapiludin menegaskan, meskipun wilayah Mataram dan Pulau Lombok secara umum masih berstatus bebas LSD, pergerakan virus ini tidak bisa disepelekan. Surat edaran dari Pemerintah Provinsi dan instruksi tingkat kota telah diterbitkan untuk memperkuat barisan pertahanan di sektor peternakan.
Baca Juga: Disnakeswan NTB Proyeksikan Pengeluaran Ternak ke Luar Daerah di 2026 Meningkat
Gejala LSD sekilas memiliki kemiripan dengan PMK, yakni adanya demam tinggi pada ternak dan penurunan nafsu makan yang drastis. Namun, ciri fisik yang paling mencolok pada LSD adalah munculnya benjolan-benjolan pada kulit sapi atau kerbau.
Meski terlihat mengerikan secara visual, Hapiludin meminta masyarakat tidak panik. Ia menekankan satu poin penting LSD bukan merupakan penyakit zoonosis (penyakit menular).
“Sama seperti PMK, penyakit ini tidak menular ke manusia. Jadi, daging ternak yang terpapar sebenarnya masih aman untuk dikonsumsi selama melalui proses pemotongan yang benar,” jelasnya.
Perbedaan mendasar lainnya terletak pada cara penularan. Jika PMK sangat masif karena bisa menular melalui udara (airborne) saat kelembaban rendah, LSD lebih bergantung pada keberadaan vektor atau serangga perantara.
Baca Juga: Djokovic Bungkam Sinner di Usia 38, Tiket Final Australia Terbuka Ke-11 di Tangan
“Vektor penularnya adalah nyamuk, lalat, dan caplak. Selama kita bisa mengendalikan populasi serangga ini di sekitar kandang, risiko penularan bisa ditekan,”tambahnya.
Menyikapi masuknya LSD ke Bali, Pemkot Mataram telah melakukan koordinasi lintas sektor bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB dan pihak Karantina. Fokus utamanya adalah pengawasan ketat di pintu-pintu masuk pelabuhan. Dirinya menyebut, Karantina menjadi pintu terdepan dalam memastikan tidak ada ternak pembawa virus yang menyeberang ke Lombok.
“Selama ini, lalu lintas ternak kita lebih banyak berasal dari Pulau Sumbawa untuk dikirim ke Jawa atau Kalimantan. Kita hampir tidak pernah mendatangkan sapi dari Bali. Namun, karena ini virus, kita harus tetap waspada terhadap segala kemungkinan,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret di lapangan, Distan Kota Mataram mulai membagikan brosur edukasi dan memasang spanduk di pasar-pasar hewan. Para penyuluh dan petugas paramedis diterjunkan untuk memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada para peternak.
Baca Juga: Di Balik Program Makan Bergizi Gratis, Status dan Perlindungan Tenaga Kerja Jadi Sorotan
Hapiludin mengimbau peternak untuk segera melapor ke Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) jika menemukan ternak dengan gejala benjol-benjol. Penanganan awal berupa pemberian multivitamin dan antibiotik dianggap krusial untuk mencegah infeksi sekunder dan meningkatkan imunitas ternak agar bisa sembuh secara alami.
“Obat spesifiknya memang hanya vaksin, dan kita sedang mengupayakan ketersediaannya. Namun, kunci utamanya adalah sanitasi. Kebersihan kandang, penyemprotan disinfektan, dan menjaga imunitas sapi adalah langkah mandiri yang bisa dilakukan peternak saat ini agar tidak terjadi kerugian ekonomi yang besar,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang Kepala Distan Kota Mataram Johari mengatakan, untuk Kota Mataram tidak pernah mengimpor atau memasukkan stok sapi atau ternak lainnya dari Bali. Impor biasanya dilakukan dari Pilau Sumbawa saja.
“Kalau kita tidak pernah sampai ke Bali, karena stok dari Sumbawa masih bisa,” katanya.
Editor : Marthadi