MATARAM-Musim kemarau masih awet. Hingga saat ini sebagian wilayah NTB masih dilanda kekeringan. Suhu menyengat di atas 30 derajat Celcius pun sempat terjadi.
Pantauan Lombok Post di wilayah selatan Lombok, kekeringan masih terjadi. Sawah-sawah warga kering dan belum ditanami padi. Banyak sawah yang dibiarkan menganggur, kecuali mereka yang menanam komoditas lain.
Kondisi ini sesuai perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Musim kemarau tahun ini akan lebih panjang. Datangnya musim hujan lebih lambat dari biasanya. Sebab peluang hujan di November masih rendah.
Normalnya, Oktober sudah terjadi hujan, namun pertengahan November saat ini belum terjadi hujan. ”November ini normalnya sebagian besar wilayah NTB khususnya Lombok sudah memasuki musim hujan,” kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat Restu Patria Megantra, pada Lombok Post, beberpa waktu lalu.
Sejak bulan lalu, kemarau panjang membuat sebagian besar wilayah NTB mengalami kekeringan ekstrem, dengan hari tanpa hujan di atas 60 hari. Meski demikian, kini tanda-tanda turunnya hujan sudah mulai terjadi.
Potensi Hujan Lebat
Perkiraan cuaca terbaru dari BMKG Stasiun Menteorologi Kelas II Bandara Internasional Lombok kemarin telah mengeluarkan peringatan dini hujan lebat disertai kilat, petir, serta angin kecang.
Peringatan potensi hujan lebat itu terjadi di wilayah Gangga, Pemenang, Tanjung, Seteluk, Alas, Taliwang, Batu Lanteh, dan dapat meluas ke wilayah Bayan, Batulayar dan sekitarnya.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahsanul Khalik mengatakan, penanganan kekeringan masih dilakukan, termasuk droping air ke wilayah-wilayah terdampak kekeringan. Pihaknya bekerja sama dengan BPBD kabupaten/kota daerah terdampak, termasuk TNI dan Polri yang turut membantu menyalurkan air bersih. ”Masih terus kami lakukan,” katanya.
Mengantisipasi datangnya musim hujan, masing-masing kabupaten kota sudah diimbau untuk siaga. Seperti Kota Mataram sudah apel siaga kebencanaan mengantisipasi datangnya musim hujan.
BPBD NTB sudah mengeluarkan imbauan kepada semua daerah untuk mengantisipasi potensi hidrometeorologi pascakemarau panjang. Bencana alam hidrometeorologi itu berupa angin kencang, hujan lebat dan gelombang tinggi.
Kesiagaan bisa ditunjukkan dengan membersihkan parit, drainase dan sungai. Serta memotong ranting pohon yang membahayakan warga. Juga dengan membersihkan lingkungan agar terhindar dari beragam penyakit. (ili/r5)
Editor : Redaksi Lombok Post