LombokPost - Angkutan Kota Bemo Kuning Mataram butuh peremajaan. Butuh bantuan armada lain untuk bisa melayani kebutuhan transportasi masyarakat.
Karena minimnya pilihan, kini banyak warga Kota Mataram seolah dipaksa mengandalkan kendaraan pribadi.
Tak heran pada jam jam tertentu, semisal pagi hari di seputaran Jalan Pejanggik yang merupakan area pendidikan dan perkantoran, kemacetan mulai tampak di Kota Mataram.
Jika terus dibiarkan, hal ini akan menjadi bom waktu bagi Kota Mataram.
Siap-siap saja melihat kemacetan Kota Mataram yang akan semakin menjadi di banyak titik, tanpa ada solusi.
Yang salah bukan bemo kuning, tapi ketiadaan angkutan kota berjenis transportasi masal yang bisa lebih baik dari bemo kuning yang sudah usang.
Masalah transportasi di Kota Mataram cukup kompleks dan mencakup beberapa aspek.
Soal kemacetan Kota Mataram adalah yang pertama. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah kendaraan pribadi dan kurang efektifnya sistem transportasi umum.
Masalah kualitas transportasi umum yang rendah jadi soal. Kita tak bisa memaksakan warga kota naik transportasi umum bemo kuning yang trayeknya terbatas, jam operasionalnya tak jelas, dan kondisi keamanan dan ke nyamannya memprihatinkan.
"Saya rumah di selatan, anak sekolah di SDIT Al-Falah Ampenan, ya tiap hari pakai kendaraan pribadi untuk antar anak, tidak ada transportasi umum di jalur itu," kata Wahyu, salah seorang warga Kota Mataram.
Namun, di satu sisi Pemerintahan Kota Mataram menghadapi kurangnya anggaran untuk mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas transportasi umum.
Bayangkan jika revitalisasi total dilakukan Pemerintah Kota Mataram, tentu butuh biaya yang tak sedikit.
Misalnya terkait penambahan armada, pembukaan trayek baru, hingga penyiapan infrastruktur semisal halte, semua butuh biaya.
Upaya pemerintah kota Mataram untuk mengatasi masalah ini termasuk mengoperasikan Bus Trans Mataram Metro dan melakukan uji coba penggunaan bemo kuning untuk mengangkut siswa tampaknya belum membuahkan hasil signifikan.
Busway mini ala-ala Kota Mataram yang sempat ada kini tak jelas rimbanya. Bemo kuning sendiri jelas tak mampu tangani kebutuhan warga.
Walhasil, ujung-ujungnya kendaraan pribadi, dan ujung-ujungnya macet berjamaah. (yuk/r6)
Editor : Prihadi Zoldic