Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jangan Ragu Bawa Peliharaan ke Dokter Hewan, Penting Pahami Riwayat Kesehatan Hewan Peliharaan

Lombok Post Online • Sabtu, 14 Juni 2025 | 12:33 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

LombokPost -  PEMILIK hewan peliharaan perlu memahami perbedaan mendasar antara klinik dokter hewan dan pet shop.

Kesalahpahaman sering terjadi, karena pet shop dianggap sebagai tempat untuk mendapatkan penanganan medis atau obat-obatan untuk hewan kesayangan.

Padahal, peran keduanya sangat berbeda dan memiliki batasan yang jelas.

Baca Juga: Pelihara Kucing Seperti Merawat Anak Sendiri, Rela Rogoh Kocek Cukup Dalam

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang NTB I, Drh. Diah Purwitasari, M.Sc., menekankan bahwa pet shop sejatinya adalah toko yang khusus menjual produk dan kebutuhan hewan, seperti makanan, kandang, atau aksesori. 

“Kalau pun ada pet shop yang memiliki dokter hewan di dalamnya, itu terpisah antara praktik dokter hewannya dan pet shop,” jelas Diah.

Ia menegaskan, tidak semua pet shop menyediakan pelayanan kesehatan hewan. Bahkan, pet shop tidak diperbolehkan menjual obat-obatan, terutama antibiotik. “Antibiotik harus di bawah resep dokter. Kalau antibiotiknya salah, nanti hewannya bisa resisten,” tegas Diah. 

Baca Juga: Pulau Kucing di Jepang: Surga Para Pecinta Kucing yang Bikin Healing Total!

Seringkali, pemilik hewan membawa hewan peliharaannya ke dokter hewan saat kondisinya sudah sangat kritis, bahkan dengan napas yang “satu satu”.

Diah menjelaskan, gejala umum seperti sesak napas, pilek, atau diare pada hewan tidak selalu menunjukkan penyakit ringan. Diagnosis yang tepat hanya bisa diberikan oleh dokter hewan. 

“Kalau manusia bisa bercerita tentang riwayat penyakitnya, apa yang dimakan. Sedangkan hewan tidak bisa, jadi dokter mendiagnosa berdasarkan anamnesa,” ungkapnya. 

Baca Juga: 6 Cara Bikin Kucing Jadi Penurut dan Menggemaskan, Nomor 3 Paling Penting!

Proses anamnesa ini memerlukan informasi mendalam dari pemiliknya, karena terkadang pemilik tidak sepenuhnya mengetahui riwayat kesehatan hewan peliharaannya. “Kita ajak cerita dulu, baru dapat disimpulkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan,” tambahnya.

Salah satu masalah serius yang sering ditemui adalah obat-obatan yang dijual di pet shop terkadang tidak terdaftar di Kementerian Pertanian, sehingga tidak memiliki label izin edar. Diah menyoroti adanya obat pet shop yang mengandung paracetamol, padahal zat ini berbahaya bagi kucing. 

“Pet shop itu bukan apoteknya hewan, tapi kalau apotek hewan biasanya ada izin tersendiri, disebut apotek veteriner,” kata Diah.

Ia juga mengungkapkan bahwa penyakit hewan yang dibawa ke klinik seringkali sudah dalam kondisi kritis setelah berhari-hari sakit. Ini mengindikasikan bahwa pemiliknya cenderung "menguji coba" pengobatan sendiri sebelum akhirnya membawa hewan ke dokter. Penyakit seperti flu dan diare, meskipun tergolong kecil pada manusia, bisa berakibat fatal pada hewan jika tidak ditangani dengan baik. 

Baca Juga: 7 Cara Melatih Kucing agar Penurut dan Nurut Sama Pemiliknya

"Kalau manusia masih bisa dipaksa untuk makan. Tapi kalau hewan, kuncinya itu kesembuhan pada stamina yang bagus akan cepat pulih," jelas Diah. 

Banyak kasus menunjukkan kemajuan penyembuhan yang tidak baik karena pemilik tidak tahu cara merawat hewan yang kondisinya sudah menurun. Diah mengimbau agar pemilik hewan tidak ragu membawa hewan peliharaannya ke dokter hewan, bukan karena kepentingan dokter, melainkan demi kesehatan hewan itu sendiri. 

“Kalau diuji coba obatnya tentu belum cocok dengan gejalanya. Butuh vaksin rutin, obat cacing agar kondisi hewan tetap optimal,” ujarnya.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Terkait dengan fasilitas penitipan hewan seperti pet hotel, Diah menyatakan hal tersebut tidak menjadi masalah selama hewan yang dititipkan dalam kondisi sehat. Namun, jika rawat inap karena sakit, itu sepenuhnya ranah dokter hewan. 

“Kalau di saya, beberapa juga titip sehat, mungkin kalau mudik Lebaran, atau bepergian,” ujarnya. 

Rawat inap untuk hewan sakit biasanya dilakukan jika pemilik tidak bisa mengurus atau hewan membutuhkan perawatan intensif seperti infus. “Kadang-kadang ada yang kasihan sama hewan, bukan peliharaannya juga dibawa ke sini,” ucapnya. 

Baca Juga: 9 Cara Ampuh Agar Kucing Tidak Buang Air Sembarangan di Rumah dan Halaman

Hewan yang rawat inap akan dikontrol secara rutin pagi, siang, sore, dan malam, termasuk memastikan mereka mau makan.

Diah menjelaskan bahwa hewan kesayangan yang dipelihara secara umum antara anjing, kucing, hamster, kelinci, dan kura-kura. Sementara kura-kura dan ular masuk kategori hewan eksotik, dan ada juga yang memelihara rusa atau iguana.

Di dunia dokter hewan, tidak ada spesialisasi seperti pada manusia, namun dokter hewan bisa memiliki minat lebih pada hewan kecil, ternak, atau ikan.

Sebagai tips menjaga kesehatan hewan, Diah menyarankan pemberian obat cacing secara teratur dan vaksinasi. Yang terpenting, segera periksakan hewan ke dokter jika sakit, jangan menunggu hingga parah. 

“Semakin cepat terdiagnosis penyakitnya apa, semakin cepat diobat yang tepat, itu akan mempengaruhi kesehatannya,” tegas Diah.

Mengenai penularan penyakit dari hewan kesayangan ke manusia, Diah menyebutkan bahwa virus pada hewan umumnya menular antar sesama hewan. Penyakit yang bisa menular ke manusia biasanya adalah cacingan, kudis, dan jamur. Ada juga virus pada hewan yang dapat menyebabkan kematian dalam populasi hewan, tetapi virusnya berbeda jenis dengan yang menyerang manusia. 

HEWAN KESAYANGAN: Drh Diah sedang memeriksa kondisi kucing yang dibawa ke praktik terbuka dokter hewannya di Mataram, beberapa waktu lalu. 
HEWAN KESAYANGAN: Drh Diah sedang memeriksa kondisi kucing yang dibawa ke praktik terbuka dokter hewannya di Mataram, beberapa waktu lalu. 

“Jaga kebersihan, kotorannya segera dibersihkan,” pesannya.

Mengenai biaya makanan khusus hewan peliharaan yang bisa mencapai jutaan rupiah, Diah mengizinkan hal tersebut.

Makanan khusus atau perawatan tertentu memang dibutuhkan untuk menjaga kualitas bulu dan kesehatan secara menyeluruh, karena memerlukan nutrisi khusus. Untuk biaya pengobatan di dokter hewan, tarifnya hampir mirip dengan check-up manusia.

Baca Juga: Kucing Anda Nafasnya Terengah-Engah? Yuk Kita Cari Tahu Penyebabnya

PDHI memiliki standar tarif normal untuk pemeriksaan, berkisar antara Rp50.000 hingga Rp75.000. Sementara biaya obat disesuaikan dengan praktik masing-masing. Jika ingin lebih murah, masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas puskeswan. (chi/r3) 

Editor : Kimda Farida
#Pelayanan #hewan #Kesehatan #Dokter #Kesayangan