LombokPost-Penggunaan smartphone atau tablet pada anak-anak meningkatkan risiko terhadap kesehatan jiwa mereka.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram dr Emirald Isfihan mengimbau pada para orang tua untuk melakukan kontrol dan pengawasan lebih ketat lagi pada anak-anak yang mengunakan fasilitas elektronik tersebut.
“Tontonan anak-anak sangat penting diawasi, jangan sampai kemampuan otak mereka dalam menyaring tontonan mempengaruhi kesehatan jiwanya,” kata dr Emirald, Kamis (31/10).
Dokter Emir mencontohkan tontonan yang berdampak langsung terhadap emosi dan gaya hidup anak. Di usia anak-anak, mereka kesulitan membedakan antara realitas hidup dengan kondisi dalam film.
“Film-film Korea yang menggambarkan gaya hidup hedonis, dikhawatirkan jadi ukuran normal dalam alam pikiran anak-anak,” ucapnya.
Saat mereka kembali dalam kehidupan nyata, anak-anak mendapati banyak hal yang tidak sesuai dengan pikiran atau ekspektasi tentang hidup yang dianggapnya normal. Di titik ini, mereka rentan mengalami persoalan jiwa.
Selain tontonan hedon, dokter Emir juga mengingatkan bahaya toxic di sekitar anak-anak.
Toxic secara harfiah diartikan sebagai lingkungan yang memberi dampak negatif bagi seseorang.
Dalam penggunaan sehari-hari, toxic lebih spesifik digunakan untuk perkataan kasar atau kotor.
Dokter Emir menyebut, hal ini sama rentannya dengan tontonan hedon yang dapat mempengaruhi kesehatan jiwa.
“Kita perlu membentuk lingkungan yang sehat bagi anak terutama di sekolah. Lingkungan yang bebas toxic dan pengaruh media,” ucapnya.
Dalam mendukung Kota Layak Anak (KLA), intervensi semacam ini akan dilakukan dinkes.
Dokter Emir mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan (disdik) untuk membuka peluang kolaborasi mendukung KLA melalui sekolah.
“Pembentukan komunitas anak ini, merupakan pengembangan dari Program Sekolah Sehat yang akan kita rintis di sekolah,” paparnya.
Ia menambahkan, pembentukan komunitas anak di sekolah akan mendapat pendampingan dari petugas-petugas jiwa di dinkes.
“Kesehatan jiwa ini sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Komunitas ini kita rancang sebagai wadah mengembangkan teman bicara sejiwa bagi anak,” ucapnya.
Pada umumnya, anak-anak memiliki keterbukaan pada teman sebayanya dibanding pada orang yang lebih dewasa. Hal ini, bisa dijadikan pintu masuk melakukan kontrol terhadap kesehatan jiwa mereka.
Keberadaan komunitas anak di lingkungan sekolah sebagai cara mengurangi angka depresi hingga bunuh diri.
Komunitas ini selain sebagai wadah berkeluh kesah juga berbagi solusi persoalan seputar anak.
“Untik tujuan yang lebih luas lagi, komunitas ini dapat mencegah munculnya stunting,” ucapnya.
Dokter Emir mengatakan, banyak balita yang alami stunting karena orang tua mereka menikah dini.
Sedangkan penyebab pernikahan diri umumnya dipicu ketidakmampuan anak-anak dalam mengatasi persoalan mereka.
“Komunitas anak inilah yang kita harapkan jadi gudang solusi agar anak-anak, agar tidak mengambil keputusan nikah dini hanya karena butuh teman hidup,” pungkasnya. (zad/r3)
Editor : Marthadi