LombokPost – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H. Moh. Ruslan Kota Mataram mulai menggencarkan edukasi penanganan stroke sejak usia sekolah. Melalui program “Bestie Stroke” atau Bersama Siswa Tingkatkan Edukasi STROKE.
Program tersebut menyasar siswa SMP dan SMA di Kota Mataram. “Agar mereka mampu mengenali gejala stroke sejak dini sekaligus menjadi penyambung informasi di lingkungan keluarga masing-masing,” kata Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp.F.E.R., M.Kes., M.Sc, Senin (25/5).
Ia mengatakan, stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Karena itu, kesadaran masyarakat terhadap gejala awal stroke harus dibangun sedini mungkin.
“Termasuk di kalangan remaja,” tegasnya.
Ia menjelaskan periode emas penanganan stroke itu kurang dari 4,5 jam sejak gejala muncul. “Kalau terlambat, risikonya bisa menyebabkan kerusakan otak permanen, kecacatan bahkan kematian,” ujarnya.
Melalui program tersebut, siswa diperkenalkan metode “SeGeRa Ke RS” untuk mengenali tanda-tanda stroke secara cepat. Metode itu akronim dari Senyum tidak simetris, Gerak separo tubuh melemah, bicara pelo, Kebas atau kesemutan, Rabun pandangan, hingga Sakit kepala hebat.
Menurut dr. Eka, siswa dipilih karena dinilai memiliki kemampuan menyerap sekaligus menyebarkan informasi dengan cepat. Terutama kepada keluarga di rumah yang masuk kelompok usia rentan stroke seperti orang tua maupun lansia.
“Harapannya siswa bisa menjadi agen perubahan di rumah masing-masing. Ketika melihat gejala stroke pada keluarga, mereka tahu apa yang harus dilakukan dan segera membawa pasien ke rumah sakit,” katanya.
Program Bestie Stroke dijadwalkan berlangsung selama April hingga Juni 2026 dengan sasaran 12 sekolah di Kota Mataram. Untuk tingkat SMA, sekolah sasaran meliputi SMA Negeri 1, 2, 4, 5, dan 7 Mataram serta MAN 2 Model Mataram.
Baca Juga: Bukan Cuma Garuk di Jalanan, Dinsos Mataram Kini Obati Mental dan Spiritual Para Gepeng
“Sementara tingkat SMP menyasar SMP Negeri 2, 7, 10, 12, 17 Mataram dan MTsN 2 Mataram,” jelasnya.
Kegiatan sosialisasi dilakukan dua kali dalam sepekan dengan pendekatan interaktif berbasis edutainment. Siswa tidak hanya mendapatkan materi medis melalui presentasi dan diskusi, tetapi juga simulasi penanganan stroke melalui role play hingga latihan melakukan panggilan darurat layanan medis.
Selain itu, peserta juga akan mendapatkan media edukasi berupa stiker kampanye “SeGeRa Ke RS” yang diharapkan bisa dibawa pulang dan ditempel di rumah masing-masing. RSUD Ruslan juga menyiapkan social media challenge berbasis Instagram untuk memperluas kampanye kesadaran stroke di kalangan generasi muda.
“Remaja sekarang lebih responsif terhadap pendekatan visual dan media sosial. Jadi kita kombinasikan edukasi kesehatan dengan pendekatan kreatif supaya lebih mudah diterima,” jelasnya.
Program tersebut melibatkan dokter umum, perawat, serta tenaga kesehatan lain sebagai narasumber. Evaluasi kegiatan direncanakan berlangsung pada Mei 2026 sekaligus penilaian kampanye media sosial terbaik dari para siswa peserta.
RSUD Ruslan sebelumnya telah mendapatkan pengakuan internasional dari World Stroke Organization atas kualitas layanan penanganan stroke yang dimiliki rumah sakit tersebut. Melalui program Bestie Stroke, RSUD berharap edukasi mengenai gejala stroke tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah, tetapi dapat menyebar lebih luas ke masyarakat melalui peran aktif para pelajar.
“Semakin cepat stroke dikenali, semakin besar peluang pasien untuk selamat dan terhindar dari kecacatan,” tutupnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin