Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hulu Sungai Diduga Jadi Biang Kerok Utama Banjir Mataram

Sanchia Vaneka • Rabu, 9 Juli 2025 | 20:39 WIB

 

 

Photo
Photo

 


Lombok Post – Banjir besar yang melanda Kota Mataram baru-baru ini, disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah, diduga kuat dipicu oleh debit air kiriman tinggi dari hulu sungai.

Asisten II Setda Kota Mataram, Miftahurrahman, menegaskan bahwa banjir kali ini berbeda dari kejadian sebelumnya, menyoroti peran sentral hulu sungai dalam bencana ini.

Sebagai daerah hilir, Mataram sangat rentan terhadap aliran air dari dataran tinggi.

"Perlu diidentifikasi oleh instansi vertikal, khususnya Pemprov NTB dan Balai Wilayah Sungai (BWS), untuk melihat kondisi hulu seperti apa," ujar Miftahurrahman pada Rabu (9/7).

Ia khawatir jika masalah di hulu tidak ditangani secara komprehensif, banjir hanya akan berpindah lokasi.

Miftahurrahman menjelaskan bahwa sistem drainase Mataram sebenarnya mampu menampung air hujan dan runoff lokal.

Namun, masalah muncul ketika aliran air dari hulu sangat deras, membawa serta lumpur dan material besar.

"Tapi karena ada runoff dan hujan tidak berhenti, kemudian debit aliran tinggi, dan membawa lumpur serta material besar, sehingga dapat menghantam mengganggu aliran," paparnya.

Baca Juga: Sudah Berseragam Manchester City, Tijjani Reijnders Tetap Berikan Uang Segepok untuk AC Milan

Banyaknya tembok yang jebol saat banjir menjadi bukti nyata kekuatan hantaman material yang terbawa air dari hulu.

Oleh karena itu, Miftahurrahman mendesak agar sistem sungai dilihat secara komprehensif dan meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB untuk segera memetakan dan mencermati kondisi di daerah hulu pasca-banjir ini.

Miftahurrahman membandingkan bahwa selama ini, meskipun Mataram diguyur hujan lebat, debit aliran air dari hulu tidak pernah sebesar kali ini. Ia juga menepis anggapan bahwa kapasitas resapan air di Mataram kecil.

"Sebenarnya kalau hujan seperti kemarin masih mampu diresap, kalau tidak ada debit banjir di hulu," jelasnya.

Sebagai contoh, Mataram mampu mengatasi hujan dua hari dua malam jika tidak ada debit air besar dari hulu, sementara banjir kali ini hanya membutuhkan beberapa jam untuk terjadi. Data menunjukkan debit banjir di Kali Ancar mencapai 103 cm, jauh di atas rata-rata yang biasanya di bawah 90 cm.

Kejadian ini, yang juga melanda Lombok Barat, semakin memperkuat dugaan adanya masalah serius di daerah hulu yang perlu segera diatasi.

"Artinya ada debit aliran tambahan besar yang masuk," ujarnya.

"Langkah Pemkot untuk memberikan penyadaran secara masif di tingkat lurah dan lingkungan sudah luar biasa, tapi masih saja begitu. Sampah-sampah yang menyangkut di jembatan, menghambat aliran air, bahkan menyebabkan jembatan jebol atau air meluap," imbuhnya. (r6)

Editor : Prihadi Zoldic
#Lombok Barat #Banjir Mataram