Saat banyak pemain lama telah tiada, Masnun masih bertahan menjaga cerita lama tetap hidup. Menjaga dengan sepenuh hati dan ketulusan memuliakan kearifan seni.
---
SUARA tembang Sasak itu masih akrab di telinga Masnun. Meski usianya tak lagi muda, ingatannya tentang panggung-panggung Drama Cupak Gerantang Dasan Agung masih tersimpan jelas.
Tentang sorot lampu sederhana. Tentang gamelan yang mulai ditabuh. Tentang penonton yang duduk berdesakan hingga larut malam.
“Dulu orang rela duduk sampai tengah malam hanya untuk menonton Cupak Gerantang,” kata Masnun pelan, Minggu (24/5).
Nama Masnun bukan nama asing dalam dunia seni tradisional Sasak. Ia adalah salah satu dari sedikit pemain klasik Cupak Gerantang yang masih hidup hingga hari ini.
Sejak 1985, ia mulai naik panggung bersama kelompok Drama Cupak Gerantang Dasan Agung. Selama hampir dua dekade, hingga 2001, ia memerankan tokoh Patih Mangkubumi.
Sebuah karakter penting yang tak sekadar membutuhkan kemampuan akting, tetapi juga penguasaan bahasa halus Sasak dan kewibawaan di atas panggung. “Kalau main Cupak Gerantang itu bukan sekadar hafal dialog. kita harus tahu adab bicara, intonasi, sampai makna petuahnya,” ujarnya.
Cupak Gerantang sendiri merupakan salah satu drama tradisional paling dikenal di Lombok. Cerita itu menggambarkan dua watak manusia.
Baca Juga: Ketuk Palu di Bali! Kota Mataram Resmi Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Akbar APEKSI 2027
Cupak melambangkan keserakahan dan tipu daya. Sementara Gerantang menjadi simbol kesatriaan dan kejujuran.
Di tengah masyarakat Sasak tempo dulu, pertunjukan itu lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi ruang menyampaikan nasihat hidup.
“Orang tua dulu belajar banyak dari teater tradisional. Ada pesan moral, ada pendidikan sopan santun,” kata Masnun.
Namun zaman perlahan berubah. Televisi masuk ke rumah-rumah. Anak muda mulai mengenal hiburan modern. Panggung tradisional perlahan kehilangan penonton.
Masnun menyadari perubahan itu. Alih-alih berhenti, ia memilih mencari jalan lain agar cerita rakyat Sasak tetap hidup.
Awal 2000-an, ia mulai masuk ke dunia sinematografi lokal. Dari tahun 2002 hingga 2006, ia menggarap film lokal Lombok seperti Dote si Anak Iwok dan Lantaran Ringgit yang sempat populer di Lombok TV.
Kali ini ia tak hanya menjadi pemain. Ia berdiri di belakang layar sebagai sutradara sekaligus penulis naskah.
“Kalau panggung mulai sepi, berarti ceritanya yang harus mencari panggung baru,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Menurutnya, film lokal menjadi cara baru memperkenalkan budaya Sasak kepada generasi muda yang mulai jauh dari seni tradisional. Ia banyak memasukkan realitas sosial masyarakat Lombok ke dalam naskah-naskahnya.
Baca Juga: Tak Lagi di Mataram, Launching MotoGP 2026 Diboyong ke Jakarta
Tentang keluarga. Tentang kemiskinan. Tentang adat. Tentang kehidupan kampung yang dekat dengan keseharian masyarakat.
“Seni itu cara kita menjaga identitas. Kalau cerita lokal hilang, lama-lama orang juga lupa siapa dirinya,” katanya.
Kini Masnun tinggal di Desa Dasan Geria, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Di usianya yang semakin senja, ia masih aktif di dunia seni budaya.
Ia menjadi salah satu pengurus Padepokan Lingsiir, sebuah ruang belajar seni tradisional bagi anak-anak muda. Di sana, generasi muda diajarkan tembang Sasak, Pembayun, aksara Sasak, hingga teater tradisional.
Bagi Masnun, menjaga budaya tak cukup hanya dengan nostalgia. Harus ada pewaris yang melanjutkan.
Di tengah derasnya budaya digital dan hiburan modern, Masnun tetap berdiri sebagai penjaga panggung lama yang belum benar-benar selesai.
“Kalau anak muda tidak dikenalkan dari sekarang, nanti seni tradisional tinggal cerita saja,” ujarnya. (*/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin