Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Uji Coba di 6 Puskesmas, Warga Kota Mataram Bakal Rasakan Manfaat Sistem Pemantauan Gizi Digital

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 4 Juni 2026 | 16:59 WIB
Kolaborasi Dinas Kesehatan Kota Mataram dengan Summit Institute for Development dalam menekan angka stunting. (DOK. DIKES)
Kolaborasi Dinas Kesehatan Kota Mataram dengan Summit Institute for Development dalam menekan angka stunting. (DOK. DIKES)

 

LombokPost - Kota Mataram menjadi salah satu daerah yang dipilih sebagai lokasi implementasi awal program SMART Multiple Micronutrient Supplementation (SMART MMS), sebuah penelitian kesehatan ibu hamil berskala besar yang digelar di Pulau Lombok. Melalui program tersebut, Mataram diharapkan menjadi bagian dari model penguatan pencegahan stunting, bayi berat lahir rendah, dan kematian bayi yang nantinya dapat diterapkan secara lebih luas.

Chief Operation Officer Summit Institute for Development (SID) Lia Rosida, mengatakan SMART MMS merupakan bagian dari persiapan implementasi Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) yang saat ini telah menjadi kebijakan global dan telah diadopsi oleh Kementerian Kesehatan RI. "Implementasi MMS masih dalam tahap persiapan di berbagai daerah. Karena itu studi SMART MMS ini menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan daerah, termasuk Kota Mataram, agar lebih siap mengimplementasikan program MMS secara optimal ke depan,” ujarnya, Selasa (3/6/2026). 

Di Kota Mataram, program tersebut akan dijalankan di enam puskesmas, yakni Puskesmas Karang Pule, Dasan Agung, Mataram, Cakranegara, Tanjung Karang, dan Pejeruk. Keenam puskesmas itu menjadi bagian dari 60 puskesmas di Pulau Lombok yang terlibat dalam penelitian dengan total sasaran mencapai 12 ribu ibu hamil.

Menurut Lia, salah satu tantangan terbesar dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu hamil bukan hanya menyediakan suplemen, tetapi memastikan suplemen tersebut benar-benar dikonsumsi secara rutin. Karena itu SMART MMS menggabungkan pendekatan pemberian mikronutrien dengan sistem pemantauan dan edukasi berbasis digital.

“Keberhasilan MMS sangat bergantung pada kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsinya. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal diperlukan tingkat kepatuhan minimal 75 persen. Karena itu kami ingin melihat bagaimana teknologi digital dapat membantu meningkatkan kepatuhan tersebut,” katanya.

Bagi Kota Mataram, keterlibatan dalam program ini memberikan peluang memperkuat berbagai upaya pencegahan stunting yang selama ini telah dilakukan pemerintah daerah. Selain memperoleh dukungan riset dan pendampingan, tenaga kesehatan di puskesmas juga akan terlibat dalam pengembangan model pelayanan yang lebih efektif untuk ibu hamil.

Lia menjelaskan, Pulau Lombok memiliki sejarah panjang dalam penelitian kesehatan ibu dan anak. Pada periode 2000 hingga 2004, Lombok menjadi lokasi Large Scale SUMMIT Trial yang menghasilkan temuan penting terkait manfaat MMS.

“Penelitian sebelumnya menunjukkan penurunan angka kematian bayi hingga 18 persen dan juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan kognitif anak. Karena itu Lombok kembali dipilih untuk melanjutkan pengembangan inovasi ini,” jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan program di Kota Mataram nantinya tidak hanya bergantung pada tim peneliti, tetapi juga pada dukungan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan tenaga kesehatan yang berinteraksi langsung dengan ibu hamil.

“Dukungan pemerintah daerah sangat penting agar program ini berjalan sesuai kondisi masyarakat setempat dan nantinya dapat terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan yang sudah ada,” ujarnya.

Melalui keterlibatan dalam SMART MMS, Kota Mataram diharapkan tidak hanya menjadi lokasi penelitian, tetapi juga menjadi salah satu daerah yang lebih siap menerapkan intervensi berbasis bukti untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Hasil penelitian tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengembangan program serupa di berbagai daerah di Indonesia.

“Kami berharap melalui studi ini dapat lahir model inovasi yang efektif dan dapat direplikasi secara lebih luas, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan di Mataram atau Lombok, tetapi juga di daerah lain,” pungkas Lia.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #penanganan stunting #ibu hamil mataram #inovasi kesehatan