Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Earth Hour 2019 di Mata Masyarakat Ibu Kota Mataram

Administrator • Selasa, 2 April 2019 | 09:40 WIB
DEMI BUMI: Sejumlah komunitas pecinta lingkungan beratraksi saat acara Earth Hour atau Jam Bumi di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram Sabtu malam (30/3).
DEMI BUMI: Sejumlah komunitas pecinta lingkungan beratraksi saat acara Earth Hour atau Jam Bumi di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram Sabtu malam (30/3).

Usia kampanye ini hampir 12 tahun. Mengajak warga lebih peduli dan ramah pada bumi. Tapi kampanye lebih satu dekade itu, belum efektif mengajak sebagian besar warga kota. Apa yang salah?


LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram


===================================


PAGAR melingkar di Taman Sangkareang. Membatasi kegiatan Earth Hour 2019 para pecinta lingkungan. Di luar pagar, suara bedengung hingga lagu anak-anak dari odong-odong memecah malam. Dua sisi aktivitas yang kontras. Masing-masing punya jalan cerita yang berbeda.


Bahkan ketika lampu listrik dipadamkan. Para pecinta lingkungan menikmati kedamaian dalam kegelapan. Riuh rendah dan nyanyian dari balik pagar, tetap memecah keheningan malam. Lengkap dengan lampu dengan watt tinggi, kokoh menghadang gelap.


“Mati lampu ya, kok di sini nggak?” gerutu Sinta Pradevi, salah satu pengunjung yang asyik menonton dari balik pagar.


Kampanye Earth Hour bertahun-tahun sudah didengungkan. Tapi, belum efektif mengajak masyarakat kompak mematikan lampu di jam bumi itu. Saat lampu listrik dipadamkan, kegelapan hanya terlihat di kantor wali kota dan area tempat para pecinta lingkungan beracara.


“Kalau kita ikut matikan lampu, bagaimana mau jualan?” kata Sumiati, salah satu PKL di taman Sangkareang.


Earth Hour bukan semata tentang mematikan lampu selama satu jam. Lebih dari itu, tentang bagaimana memperlakukan bumi dengan lebih baik dan ramah.


Perayaan Earth Hour adalah gerakan global. Mengajak individu, komunitas, praktisi bisnis, dan pemerintahan di seluruh dunia mematikan lampu dan alat elektronik selama 1 jam. Gerakan yang dimulai di Sydney, Australia pada 2007 silam ini merupakan gerakan akar rumput.


Tujuannya melindungi lingkungan dan menginspirasi jutaan orang untuk peduli serta mengambil tindakan bagi planet kita dari ancaman perubahan iklim.


“Ya bagus tujuannya, tapi biar sudah itu jadi kegiatan mereka,” imbuhnya acuh.


Para pecinta lingkungan yang notabene anak-anak muda itu, menghadapi tantangan yang tak mudah. Jika di dalam pagar mereka memanfaatkan sisa sampah untuk jadi keterampilan dan hiasan. Di luar pagar justru para pedagang memproduksi lebih banyak sampah plastik ke sekitar lingkungan.


Tapi patut diacungi jempol mereka tak menyerah. Setidaknya dengan mengajak sesama komunitas dan anak muda, mereka berpeluang memutus tali rantai tak peduli yang ditunjukan generasi tua.


“Ya kayak kontras banget ya, di sini kesannya udah cinta lingkungan banget, udah matiin lampu, di sini (tempat para PKL) nyala, kayak nggak mau dengan ajakan cintai bumi,” timpal Silvia Handayani, pengunjung kegiatan Earth Hour malam itu.


Belum lagi dengan lampu-lampu dari rumah, perkantoran, hotel, tempat usaha di sekitar taman sangkareang itu yang masih menyala. Bahkan di seluruh Kota Mataram pada umumnya.


Tapi Silvia, tetap bangga. Para anak muda di taman sangkreang itu, telah melakukan hal yang benar. Demi kebaikan bumi di masa yang akan datang.


“Ya bagus-lah, kita seenggaknya udah mau ikuti semangat yang positif,” imbuhnya.


Membandingkan umur, kampanye Earth Hour yang telah berusia hampir 12 tahun memang rasanya tidak adil. Jika melihat antusias warga Kota Mataram mau lebih peduli dan cinta pada bumi. Silvia membayangkan jika saja, kampanye ini didukung oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat.


Ia yakin hasilnya akan jauh lebih baik bagi keberlanjutan bumi ke depannya.


“Ngebayangin, kota mati lampu satu jam, lalu kompak kembali kayak zaman dulu, pakai lampu minyak, terus permainan-permainan rakyat sebelum ada smartphone, kayaknya seru,” bayangnya.


Seorang pria tak asing berjalan menuju podium acara.  Dengan suara mantap berbicara di depan microphone warna hitam. Pria yang dulunya camat di Selaparang itu, pun tampak antusias mengajak warga kota yang hadir malam itu lebih mencintai bumi, dengan suara tegas.


“Ini saatnya kita ambil bagian dalam kepedulian pada bumi,” ujarnya.


Pria itu Irwan Rahadi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram. Tantangan para komunitas itu, jadi tantangan juga bagi Irwan. Mengajak masyarakat lebih peduli pada bumi.


Gerakan yang dikoordinasi oleh World Wide Fund for Nature (WWF) dan sejumlah organisasi sukarela, ini harus punya target jelas ke depan. Harus bisa lebih diterima masyarakat.


Jangan sampai hanya tamat pada acara-acara seremoni belaka. Lalu, warga kembali pada kebiasaanya yang tak ramah pada alam.


“Apalagi konsumsi bahan bakar fosil sangat tinggi dalam beberapa dekade terakhir,” sadarnya.


Ini telah berdampak buruk pada lingkungan. Pemanasan global, perubahan iklim, penggundulan hutan, penimbunan limbah, polusi udara, air dan tanah, sederet persoalan serius yang ingin dikampanyekan dalam satu jam lampu yang padam.


Jika sebanyak 7 ribu kota di lebih dari 170 negara saja sudah menyatakan kesiapan untuk menyelamatkan bumi. Atau, sekitar satu juta orang telah ambil bagian dalam kegiatan ini. Mengapa, penduduk Kota Mataram masih segan, bahkan terkesan acuh dengan kampanye demi bumi ini?


“Kita harus semangat memulihkan kondisi alam yang sudah tua ini,” ajaknya. (*/r5)

Editor : Administrator
#Metropolis