LombokPost - Cuaca ekstrem akibat fenomena bibit siklon yang melanda Kota Mataram pada akhir Januari ini menyisakan duka bagi sektor pertanian. Puluhan hektare sawah di wilayah Kecamatan Sekarbela dilaporkan terendam banjir akibat tingginya curah hujan dan jebolnya tanggul air. Kondisi ini mengancam keberlangsungan musim tanam awal tahun 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram Johari mengungkapkan, berdasarkan laporan tim lapangan per 23 Januari 2026, dampak banjir paling signifikan terpantau di Kelurahan Jempong Baru. Ribuan meter persegi hingga belasan hektare lahan milik beberapa Kelompok Tani (Poktan) kini menyerupai danau dadakan.
“Tim kami sudah turun langsung melakukan pendataan. Di Jempong Baru, tepatnya di Poktan Karang Pule I dan II, kondisi tanaman yang baru berumur satu minggu terendam banjir seluas 30 hektare. Ini dipicu oleh tanggul yang jebol,” kata Johari saat ditemui di ruang kerjanya.
Berdasarkan data teknis, Poktan Karang Pule I memiliki Luas Baku Sawah (LBS) sebesar 12,72 hektare dengan area terdampak langsung seluas 2 hektare. Sementara itu, di blok lain pada kelompok yang sama, dari LBS 34,54 hektare, sebanyak 15 hektare dilaporkan terendam.
Kondisi berbeda dialami oleh Poktan Suka Maju, Sinar Terang, dan Kembang Sari. Di wilayah ini, tanaman padi sebenarnya sudah memasuki tahap kuning atau siap panen. Namun, terjangan air membuat tanaman mengalami padi roboh ke tanah.
“Kalau sudah rebah dan terendam air dalam waktu lama, kualitas bulir padi pasti menurun. Hasil panen otomatis anjlok. Untuk Poktan Sinar Terang saja, dari LBS 19,85 hektare, seluas 0,5 hektare sudah terdampak di umur 80 HST (Hari Setelah Tanam)," tambahnya.
Baca Juga: Trading Halt IHSG Dua Hari, Ketua OJK Mahendra Siregar Mundur Bareng Jajaran Pasar Modal
Johari mengakui, bagi petani yang baru saja menyemai bibit, risiko terbesar adalah gagal tumbuh. Bibit yang terendam lebih dari tiga hari biasanya akan membusuk dan mati. Jika hal ini terjadi, petani terpaksa harus melakukan penanaman ulang (replating) yang tentu memakan biaya ekstra.
Disinggung mengenai bantuan bagi petani yang terdampak, Johari menjelaskan hingga saat ini bantuan berupa asuransi Usaha Tani Padi (UTP) masih menjadi tantangan besar di Kota Mataram. Padahal, AUTP merupakan jaring pengaman paling efektif saat terjadi bencana alam seperti banjir.
“Jujur saja, kesadaran ikut asuransi ini masih dalam tahap sosialisasi yang berat. Tantangannya sudah ada sejak lima tahun lalu, petani kita masih banyak yang enggan mendaftar karena merasa belum melihat manfaat langsungnya atau merasa terbebani premi,”akunya.
Ia menyebutkan, data pasti mengenai berapa jumlah petani yang sudah tercover asuransi masih dalam proses rekonsiliasi. Namun, ia tak menampik persentasenya masih sangat rendah.
Baca Juga: Akselerasi Kualitas Pendidikan, IGI NTB dan Lombok Barat Bedah Tuntas Standar Proses 2026
“Ibarat asuransi diri, mereka baru terasa butuh saat musibah datang. Sekarang kami terus berproses agar para petani mau memproteksi lahan mereka melalui UTP," jelasnya.
Sebagai solusi jangka pendek, Dinas Pertanian telah menyusun beberapa langkah taktis. Pertama, bagi lahan yang masih tergenang, pihaknya mendorong penggunaan mesin pompa air untuk menyedot genangan. Kedua, bagi petani yang padinya sudah siap panen namun terdampak banjir, disarankan segera melakukan panen dini guna menyelamatkan bulir padi agar tidak membusuk.
“Untuk yang baru tanam dan mati, kami akan upayakan bantuan bibit kembali jika stok tersedia, sembari menunggu air surut untuk tindakan selanjutnya,” ucapnya.
Terpisah, Kepala Bidang Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram Liswati mengatakan asuransi ini sudah mulai sepi sejak tiga tahun lalu. Dengan hitungan per hektare Rp 180 ribu dengan subsidi dibayarkan 80 persen. Sehingga petani hanya membayar Rp 36 ribu.
“Tapi ini saja susah, karena petani banyakan penggarap dan penyewa,” jelasnya.
Editor : Marthadi