"Karena informasi yang kami dapatkan proyek ini harus tuntas November. Itu sudah bisa ditempati warga nelayan di Bintaro," ungkap Sekretaris Komisi III DPRD Kota Mataram Irawan Aprianto kepada Lombok Post.
Saat dewan datang, ia mendapati sejumlah pekerja tengah mengerjakan proyek Rusunawa. Dewan melihat tiang pancang atau pondasi bangunan sudah berdiri. Persoalan pemasangan tiang pancang ini diketahui sempat menjadi masalah akibat warga sekitar terganggu proses pemasangan tiang pancang. Menyusul getarannya membuat rumah warga retak.
Pemerintah Kota Mataram pun sampai menyiapkan kompensasi bagi warga sekitar. Kini, pemasangan tiang pancang sudah selesai.
Agung Saputra, Pelaksana Teknis Kontraktor PT Devi-Bimal KSO menjelaskan, saat ini progres Rusunawa Bintaro sudah mencapai 24,20 persen. Progress ini diklaim surplus dari target yang ditentukan.
"Surplus 6 persen. Baru satu setengah bulan dikerjakan. Pondasi tiang pancang sudah selesai tinggal pengerjaan gedung dan finishing nanti," jelasnya.
Luas bangunan Rusunawa Bintaro yang tengah dibangun 61,2 x 14,9 meter. Bangunan ini nanti akan memiliki 44 kamar. Dibangun secara bertahap tiga twin blok. Untuk tahap pertama hanya satu blok terlebih dulu.
Bangunan tiga lantai ini sesuai kontrak ditarget Nopember. Namun proyek ini menurut Agung sempat terkenadala akses jalan masuk. "Itu sempat sebulan terhambat pekerjaan karena kendala akses jalan," bebernya.
Pihak kontraktor asal Makasar ini mengaku kesulitan memasukkan material bahan bangunan ke dalam lokasi peoyek akibat kendala akses jalan. Namun setelah persoalan akses jalan klir, pembangunan tidak menghadapi kendala yang berarti.
"Sejauh ini sudah sesuai target progress. Kami juga kerja lembur untuk mengejar target," ungkap Agung menjelaskan ke anggota dewan.
Proyek Rusunawa Bintaro ini diketahui memiliki nilai anggaran Rp 19 miliar. Total ada 35 orang pekerja yang melaksanakan proyek ini setiap hari. "Lima orang pekerja lokal karena untuk tahap awal. Kemarin juga kami libatkan pekerja lokal untuk padat karya," ucapnya.
Mendengar penjelasan pihak kontraktor, Irawan meminta agar mereka memperbanyak persentase pekerja lokal. Ia menegaskan jangan sampai masyarakat sekitar jadi penonton pengerjaan proyek ini.
"Tambah pekerja lokal untuk proyek ini! Karena masyarakat Kota Mataram saat ini sudah banyak kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. Kami rasa banyak yang bisa untuk progres selanjutnya proyek ini," pintanya.
Dewan meminta jangan sampai proyek yang menelan anggaran belasan miliar justru masyarakat Kota Mataram tak bisa dilibatkan. Karena bagaimanapun pelibatan pekerja lokal harus menjadi perhatian semua kontraktor yang melaksnakan proyek Pemkot Mataram. Tidak hanya pada proyek Rusunawa tetapi semua proyek fisik yang ada di Kota Mataram.
"Ini harus jadi perhatian. Kami akan kembali ke sini dan cek daftar nama pekerja lokal berapa orang yang akan dilibatkan," pungkasnya. (ton/r3)
Editor : Administrator