LombokPost — Upaya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram menuntaskan persoalan tumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Bintaro menunjukkan hasil signifikan. Gunungan sampah yang sebelumnya disebut mencapai puluhan ribu ton, kini nyaris habis terkuras.
Pemandangan beberapa bulan terakhir identik dengan tumpukan sampah menggunung perlahan berubah. “Sisa sampah kini hanya tinggal sedikit,” kata Kepala DLH Kota Mataram Denny Nizar Cahyadi, Selasa (21/4).
Sebelumnya penumpukan itu disebabkan penutupan akses ke TPA Regional Kebon Kongoq. Berangsur dibuka kembali akses tidak serta merta membuat sampah yang ditimbun di lokasi itu terkuras cepat.
Keterbatasan armada dan produksi sampah setiap hari warga kota, membuat penanganan membutuhkan manajerial maksimal. Belum lagi, pemberlakuan pembatasan ritase armada sampah yang dibatasi.
Namun kegigihan DLH akhirnya membuahkan hasil. Sampah terkuras menandai keberhasilan kerja intensif.
Denny mengakui proses penanganan bukan pekerjaan singkat. Setiap hari, pengangkutan dilakukan secara gotong-royong dengan intensitas tinggi.
“Setiap hari sekitar dua ritase kita fokuskan di sana. Itu berjalan lebih dari satu bulan untuk bisa menguras tumpukan yang ada,” ujarnya.
Menariknya, proses pembersihan dilakukan tanpa menghentikan pelayanan sampah harian. DLH menerapkan skema TPS mobile menampung sampah reguler masyarakat.
Sementara tumpukan lama dikuras secara paralel. “Jadi aktivitas pelayanan tetap jalan. Sampah baru kita tangani dengan TPS mobile, sementara yang lama kita selesaikan bertahap,” jelasnya.
Keberhasilan ini menjadi catatan penting, mengingat volume sampah yang ditangani bukan dalam skala kecil. Tumpukan yang selama ini menjadi persoalan akhirnya bisa dituntaskan.
Baca Juga: Anggaran BBM Ludes 3 Bulan Lagi, Mataram Terancam Dikepung Sampah Akibat Dexlite Mahal
Tak hanya di Bintaro, pola penanganan serupa juga diterapkan di TPS Lawata, Gomong. Sebelumnya TPS itu mengalami kondisi serupa.
“Lawata juga berhasil kami kendalikan,” terangnya.
Namun pekerjaan belum selesai. DLH kini mengalihkan fokus ke TPS Sandubaya.
Diperkirakan memiliki timbunan sampah lebih dari 15 ribu ton. “Target kami sekitar satu bulan sampai satu bulan setengah sudah bisa clear,” katanya.
Meski begitu, ia mengakui ada tantangan di lapangan. Terutama terkait operasional armada akibat kenaikan harga bahan bakar jenis solar.
“Pasti berpengaruh ke produktivitas. Biaya operasional naik hampir dua kali lipat. Tapi tetap kita kebut,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Denny tetap menjaga ritme kerja agar penanganan tidak terhenti. Strategi penyesuaian terus dilakukan agar target tetap tercapai.
Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram Abd Rachman, mengapresiasi langkah DLH berhasil mengurai tumpukan sampah di TPS Bintaro dalam waktu relatif singkat. Menurutnya, capaian ini menunjukkan kerja lapangan yang lebih terarah dan konsisten dibanding sebelumnya.
“Artinya ada progres nyata dalam penanganan persoalan yang selama ini cukup lama menjadi keluhan masyarakat,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar keberhasilan tidak berhenti pada penanganan sesaat. DLH diminta memastikan sistem pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan, termasuk manajemen ritase, serta kedisiplinan masyarakat membuang sampah.
“Yang penting sekarang bagaimana menjaga supaya tidak kembali menumpuk,” tegasnya. (zad/r9)
Baca Juga: Disiplin Retribusi Sektor Wisata Mataram Mulai Ditegakkan
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin