"Ini sangat membantu kami,” kata Yuni saat mencari minyak goreng di Niaga Supermarket Ampenan, kemarin.
Pantauan Koran ini, minyak goreng yang dijual di Niaga Supermarket Ampenan diburu pembeli. Silih berganti warga mengambil minyak di rak bagian belakang. Ada yang memilih Fortune, Sania, Selfie, dan berbagai merek lainnya. “Sebelumnya kita beli minyak goreng Rp 20 ribu per liter,” beber Yuni.
Harga minyak goreng per 19 Januari lalu sudah turun di ritel modern jaringan nasional. Seperti di Alfamart, Indomaret, Transmart, Hipermart, dan sejumlah ritel nasional lainnya. Yuni merasa terbantu dengan kebijakan pusat menurunkan harga mniyak goreng. Dalam sebulan dia menghabiskan minyak goreng 4 liter untuk kebutuhan.
"Kita saja untuk pemakaian pribadi satu bulan sampai 4 liter ,” ujar perempuan yang dinas di Puskesmas Pejeruk ini.
Dia berharap bukan hanya harga minyak saja yang turun, namun juga kebutuhan pokok lainnya seperti telur, beras, dan gula. “Sekarang harga gula naik,” cetus perempuan yang tinggal di Sesela, Lombok Barat ini.
Sebagai seorang PNS, Yuni juga merasakan dampak dari harga minyak goreng naik. Otomatis pengeluaran akan bertambah. “Saya saja yang punya pendapatan tetap kelimpungan dengan harga sembako naik, apalagi yang hanya kerja serabutan,” pungkas perempuan berjilbab ini.
Harga minyak goreng di sejumlah ritel lokal berbanding terbalik dengan di pasar tradisional. Pedagang di pasar tradisional enggan menerapkan apa yang menjadi kebijakan pemerintah. Minyak goreng dijual dengan harga Rp 19 ribu per liter.
“Ini harga modal saja kita kasih,” kata Hj Masriah, seorang pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan, kemarin.
Stok minyak goreng dijual Masriah cukup banyak. Dia membeberkan, jarang ada pengunjung yang membeli minyak goreng. Sebab, dia masih menjual dengan harga lama, yakni Rp 19 ribu per liter untuk merek Sania, Bimoli, dan merek lainnya. “Kalau ada pengunjung selalu bilang harga minyak turun. Sehingga mereka tidak jadi beli,” ujarnya.
Masriah tetap menjual minyak goreng dengan harga Rp 19 ribu per liter. Pasalnya, dia membeli minyak di distributor dengan harga Rp 18 ribu per liter. “Sekali kita beli minyak untuk satu merek sepuluh dus. Satu dus isinya 12 liter,” terangnya.
Dia ingin minyak goreng stok lama laku terjual. Baru kemudian akan menjual minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu per liter.
Saat ini dia tidak bisa berbuat banyak. Minyak yang dibelinya tidak bisa dikembalikan ke distributor. Begitu juga dispensasi tidak ada. “Malah tempat kita ngambil minyak ini menyarankan tidak beli dulu dari siapapun yang menawarkan,” pungkasnya.
Kepala Pasar Kebon Roek Malwi mengatakan, harga minyak goreng kemasan di pasar ini rata-rata Rp 19 ribu per liter. Bahkan harga minyak curah yang dulunya Rp 19 menjadi Rp 20 ribu per kilogram.
“Kita ingin distributor melakukan operasi pasar (OP),” ujarnya.
Dia berharap, distributor bisa melakukan OP dengan mendatangkan 2 sampai 3 ton minyak goreng di masing-masing pasar. Sehingga masyarakat tahu kondisi minyak sebenarnya.
“Kalau di pasar tradisional mayoritas orang awam. Tidak paham gejolak harga. Beda dengan di mal atau ritel tahu keadaan dan paham,” tuturnya.
Harga minyak goreng di Pasar Kebon Roek masih mahal karena stok lama. Jika dijual Rp 14 ribu pedagang akan rugi. Sebab mereka mengambil di distributor dengan harga Rp 17 sampai Rp 18 ribu per liter.
“Jadi mau tidak mau mereka bertahan,” ujarnya.
Kabid Pengendalian Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Sri Wahyunida akan turun ke pasar tradisional untuk melihat harga minyak goreng. Karena bagaimanapun kebijakan pusat harus diterapkan.
“Apa yang menjadi persoalan hingga pedagang tidak menurunkan harga minyak goreng akan kita carikan solusi,” kata dia.
Misalnya sebut dia, minyak goreng merek Sania. Dia akan menanyakan ke pedagang mengambil minyak darimana. Baru nantinya akan melakukan kordinasi dengan distributor supaya ada retur pembelian sebagai upaya menstabilkan harga. Sehingga pedagang tidak merugi jika menjual Rp 14 ribu kepada masyarakat.
“Kita akan cari solusi di pasar tradisional agar minyak goreng dijual sesuai kebijakan pemerintah,” pungkasnya. (jay/r3)
Editor : Administrator