Penerbangan internasional yang dihentikan di LIA adalah penerbangan rute Lombok-Kuala Lumpur yang dilayani AirAsia. Rute penerbangan Lombok-Singapura sebaliknya yang dilayani Silk Air, dan rute Lombok-Perth dan sebaliknya yang dilayani AirAsia. Di LIA, penerbangan internasional hanya tiga rute itu saja.
“Untuk penerbangan internasional memang sudah kosong sama sekali,” kata Communication and Legal Manager PT Angkasa Pura I (AP) LIA Arif Haryanto pada Lombok Post, kemarin (25/3).
Sementara untuk penerbangan domestik, jumlah rute juga terus berkurang. Setidaknya hingga kemarin kata Arif, dua maskapai juga telah mengurangi frekuensi penerbangan domestiknya ke sejumlah rute.
Hal itu disebabkan lantaran jumlah penumpang yang memang terus berkurang “Penerbangan di LIA menyisakan 60 persen saja. Sebanyak 40 persen sudah dihentikan,” katanya.
Dia menjelaskan, maskapai Lion Air misalnya telah mengurangi delapan rute penerbangannya dari dan menuju Lombok. Meliputi tujuan Surabaya tiga kali penerbangan, Jakarta dua kali penerbangan, dan masing-masing satu kali ke Bandung, Makassar, dan Denpasar.
Kemudian Garuda Indonesia mengurangi dua frekuensi penerbangan, masing-masing satu kali tujuan Jakarta dan satu kali Denpasar.
Dijelaskan, kebijakan pengurangan frekuensi penerbangan tersebut sudah diterima otoritas bandara secara tertulis. Otoritas bandara tidak bisa berbuat banyak. Kecuali menunggu keputusan maskapai, apakah per 1 April mendatang penerbangan kembali dibuka atau pengurangan rute akan masih diperpanjang.
Kondisi seperti itu, secara langsung mengurangi jumlah penumpang. Baik kedatangan maupun keberangkatan, domestik dan internasional. Penurunan penumpang telah mencapai 60 persen dari penerbangan normal. Biasanya, ada 10 ribu penumpang yang datang dan pergi melalui LIA saat normal. Sehingga sekarang diperkirakan hanya 4.000 orang saja.
Pantauan Lombok Post kemarin, suasana di bandara tidak seramai seperti biasa. Di layar monitor, tertulis sederetan maskapai penerbangan yang melakukan cancel. Pengumuman jadwal penerbangan juga tidak terdengar. Kecuali imbauan kepada penumpang dan pengunjung bandara, mengantisipasi virus Korona.
Kemarin, lalu lintas penerbangan terakhir ditutup pukul 20.00 Wita. Bukan pukul 24.00 Wita, seperti biasa. Sedangkan jumlah penerbangan yang cancel sebanyak 27 rute. “Bisa dikatakan setiap hari, selama wabah Korona ada saja yang cancel,” ungkap Arif.
Hanya saja, jumlahnya tidak sebanyak kemarin. Perayaan Nyepi menyebabkan seluruh penerbangan dari dan menuju Bali memang dihentikan. Umumnya, alasan cancel karena minim jumlah penumpang. Misalnya yang berangkat 10 orang, maka tidak mungkin maskapai menerbangkan pesawatnya. Kemudian kendala operasional. Kendati demikian, solusi terhadap penumpang menjadi tanggung jawab maskapai yang dimaksud. Bukan otoritas bandara.
Disinggung bagaimana kebijakan selanjutnya. Apakah LIA memiliki opsi menutup operasional, Arif menegaskan itu tergantung keputusan Gubernur NTB. Alurnya, pemerintah provinsi akan bersurat ke Kementerian Perhubungan RI. Kemudian diterbitkan lah surat penutupan seluruh penerbangan.
Itu seperti kebijakan Provinsi Papua, yang menutup seluruh penerbangan bandara. Tertuang dalam surat Nomor AU.301/0014/KOBU.WIL.X/III/2020, tertanggal 25 Maret.
Terpisah, General Manager PT AP I LIA Nugroho Jati mengatakan, sepanjang NTB aman dari korona, maka tidak perlu dilakukan lockdown.
Hanya saja, pihaknya mulai memperketat pengawasan penumpang. Tidak saja yang datang, tapi juga yang berangkat. Mereka terpantau suhu tubuhnya. Jika ditemukan suhu tubuh penumpang di atas 38 derajat Celcius, maka langsung ditangani.(dss/r6)
Editor : Administrator