HAMDANI WATHONI, Mataram
PULUHAN kaleng cat semprot sudah habis terpakai. Wang Arzaki, bersama beberapa rekannya masih sibuk membuat gambar di salah satu dinding yang disiapkan di lokasi Mataram Fair di parkiran timur Lombok Epicentrum Mall.
Beberapa pengunjung tertarik dengan apa yang sedang dibuat Wang dan beberapa rekannya. Pengunjung terdiam beberapa menit didepan gambar yang dibuat para seniman grafiti yang berasal dari Komunitas Street Art Lombok tersebut.
"Kami dari komunitas Street Art Lombok diminta ikut serta dalam kegiatan ini. Kami adalah perkumpulan orang yang suka grafiti," ujar Wang Arzaki, salah satu penggerak komunitas ini kepada Lombok Post.
Grafiti di Kota Mataram oleh sebagian orang masih dipandang sebelah mata. Padahal ini merupakan salah satu seni. Sama seperti seni lukis, musik atau yang lainnya. Namun perlahan kehadiran seniman grafiti mulai diterima. Mengingat setiap bulan Komunitas Street Art Lombok memiliki program serang kampung.
"Per bulan kami akan menggambar atau kami sebut serang kampung yang lekat dengan budaya urban. Ketika ada permintaan dari warganya, itu yang kami respons," tuturnya.
Mereka akan menggambar grafiti di dinding lingkungan yang biasanya dianggap kumuh menjadi lebih menarik dan berwarna. Ini dilakukan sekaligus sosialisasi ke masyarakat jika apa yang mereka lakukan bukan hanya sekadar corat-coret tetapi ada pesan seni yang ingin disampaikan. "Seni itu tidak hanya di galeri, museum atau taman budaya. Seni itu juga ada di jalanan dan itu bisa dinikmati secara gratis," ucapnya.
Gang kumuh yang selama ini banyak dianggap jorok atau kotor disulap oleh para seniman grafiti. Mereka mengubah dindingnya dengan hiasan warna warni yang mengundang decak kagum. Itu mereka lakukan gratis tanpa biaya. "Syaratnya sebelum digambar, kampungnya dibersihkan dulu. Pemudanya harus gerak juga membersihkan kampungnya baru kami respons," ucapnya.
Beberapa lokasi yang pernah digambar para anggota Komunitas Street Art Lombok di antaranya di Kekalik Kijang, Babakan; di Lingsar, Lombok Barat; hingga di Sembalun, Lombok Timur.
Biaya untuk membeli cat bahan pembuat grafiti ini memang tidak murah. Namun ketika ia dan rekan-rekannya ikhlas membantu masyarakat, maka ia yakin rezeki akan kembali ke mereka. Terlebih, grafiti ini dikatakannya menjadi pekerjaan kesehariannya.
"Apa yang kami berikan pasti akan kembali ke kami. Itu yang kami yakini, kami selama ini hidup dari seni grafiti ini," tuturnya.
Biasanya Wang dan seniman grafiti lainnya banyak mendapat penghasilan ketika ada permintaan untuk menggambar grafiti atau mural di kafe hingga Coffee shop. Tak hanya di Kota Mataram tetapi juga di Gili Trawangan dan daerah lain. Bahkan beberapa tempat di luar Pulau Lombok.
"Kalau perusahaan besar lebih banyak dapat dari luar daerah. Mulai dari Jakarta, Surabaya hingga NTT," tutur pria yang tinggal di Lingkungan Griya Taman Sari tersebut. Wang bersama rekan-rekannya berharap ke depan seni grafiti makin diterima dan diparesiasi di Kota Mataram. (*) Editor : Administrator