LombokPost - Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram memasang kuda-kuda menghadapi ancaman musim kemarau ekstrem atau yang dikenal dengan fenomena Godzilla El Nino tahun 2026. Langkah mitigasi ini merujuk pada Instruksi Menteri Pertanian melalui Surat Nomor B-73/TI.050/M/03/2026 yang menekankan penguatan ketahanan pangan di tengah cuaca ekstrem.
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram Johari mengungkapkan, pihaknya telah memetakan sejumlah langkah strategis memastikan produksi pertanian tetap terjaga meskipun dibayangi kekeringan panjang. Salah satu fokus utamanya optimalisasi lahan dan percepatan masa tanam.
“Kami tidak ingin kecolongan dengan adanya potensi kemarau panjang tahun ini. Untuk Mataram, kami mendorong petani segera melakukan percepatan tanam di lokasi yang pengolahan tanahnya sudah selesai selagi sisa air hujan masih tersedia,” kata Johari, Rabu (22/4).
Selanjutnya, sesuai dengan arahan pusat, Distan akan melakukan mapping wilayah langganan kekeringan dan membangun early warning system. Berdasarkan data Dinas Pertanian, Luas Baku Sawah (LBS) tahun 2026 tercatat sebesar 1.178,69 hektare.
Dari luasan tersebut, hingga posisi 6 April 2026, Luas Tanam telah mencapai 924,44 hektare dengan Luas Panen sebesar 895,80 hektare. Johari menyebutkan, selisih lahan yang belum ditanam inilah yang menjadi prioritas segera diintervensi sebelum debit air menurun drastis.
Selain percepatan tanam, pemilihan varietas benih menjadi kunci keberhasilan menghadapi Godzilla El Nino. Johari menghimbau para petani beralih menggunakan varietas padi yang tahan kekeringan atau yang memerlukan sedikit air (genjah).
“Kami arahkan petani menanam varietas seperti Inpari 32, Ciherang, atau varietas unggul lain yang direkomendasikan seperti Inpari 38-46 dan Situbagendit. Varietas ini lebih tangguh terhadap cekaman air,” jelasnya.
Dari sisi infrastruktur, Distan tengah melakukan pembersihan dan perbaikan saluran irigasi di berbagai wilayah. Pihaknya juga memetakan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan paling parah untuk segera diajukan bantuan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) terkait Irigasi Pompa (IrPom) dan sistem perpipaan.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan memantau kondisi lahan pertanian secara real-time,” tambahnya.
Baca Juga: Minyakita Raib di Ritel Modern, Disdag Mataram Segera Panggil Distributor Soal Stok yang Seret
Johari berharap, dengan langkah preventif yang terukur, dampak dari fenomena iklim ekstrem bisa diminimalisir. Pengaturan pola tanam yang sesuai dengan ketersediaan air di masing-masing wilayah diharapkan menjaga stabilitas stok pangan dan kesejahteraan petani.
“Kuncinya adalah sinergi. Kami minta petani aktif melaporkan kondisi di lapangan agar mitigasi bisa segera dilakukan sebelum terjadi puso atau gagal panen,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala BPBD Kota Mataram Budi Wartono mengungkapkan, ancaman anomali cuaca jangka panjang sudah mulai terjadi. “Kami mendapatkan informasi dari BMKG Pusat mengenai prediksi fenomena baru ini. Godzilla El Nino sebenarnya menggambarkan skala El Nino yang jauh lebih besar dan akumulasinya lebih kuat dari biasanya,” kata Budi. (chi/r9)