MATARAM-Penanganan Covid-19 berbasis lingkungan alias PCBL belum maksimal. Program yang dilontarkan Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh ini masih bolong-bolong. Terutama untuk pengawasan dari bawah.
Teknis PCBL melibatkan kepala lingkungan, tokoh agama, dan masyarakat. Untuk menjaga lingkungan masing-masing. Di setiap pintu masuk lingkungan, akan disiapkan tempat cuci tangan, hand sanitizer, thermal gun, sampai masker.
Selain itu, masyarakat di lingkungan juga diharapkan bisa saling mengawasi warga berstatus orang dalam pemantaun (ODP). Maupun pasien dalam pengawasan (PDP), yang menjalani isolasi di rumah.
Juru bicara gugus tugas Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa mengatakan, partisipasi masyarakat bukan saja pengawasan. Tapi bagaimana mereka bisa memberikan dukungan kepada ODP dan PDP.
”Bukan memberi stigma dan mengucilkan. Kita lihat di beberapa wilayah sudah menunjukkan solidaritas seperti itu,” kata Suwandiasa, kemarin.
Secara perencanaan, program PCBL sangat bagus. Masyarakat diajak terlibat. Membantu pemerintah mengawasi. Sekaligus mendukung OPD dan PDP yang melakukan isolasi mandiri di rumah.
Tapi tidak seperti itu kenyataannya di lapangan. Pengawasan yang diharapkan justru kedodoran. Seperti pada kasus PDP positif nomor 107 berinisial HA asal Kecamatan Ampenan.
HA sebelumnya dinyatakan positif terjangkit virus Korona pada Selasa malam, 21 April. Setelah petugas kesehatan dari RSUD Kota Mataram mengambil Swab HA, beberapa hari sebelumnya.
Berdasarkan protokol kesehatan dari RSUD Kota Mataram, seluruh warga yang diambil Swabnya, wajib menjalani isolasi. Jika kondisi kesehatannya baik, tanpa gejala sakit, yang bersangkutan bisa isolasi mandiri di rumah. Atau Wisma Nusantara, lokasi isolasi yang disediakan Pemkot Mataram.
Tapi tidak demikian dengan HA. Yang bersangkutan pergi ke Sekotong, Lombok Barat (Lobar). Kepergiannya dilakukan sebelum hasil Swabnya keluar. Karena itu, ketika Swabnya dinyatakan positif Selasa malam, petugas kesehatan kebingungan. Saat dijemput, mereka tidak mendapati HA di rumahnya. Di Kecamatan Ampenan.
”Dia ke Sekotong, ke rumah istri. Jadi pada saat dia status ODP, melakukan isolasi mandiri di rumah istrinya, di Sekotong,” ujarnya.
Suwandiasa menolak jika disebut ada kurang pengawasan untuk kasus HA. Ia lantas menganalogikan salah satu taktik sepak bola, yakni man to man marking. ”Kita sulit. Jadi isolasi mandiri, ya membutuhkan kedisiplinan,” kata Suwandiasa.
Kadis Kominfo ini juga mengakui kebingungan petugas, yang hendak menjemput HA. Ketika hasil Swab HA dinyatakan positif. ”Kita juga bingung ke mana Bapak ini, ternyata dia di Sekotong,” tuturnya.
Mengenai HA yang ke Sekotong, Suwandiasa bahkan menyebutnya lebih bagus. HA memilih isolasi mandiri di tempat yang ia merasa nyaman. Itu pun atas inisiatifnya sendiri.
Kepergian HA tentu membawa risiko. Apalagi setelah hasil Swabnya dinyatakan positif. HA seharusnya tetap berada di rumahnya, di Kecamatan Ampenan.
Suwandiasa menepikan mengenai potensi penyebaran virus dari peristiwa kepergian HA ke Sekotong. Katanya, HA pergi Sekotong sebelum hasil Swabnya keluar. Sebelum dinyatakan negatif atau positif. Apalagi HA masuk kategori orang tanpa gejala.
”Ya mungkin dia merasa tidak nyaman di rumah (Ampenan). Yang tidak memungkinkan untuk isolasi mandiri. Mungkin tidak nyaman,” dalih Suwandiasa.
Dalam pola penanganan Covid-19 di Kota Mataram, skema yang dirancang RSUD Kota Mataram lebih ketat. Terutama untuk tiga klaster, Bogor, Jakarta, dan Gowa. Untuk masyarakat yang masuk ketiga klaster tersebut, langsung dilakukan Swab. Dan statusnya pun dinaikkan menjadi PDP. Meski tak menunjukkan gejala sakit.
”Prinsipnya begini. Masyarakat diminta stay at home,” kata Direktur RSUD Kota Mataram dr. HL Herman Mahaputra, kemarin.
Dokter Jack, sapaan karibnya mengatakan, imbauan serupa ditujukan kepada PDP maupun ODP yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Termasuk kepada HA. Proses pengambilan Swab untuk HA dilakukan petugas RSUD Kota Mataram. Sehingga sudah seharusnya, setelah Swabnya diambil, melakukan isolasi mandiri.
Menurut dia, RSUD Kota Mataram tidak mungkin mengisolasi seluruh PDP. Apalagi mereka yang tidak menunjukkan gejala. Sehingga, pihaknya mengharapkan kerjasama dengan mereka. Salah satunya dengan diam di rumah.
Tujuannya, untuk memudahkan petugas melakukan tracing kontak. Dan yang paling penting adalah mencegah penyebaran virus Korona. ”Jadi pas positif hasilnya, kita bisa langsung ambil dan isolasi di RS. Kalau negatif, ya sudah, artinya aman. Aturannya begitu,” tuturnya.
Meski sempat pergi ke Sekotong, Jack menyebut HA cukup kooperatif. Rabu pagi, 24 April, ia datang sendiri ke RSUD Kota Mataram. ”Kita apresiasi HA, konsekuen dia. Sekarang sudah di ruang isolasi. Kondisinya sehat,” jelas Jack.
Pola karantina mandiri lebih dibebankan pada kesadaran masyarakat. Jika masyarakat taat, kerja gugus tugas lebih mudah. Tapi tentu saja, perlu juga kehadiran pemerintah guna mengantisipasi masyarakat yang egois.
”Lebih kepada kesadaran yang bersangkutan untuk mengikuti protokol. Sehingga tanpa diawasi, harus taat,” kata Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Mahfudin Noor.
Di sisi lain, Fudin menyebut pengawasan dilakukan oleh Tim Gugus Covid-19 melalui petugas puskesmas, bersama lurah, dan camat. Yang sayangnya, lolos untuk PDP positif nomor 107. (dit/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online