“Saya sudah setahun terakhir ini menanam golden melon dengan sistem hidroponik menggunakan green house,” ujar Rasudi kepada Lombok Post, kemarin (6/9).
Hasilnya cukup menggiurkan. Sekali panen, ia bisa mendapatkan satu ton buah golden melon. Harga jualnya mencapai Rp 20 juta. Dengan masa tanam hingga panen hanya membutuhkan waktu 56 hari atau dua bulan.
“Hari Sabtu-Minggu kemarin sudah panen langsung diserbu warga. Hanya satu setengah hari sudah langsung habis,” ujarnya.
Dalam satu tahun, petani bisa menanam lima kali sampai enam kali tanam. Karena ia membuat dua green house, jadi Rasudi bisa panen setiap bulan. Dengan jarak tanam antara satu green house dengan yang lain sekitar satu bulan.
Setiap green house bisa ditanami 800 pohon. Itu akan menghasilkan buah sekitar satu ton. Estimasi biaya Rp 5 juta untuk biaya bibit, pupuk, dan perawatannya. “Memang untuk biaya awalnya membangun sistem hidroponik dan green house di satu blok itu Rp 100 juta. Karena semua peralatannya menggunakan besi galpanis, plastik UV, dan yang lainnya. Tapi green house ini bisa dipakai 20 tahun,” jelasnya.
Sistem pertanian menggunakan green house dan hidroponik ini tidak butuh lahan terlalu luas. Satu green house hanya membutuhkan lahan seluas dua are. Dalam setahun Rasudi mengaku sudah kembali modal. “Sehingga sisanya 19 tahun untuk mencari keuntungan,” cetusnya.
Sistem penanaman golden melon ini tidak memakai tanah. Semua hidroponik menjaga agar unsur yang diberikan ke tanaman tidak terbagi dengan tanaman lair seperti rumput liar. Kemudian tanaman golden melon diberikan juga mikro organik.
"Saya buatkan pupuk organik ketika sudah mulai berbuah. Makanya, ketika sudah panen, buahnya itu bisa bertahan untuk satu bulan,” cetusnya.
Setiap buah melon memiliki berat 1,3 kilogram. Harganya kisaran Rp 25 ribu sampai 30 ribu. Buah golden melon yang ditanam menggunakan sistem hidroponik ini memiliki kualitas ekspor. Rasanya lebih manis, ketahanan buah yang lebih lama dan tidak menggunakan racun hama.
Karena risiko kegagalannya juga bisa dicegah meski terjadi musim hujan atau kering. Karena tanaman tidak terpengaruh. “Perawatannya juga tidak terlalu repot. Ia hanya memangkas tanaman kemudian menghidupkan mesin air. Memastikan air selalu tersedia untuk tanaman ini,” ujar Muhanan, rekan Rasudi.
Untuk mengerjakan dua green house, cukup dua orang saja. Sehingga biaya pekerja bisa ditekan. (ton/r3)
Editor : Administrator