Di sebuah sudut Galeri Wira Bhakti Mataram, sinar matahari menyelinap masuk memantul di atas butiran mutiara mabe yang berkilau lembut. Di sampingnya, anyaman serat ketak yang rapi dan kain tenun Pringgasela dengan motif garis yang tegas seolah sedang bercerita tentang ketekunan.
----
MEI mendatang, tepatnya tanggal 7 hingga 9 Mei 2026, Balai Kartini Jakarta akan menjadi tempat transformasi peran istri prajurit. Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Koorcabrem 162/Wira Bhakti telah mematangkan langkah untuk unjuk gigi dalam ajang nasional “Persit Bisa” 2026.
Sebuah panggung yang lebih dari sekadar bazar, untuk membuktikan di balik seragam hijau yang rapi, tersimpan jiwa wirausaha yang tangguh. “Ini adalah wadah strategis. Kami ingin menunjukkan bahwa organisasi Persit memiliki ruang kreatif yang nyata. Program ‘Persit Bisa’ memberi kesempatan bagi ibu-ibu untuk menunjukkan potensi terbaik mereka ke tingkat nasional,” kata Endang Sjasul Arief, ketua Persit KCK Koorcabrem 162/Wira Bhakti, Rabu (1/4).
Lombok memang identik dengan keindahan alamnya, namun dalam pameran kali ini, Persit Wira Bhakti ingin membawa jiwa dari pulau tersebut. Salah satu bintang utamanya adalah tas ketak.
Baca Juga: 6 Kasus Kekerasan Anak di Mataram Tuntas, DP3A Ungkap Modus
Jika tahun lalu tas ini sudah menyabet predikat juara favorit, tahun ini mereka melakukan inovasi dengan memadukan anyaman ketak yang organik dengan kemewahan mutiara mabe (setengah bulat). Perpaduan ini menciptakan kesan mewah namun tetap membumi.
Endang menegaskan aspek kurasi menjadi kunci. Persit Pusat memberikan standar tinggi, dan produk-produk dari NTB berhasil lolos dengan catatan istimewa pada beberapa tema unggulan.
Selain ketak, kain tenun Pringgasela yang legendaris dan mutiara air laut khas Lombok tetap menjadi pilar utama di tiga stand yang akan mereka isi nanti. “Kami menjaga kualitas barang dan eksklusivitas. Setiap karya yang kami tampilkan memiliki nilai khas, bahkan banyak yang limited edition,” tambahnya sembari menunjukkan detail tas ketak yang telah dipoles sempurna.
Ada yang berbeda dari konsep pameran Persit Wira Bhakti tahun ini. Mereka tidak ingin pengunjung hanya datang, melihat, dan membeli.
Lebih dari itu, mereka membawa pengalaman interaktif. Pengunjung Balai Kartini nantinya akan disambut oleh derak suara alat tenun tradisional.
Baca Juga: RSUD Ruslan Hadirkan ICU Hyperbaric, Satu-satunya di Indonesia Timur
Persit 162/Wira Bhakti sengaja memboyong langsung perajin tenun beserta alat-alatnya dari Lombok. Pengunjung bisa menyaksikan bagaimana helai demi helai benang disusun menjadi kain yang bernilai seni tinggi.
Di samping itu, para persit akan menunjukkan salah satu warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat adalah Tenun Pringgasela. Sebuah kain tradisional khas Suku Sasak yang berasal dari Desa Pringgasela, Lombok Timur.
Salah satu pelaku UMKM yang terus berupaya melestarikan warisan budaya tersebut adalah Ny. Nukman. Ia pengelola UMKM Tenun Pringgasela yang juga merupakan anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIX Koorcab Rem 162 PD IX/Udayana.
Melalui usaha yang dikelolanya, Ny. Nukman tetap mempertahankan proses pembuatan tenun secara tradisional. Komitmen ini tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga menjaga nilai budaya yang terkandung dalam setiap helai kain.
Keberhasilan meloloskan produk ke tingkat nasional ini bukan kerja semalam. Semua bermula dari Galeri Wira Bhakti, sebuah wadah promosi dan pembinaan yang telah berjalan lebih dari satu tahun di tingkat Koorcabrem.
Tak berhenti di situ, pencinta perhiasan juga bisa melakukan kustomisasi. Ada perajin mutiara yang siap merangkai desain sesuai keinginan pengunjung secara live.
“Konsep ini kami hadirkan untuk memperkuat nilai keaslian. Kami ingin pengunjung merasakan kedekatan emosional dengan produk yang mereka beli,” jelasnya. (chi/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin