Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Multi-Peran Lale Rasminingsih: Menjaga Ritme Protokol Provinsi dan Marwah Istri Sekda Kota

Sanchia Vaneka • Kamis, 23 April 2026 | 10:59 WIB
Lale Rasminingsih
Lale Rasminingsih

  

Emansipasi bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan keberanian untuk terus belajar. Bagi Lale, pengabdian sebagai ASN dan istri Sekretaris Daerah merajut tugas birokrasi, tanggung jawab organisasi, dan kehangatan peran ibu rumah tangga.
 
---
 
 
SEJAK lahirnya Kota Mataram pada tahun 1993, Lale Rasminingsih sudah meniti karir sebagai aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. Di bawah kepemimpinan enam gubernur berbeda, Lale mengasah kemampuan mulai dari Biro Umum, kemudian sekarang di bidang keprotokolan.

Dunia yang ia geluti selama puluhan tahun adalah dunia pelayanan. Memastikan setiap agenda pimpinan berjalan sempurna tanpa cela.
 
Namun, roda nasib membawa tantangan baru ketika sang suami, Lalu Alwan Basri, diamanahkan menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram. Secara ex-officio, jabatan itu menitipkan amanah besar di pundak Lale menjadi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Mataram.
 
“Waduh, berbeda sekali antara tugas saya di provinsi dengan di sini,” ujar Lale saat ditemui dalam momentum peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4). 
 
Jika di protokol ia terbiasa dengan pakem dan aturan kaku melayani pimpinan, di organisasi wanita, ia menjadi sosok yang dituakan. Ada kontras yang nyata. 

Dari sosok yang melayani, kini menjadi sosok yang menggerakkan dan dalam tanda kutip, “dilayani”. Namun, Lale tak ingin terlena dengan fasilitas.

Menurutnya, perpindahan ini adalah masa stres tingkat tinggi sekaligus ruang belajar yang luas. Ia harus menyelami isu-isu yang sebelumnya tak pernah ia sentuh di keprotokolan.

Mulai dari intervensi stunting hingga kolaborasi lintas OPD demi menyukseskan program pemerintah kota. “Saya harus belajar lagi. Ilmu organisasi itu kelihatannya simpel, tapi tanggung jawabnya besar. Di sini saya belajar bagaimana berinteraksi langsung dengan masyarakat dan pengurus organisasi,” jelasnya dengan nada rendah hati.
 
Semangat Kartini dalam diri Lale terpancar dari kemampuannya mengelola multi-peran. Sebagai ibu dari dua anak, ia menyadari tantangan zaman sekarang jauh berbeda dengan era dulu. 

Batasan bagi anak-anak kini kian pudar oleh arus informasi. Kuncinya, menurut Lale, komunikasi yang terbuka dan pemanfaatan media digital secara bijak untuk tetap memantau buah hati di tengah padatnya aktivitas.

 

Baca Juga: Efek Jera! Dispar Mataram Segel Lapak di Loang Baloq, Tunggakan Rp 450 Ribu Langsung Lunas
 
Bagi Lale, menjadi Kartini di era modern berarti memiliki keberanian keluar dari zona nyaman. Ia menunjukkan, latar belakang sebagai pelayan pimpinan justru menjadi modal kuat berkomunikasi dengan para pejabat dan tokoh masyarakat di Kota Mataram. 

Tidak ada kata kaku. Yang ada adalah keluwesan dalam merajut program kerja.
 
Menutup perbincangan, Lale memberikan pesan singkat namun mendalam bagi seluruh perempuan. “Semangat saja. Momentum Hari Kartini ini kita gunakan untuk banyak belajar dan bekerja sama. Apapun peran kita, berikan kontribusi yang bermanfaat bagi kota ini,” pungkasnya. (*/r9) 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #kartini di Mataram #Lale Rasminingsih