Jelang hari raya nyepi, tak hanya patung-patung Bhuta Kala pamer taring dan wajah menyeramkan. Tapi pintu rumah juga dihiasi Sanggah Cerucuk yang mampu mengalau energi jahat!
LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram
=================================
POHON-pohon beringin berbaris di tepi jalan. Berdiri kokoh menghadang cahaya surya yang terik, menyengat. Semilir angin berhembus serupa bisikan pelan. Membakar semangat bertahan tak mudah menyerah. Jangan pula patah tumbang, terkapar tak berdaya!
Di salah satu pojok lapak bunga. Made Langkir berdiri tenang. Tangannya telaten menjumput beberapa kembang setaman. Lalu dimasukan dalam kantong-kantok plastik transparan.
Keyakinan Langkir tak pernah lekang. Hari Raya Nyepi selalu datang dengan berjuta kebaikan. “Naik keuntungan berkali-kali lipat,” ujar Langkir, penuh harap.
Siang boleh saja sangat terik bagi orang lain. Tapi bagi Langkir dan Istrinya Wayan Wugu percaya, itu cahaya energi dan semangat. Dari para dewata agung yang mulai menebar banyak kebaikan jelang hari raya Nyepi.
“Ya ini kan hari raya sekali setahun datangnya. Pasti kita sambut dengan perasaan senang dan bahagia,” imbuhnya.
Belasan Sanggah Cerucuk-ada pula menyebut Cucuk-terjejer rapi di sisi timur lapak. Belum dihiasi Ceniga karena dijual terpisah. Kalau cari yang dihiasi lengkap, harganya tentu disesuaikan. Sekalipun begitu jarang ada pembeli yang mau tawar-tawar.
Tempat persembahan yang bagus dan indah jauh lebih penting. Dari pada sibuk menawar harga yang masih terhitung masuk akal. “Ini untuk menyapu segala keburukan,” terang Langkir.
Tak hanya menyapu keburukan. Sanggah Cerucuk serupa penala kebaikan. Bagi Langkir perlengkapan persembahayangan itu tak hanya membawa untung. Tapi membawa energi kebaikan berkumpul di lapaknya.
“Bahagia jualan perlengkapan seperti ini, rasanya dekat dengan kebaikan Dewata,” imbuhnya.
Sanggah Cerucuk mungkin sudah sangat akrab bagi umat Hindu, Bali. Sanggah ini memang tidak bisa dipisahkan dengan Upacara di Agama Hindu. Sanggah sendiri bermakna penopang. Sedangkan Cerucuk artinya pemucuk atau puncak.
Perlengkapan ini untuk upasaksi. Dari pelaksanaan ritual bhuta yadnya. “Khususnya pecaruan,” imbuhnya.
Semua umat Hindu pasti memasang benda ini. Di pekarangan rumah atau sebelah pintu masuk rumah. Hadirnya Sanggah Cerucuk ini ada kaitannya dengan tawur agung kesanga. Tawur bermakna membayar hutang. Pada siapa?
Pada, Bhuta Kala. Di dalam Tri Rna termasuk hutang pada dewa Rna. Dari hutang ini perlu dilaksanakan bhuta yadnya. Tujuannya agar energi-energi negatif dari para bhuta kala supaya tidak menganggu umat manusia di dunia. Begitulah penjelasan dari beberapa literatur umur.
“Sanggah itu ada telinga. Adapula tempat taruh arak dan brem. Selain itu dihiasi juga dengan Ceniga, dan hiasan lainnya,” jelasnya.
Jadi jelas sudah. Itu, bukan hiasan semata. Namun simbol penyucian. Dari energi jahat yang mengintai sebuah rumah. Satu Sanggah Cerucuk lengkap dengan Ceniga dijual Langkir dengan harga Rp 100 ribu. Jelang nyepi, permintaan bisa lebih dari 100 buah Sanggah Cerucuk.
“Masyarakat biasanya mulai pasang paling tidak, setelah pawai ogoh-ogoh,” terangnya.
Benda itu jadi sombol penghuninya telah ‘dijaga’ dari segala macam marabahaya. Menghadirkan rasa damai di dalam kelengangan suasana nyepi. Sehingga lebih mudah untuk merenungi perjalanan hidup di dunia selama ini.
Pasar perlengkapan Hindu di Karang Jasi termasuk yang lengkap menyediakan itu semua. Pesanan Sanggah Cerucuk tidak hanya datang dari sekitar Kota Mataram.
“Ada juga dari, Lombok Tengah atau Lombok Utara, banyak yang pesan di dari sini,” kisahnya.
Berjalan-jalan di pasar kelengkapan persembahayangan umat Hindu Karang Jasi, seperti menghadirkan wajah indah kota yang lain. Betapa, heterogennya keyakinan, tak membuat perbedaan justru semakin meruncing. Sebaliknya mengokohkan persaudaraan, sesama umat bergama di ibu kota.
Karang Jasi, sampai saat ini berhasil menghadirkan wajah Bali yang indah dan alami di bumi Mataram. Lengkap dengan karakter masyarakat yang ramah dan murah tersenyum.
“Semoga kita selalu dalam kebaikan dan lindungan Sang Maha Pencipta,” kata Langkir mengakhiri ceritanya seraya tesenyum ramah. (*/r5)
Editor : Administrator