LombokPost---Warga Kota Mataram mulai merasakan dampak kekeringan.
Hingga puncak musim kemarau ini, sejumlah lingkungan di beberapa kelurahan mengalami paceklik pasokan air bersih.
Kondisi itu salah satunya terjadi di Lingkungan Karang Pelambik, Kelurahan Abian Tubuh Baru, Sandubaya.
Di sana, puluhan produsen tahu dan tempe menjerit kesulitan air bersih. Padahal air sangat penting untuk mendukung pembuatan bahan makanan itu.
"Kami butuh untuk mencuci tempe mengukus dan memasak," kata Rabiatun Hasanah, salah seorang produsen tempe di Lingkungan Karang Pelambik, Jumat (25/10).
Disampaikan, air PDAM hanya mengalir pada waktu tertentu. Yaitu pukul 21.00-22.00 ke atas.
Saat malam warga menyimpan air ke dalam tandon. Harapannya air bisa dipakai untuk proses pembuatan tahu dan tempe. "Kadang jam 21.00 belum datang air. Terpaksa minta air ke tetangga. Mereka juga sama-sama butuh air," tutur Rabiatun.
Selain itu, banyak juga sumur warga yang kering. Persediaan air hanya ada saat waktu Subuh. Itu pun sangat terbatas. Namun warga tidak bisa mencuci bahan tempe dengan air sumur. Efeknya berdampak pada kualitas produksi tahu dan tempe.
"Kalau pakai air sumur warna tahu dan tempe jadi kuning. Yang dibutuhkan kan warna putih cerah. Ini biasa pakai air PDAM," papar perempuan 29 tahun itu.
Kepala Lingkungan (Kaling) Karang Pelambik Abdur Rahman mengatakan di wilayahnya ada 40-an perajin tahu tempe. Untuk mendukung produksi, semuanya sangat bergantung pada ketersediaan air bersih. Baik air PDAM atau air sumur. "Tentu semua butuh air," ujar Rahman.
Kondisi paceklik air itu sudah pernah disampaikan ke pemkot beberapa pekan lalu. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram juga pernah turun ke lokasi. Mereka mengecek kondisi sumur dan PDAM.
"Alhamdulillah setelah turun itu, sekarang air PDAM beberapa kali mulai ngalir. Ini yang kami andalkan," ucap Rahman.
Warga pun berharap agar intensitas aliran air PDAM semakin membaik. Tidak lagi mampet.
"Karena kalau kurang air kami menurunkan produksi. Kami ngak berani produksi banyak-banyak," tandasnya.
Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kota Mataram Andi Kurniawan mengakui Lingkungan Karang Pelambik, Kelurahan Abin Tubuh masih mengalami kekurangan air. Jumlahnya hampir satu lingkungan.
"Ini karena debit air PDAM terbatas. Rata-rata baru ngalir di atas jam 22.00 sampai menjelang Subuh. Apalagi sumur warga juga kering," jelas Andi.
BPBD aktif melakukan pendataan. Selain di Kelurahan Abian Tubuh Baru, paceklik air juga melanda sebagai warga di Kelurahan Rembiga dan Kelurahan Karang Baru di Kecamatan Selaparang.
Di Lingkungan Dasan Lekong, Kelurahan Rembiga, contohnya. Di sana ada 10 sumur warga yang mengalami kekurangan.
Di Lingkungan Karang Baru Utara dan Karang Baru Selatan, tercatat ada satu hektar sawah yang telah ditanami padi mengalami kekeringan.
Akibatnya warga terancam gagal panen. "Karena padi sudah berbunga. Tapi nggak ada aliran air," tuturnya.
Di sisi lain, BPBD sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan hingga akhir Desember nanti. Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Mataram Irwan Rahadi mengatakan sudah menyiapkan suplai air bersih ke warga di lingkungan terdampak. Termasuk ke lahan-lahan pertanian untuk mencegah gagal panen.
"Kalau sekiranya sangat emergency kami sudah siap siaga," kata Irwan.
Disampaikan, pihaknya melibatkan lintas instansi dalam mengatasi bencana kekeringan. Termasuk di antaranya Dinas Pertanian untuk membantu suplai air ke persawahan yang terdampak. Ini untuk mengatasi gagal panen karena tanaman yang kering.
Untuk distribusi air bersih, BPBD bekerja sama dengan PDAM Giri Menang. Air tangki disuplai ke permukiman warga yang terdampak karena air PDAM tidak mengalir.
"Prinsipnya kami kolaborasi dan sinergi lintas OPD dan instansi," ujar Kasatpol PP Kota Mataram itu. (mar/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post