Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Memuliakan “Teman Yatim” di Masjid Jalan Cahaya: Madrasah bagi sang Ibu, Memutus Rantai Buta Huruf Alquran

Sanchia Vaneka • Selasa, 10 Maret 2026 | 22:55 WIB

 

Ibu ibu yang mengikuti belajar quran di masjid jalan cahaya
Ibu ibu yang mengikuti belajar quran di masjid jalan cahaya

LombokPost - Tidak hanya membina teman yatim. Masjid Jalan Cahaya juga mengintegrasikan program pemberdayaan spiritual dan pola asuh bagi para ibu tunggal dari anak yatim untuk memperkuat peran mereka sebagai pilar utama keluarga di tengah himpitan ekonomi.

 

Di salah satu sudut Masjid Jalan Cahaya, suasana terasa begitu khusyuk. Sekelompok ibu-ibu tampak duduk melingkar di atas karpet hijau, menatap lembaran Iqro yang terbuka di hadapan mereka. Jari-jemari mereka yang kasar, perjuangan hidup yang tak kenal lelah, menunjuk huruf demi huruf hijaiyah. Ada yang terbata-bata mengejanya, ada yang tampak bingung, namun tak satu pun dari mereka yang beranjak dari tempatnya.

Mata mereka, yang biasanya menatap tumpukan cucian atau kayu bakar yang siap dijual, berbinar dengan penuh semangat. Semangat untuk bisa membaca ayat-ayat suci Al-Quran, semangat untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. 

Bagi mereka, Al-Quran bukan sekadar buku, tapi adalah petunjuk hidup, sumber ketenangan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

 Baca Juga: Memuliakan ‘Teman Yatim’ di Masjid Jalan Cahaya, Tak Sekadar Sembako, Fokus Bangun Karakter dan Fitrah Anak

Pengelola masjid menyadari betul, ibu adalah pilar utama dalam mendidik anak. Jika sang ibu tidak diperkuat, maka pembinaan terhadap anak yatim tidak akan bisa berjalan secara optimal.

“Kami fokus mengasuh anak yatim, yaitu anak yang ditinggal wafat oleh ayahnya. Ayah adalah pencari nafkah, pelindung keluarga. Saat ayah tiada, ibu seringkali menjadi orang tua tunggal yang memikul beban berat, dengan keahlian yang terbatas,” kata Rozi, Sabtu (7/3). 

Dari total 122  penerima manfaat, sekitar 60 an di antaranya adalah para janda, ibu dari anak-anak yatim yang dibina di Masjid Jalan Cahaya. Mayoritas mereka bekerja serabutan, mulai dari mencari kayu bakar, memulung, menjadi buruh tani, hingga menjadi asisten rumah tangga (ART). Pekerjaan yang melelahkan dengan penghasilan yang pas-pasan, namun harus mereka jalani demi kelangsungan hidup anak-anaknya.

“Namun, setiap hari Jumat, Sabtu, dan Ahad (selama bulan Ramadan), mereka diwajibkan untuk meninggalkan sejenak beban dunia mereka untuk masuk ke Kelas Pengasuhan di Masjid Jalan Cahaya. Kami ingin agar mereka memiliki waktu untuk diri mereka sendiri, untuk ilmu agama dan mendapatkan motivasi hidup,” ucapnya. 

Baca Juga: Baznas NTB Salurkan Santunan kepada Puluhan Anak Yatim Piatu di Desa Dasan Borok Lombok Timur

Tantangan yang dihadapi tidaklah mudah. Banyak dari ibu-ibu ini yang awalnya buta huruf Al-Quran sama sekali. Ada yang sudah bertahun-tahun belajar, namun pencapaiannya baru sampai Iqro tiga. 

“Sangat lambat memang. Ada seorang ibu yang pernah curhat, katanya dia ingin menyerah karena merasa otaknya sudah tumpul dan susah untuk menghafal. Dia merasa malu karena setiap pertemuan pencapaiannya selalu paling rendah,” ucapnya.

Namun, para pengasuh di Masjid Jalan Cahaya, tak kenal lelah untuk terus memberikan motivasi. Prinsip yang ditanamkan sangat sederhana, terbata-bata dalam membaca Alquran adalah pahala ganda. Dan rasa malu yang sebenarnya adalah jika seumur hidup tidak pernah mau untuk belajar, jika seumur hidup menjauh dari petunjuk sang pencipta.

“Itu yang terus kami tanamkan, namanya juga ibu-ibu. Sebagai motivasi mereka,” ujarnya. 

Selain belajar mengaji, para ibu ini juga dibekali dengan ilmu pola asuh atau parenting. Mereka diajarkan bagaimana caranya mendidik anak tanpa kekerasan, bagaimana caranya berkomunikasi dengan baik dengan anak, dan bagaimana caranya mengatur rumah tangga dengan nilai-nilai islami.  

“Kami juga melakukan evaluasi ketat melalui form amalan. Kami mengecek apakah mereka shalat tepat waktu, apakah mereka berpuasa, apakah mereka mendoakan anaknya setiap hari, hingga apakah mereka bersedekah,” terangnya. 

Masjid Jalan Cahaya juga menerapkan sistem insentif yang unik. Kehadiran ibu-ibu ini berbanding lurus dengan paket nutrisi yang mereka terima. Jika kehadiran tidak penuh empat kali sebulan, maka akan ada pengurangan pada komponen paket nutrisi, seperti minyak goreng atau uang amplop.

“Ini bukan soal pelit. Kami ingin agar mereka datang ke masjid karena mereka butuh ilmu, karena mereka ingin memperbaiki hidup mereka. Bukan semata-mata karena mengharap imbalan,” jelasnya. 

 

Editor : Marthadi
#Janda #Mataram #yatim #Masjid Jalan Cahaya #yatim piatu