LombokPost - Capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Mataram sepanjang tahun 2025 tercatat masih jauh dari target yang ditetapkan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram, realisasi skrining kesehatan masyarakat tersebut baru menyentuh angka 12,18 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr.
Emirald Isfihan mengungkapkan, dari total target sasaran sebanyak 448.775 jiwa pada tahun 2025, jumlah warga yang terlayani baru mencapai 161.559 jiwa. “Memang capaian kita di 2025 masih lumayan rendah, di bawah 13 persen seperti yang dipersyaratkan,” kata dr. Emirald, Senin (13/4).
Capaian tersebut diakui masih rendah akibat kendala distribusi sumber daya dari pemerintah pusat. Angka yang berada di bawah ambang batas persyaratan pusat ini menjadi catatan evaluasi serius bagi jajarannya untuk memasuki tahun anggaran 2026.
“Persoalannya kemarin ada pada ketersediaan sumber daya yang berasal dari pemerintah pusat yang sempat terhambat,” terangnya.
Rendahnya capaian ini memicu Dikes untuk melakukan perombakan strategi secara total. dr. Emirald menyadari, mengandalkan pola pelayanan pasif di mana petugas menunggu masyarakat datang ke Puskesmas tidak akan efektif mengejar ketertinggalan data kesehatan warga.
Hal ini berkaca pada pengalaman tahun 2025 yang menunjukkan antusiasme kunjungan mandiri ke fasilitas kesehatan masih cukup berat. Sebagai bentuk komitmen memperbaiki rapor merah tersebut, dr. Emirald menegaskan pada tahun ini, pihaknya tidak akan lagi bergantung sepenuhnya pada pendanaan pusat.
Baca Juga: Lolos di Australia hingga PTN Ternama: Intip Strategi Nike Aina Jaga Rapor Sejak Kelas 10!
Optimalisasi dana dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) akan menjadi tumpuan utama guna mendanai aksi-aksi lapangan yang lebih masif. “Kita tidak ingin mengulangi kendala yang sama. Di tahun 2026 ini, kita upayakan berjalan dengan mengoptimalkan peran dan pendanaan BLUD, di samping tetap berkoordinasi dengan pemerintah pusat,” tegasnya.
Ia menginstruksikan jajarannya untuk mengepung setiap keramaian publik, mulai dari kegiatan di Jalan Udayana hingga acara-acara kemasyarakatan lainnya. Fokus utamanya adalah memperluas screening kesehatan secara menyeluruh, bukan sekadar layanan seremonial.
Tantangan di tahun 2026 dipastikan akan lebih berat karena target sasaran meningkat menjadi 451.323 jiwa. Namun, dr. Emirald optimis dengan sistem pemeriksaan yang disisipkan dalam setiap agenda eksternal, pendataan kondisi kesehatan warga
akan jauh lebih akurat dan mencakup semua lapisan.
“Penting bagi kita untuk mengetahui profil kesehatan warga secara real-time. Jika ditemukan risiko tinggi, mereka langsung masuk prioritas penanganan rutin. Target ini akan kami pantau ketat setiap triwulan agar tidak lagi meleset seperti tahun sebelumnya,”pungkasnya. (chi/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin