Seperti yang dialami sejumlah penjahit pakaian di Kota Mataram, mereka banyak menerima order dari masyarakat yang ingin menjahit pakaian dari pada harus membeli yang sudah jadi ke toko baju.
Larasati, 24 tahun yang membuka jasa jahit pakaian di rumahnya di Monjok, Kota Mataram ini mengaku, saat awal bulan Ramadan dirinya bisa melayani hingga 3 orang pelanggan per hari. Sementara untuk yang melakukan permak, dirinya tidak membatasi.
"Kebanyakan yang datang untuk menjahit, ada juga permak, kayak pasang kancing, benerin resleting. Ada juga yang mengecilkan ukuran," ungkapnya, Selasa (26/4/2022).
Menurutnya, sebelum bulan Ramadan kalau untuk menjahit pakaian paling maksimal delapan helai per hari. Itu juga karena dirinya membatasi karena keterbatasan tenaga kerja.
Kemudian di saat Ramadan seperti sekarang, dia bisa melayani 10 jahitan per hari dan jumlah ini meningkat dibandingkan hari biasanya yang hanya melayani sekitar 5 lima atau 6 enam helai jahitan.
Untuk setiap potongnya, dia mematok harga mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu untuk yang ingin melakukan permak. Sementara untuk jahit pakaian dirinya membanderol maksimal Rp 200 ribu untuk menjahit pakaian wanita dan Rp 125.000 untuk jahit pakaian pria.
"Sebenarnya fleksibel ya harga jahitnya, tergantung kerumitan model pakaian wanita hingga pernak pernik apa yang digunakan. Sejauh ini yang paling banyak minatnya gamis dewasa hingga anak-anak dan kemeja pria," terang wanita lulusan D3 AKK Yogyakarta ini.
Laras menambahkan, berkah Ramadan tahun sangat disyukuri olehnya. Ia berharap, tahun depan sudah bisa menambah mesin-mesin jahit, memiliki tempat usaha yang lebih luas serta menambah karyawan.
"Agar usaha semakin berkembang dan membantu membuka lapangan pekerjaan bagi yang lain," harapnya. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida