Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Inilah Ruangan Petik Telur Hingga jadi Embrio Ruang Bayi Tabung RS Ruslan Kota Mataram

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 11 Juli 2025 | 12:45 WIB
RUANG TINDAKAN: Penampakan ruang tindakan bayi tabung RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram yang dipenuhi dengan fasilitas canggih dan modern, Kamis (10/7).
RUANG TINDAKAN: Penampakan ruang tindakan bayi tabung RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram yang dipenuhi dengan fasilitas canggih dan modern, Kamis (10/7).

 

 

Setelah melewati serangkaian protokol steril yang ketat, mulai dari mengenakan APD lengkap, melalui ruang sensor tanpa sentuhan, hingga membuka pintu dengan gerakan kaki kami, masuk ke ruang inti program bayi tabung RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram.

 

 ---

RUANG ini adalah tempat semua dimulai: tempat telur diambil dari tubuh sang ibu, sperma dipersiapkan dari sang ayah, dan kehidupan baru diciptakan dalam tabung, bukan dalam rahim.

Di ruangan yang dingin, hening, dan terkontrol penuh itu, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.O.G., Subsp.F.E.R., M.Kes., M.Sc, Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram sekaligus dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas, menunjuk ke arah meja tindakan.

“Di sinilah semuanya terjadi,” kata dr. Eka, Kamis (10/7).

 

Menurut dr. Eka, sebelum tindakan petik telur dilakukan, pasien perempuan lebih dulu dipersiapkan secara medis. Kesehatan umumnya diperiksa, sistem reproduksinya dianalisis, dan setelah itu baru diberikan obat-obatan stimulasi hormon.

“Obat ini fungsinya untuk merangsang pembentukan dan pematangan sel telur. Dosis dan waktunya kita sesuaikan dengan respons tubuh masing-masing pasien,” jelasnya.

Begitu sel telur terlihat matang dan jumlahnya cukup, barulah dijadwalkan tindakan petik telur. “Prosedurnya dilakukan langsung di ruang ini,” kata dr. Eka sambil menunjuk meja operasi yang dilengkapi teknologi canggih.

Selagi istri menjalani rangkaian stimulasi, suami juga dipersiapkan. Dokter memastikan kualitas spermanya layak untuk program bayi tabung. Jika ditemukan kelainan, akan ada penanganan lanjutan.

Setelah proses petik telur selesai, suami kemudian mengeluarkan sperma di ruangan terpisah. Tapi sperma tersebut tidak langsung digunakan begitu saja.

Sperma yang telah diambil akan melalui proses yang disebut preparasi, yakni seleksi ketat untuk memilih sperma terbaik: paling sehat, paling aktif, dan paling layak untuk membuahi.

“Setelah itu, kita tunggu sekitar 4–5 jam, barulah, sperma dan sel telur dikawinkan di laboratorium,” kata dr. Eka.

Proses ini dikenal sebagai fertilisasi in vitro (IVF). “Setelah dibuahi, kita pantau perkembangannya. Kalau berhasil, embrio akan terlihat. Dan dari sinilah harapan baru itu benar-benar mulai tumbuh,” ujarnya.

Lebih detail lagi dengan ruangan tindakan itu, terdapat lampu operasi HEISZ menggantung kokoh tepat di atas meja prosedur. Lampu ini bukan sekadar penerang.

Lampu dirancang menghasilkan cahaya kuat yang bebas bayangan. “Cahayanya bisa diarahkan ke atas, ke bawah, ke samping. Intensitasnya pun bisa disesuaikan. Jadi tidak mengganggu visibilitas kami saat bekerja,” terangnya.

Lampu ini bekerja bersama meja operasi elektrik, mesin anestesi, dan sistem suhu serta tekanan ruang yang terkontrol. Semua elemen itu menjadi satu ekosistem steril yang saling mendukung demi kelancaran tindakan.

Sterilitas ruangan bukan hanya dari APD dan sensor otomatis. RS Ruslan, menerapkan central air system, yaitu sistem sirkulasi udara, suhu, dan kelembapan yang dikontrol otomatis. Ditambah lagi, ruang embriologi telah lulus sertifikasi ISO 5.

Partikel udara di ruang ini telah teruji.  “ISO 5 itu sudah level tertinggi. Artinya, udara di sini sangat minim partikel, sangat steril,” jelas dr. Eka.

Tindakan petik telur dilakukan langsung oleh dr. Eka. Ia merupakan satu dari dua dokter konsultan fertilitas bersertifikat di NTB.

“Kami ingin memperluas jangkauan layanan. Karena bagi banyak pasangan, ini bukan sekadar prosedur, tapi harapan yang ditunggu bertahun-tahun,” katanya.

Jadi, kehidupan tidak selalu dimulai dari pelukan hangat di rumah. Ia bisa dimulai di bawah cahaya lampu bedah, di ruang sunyi yang hening, dengan udara bertekanan stabil, di tangan-tangan yang bekerja dengan ilmu dan ketekunan.

“Tugas kami menjaga agar harapan itu tumbuh menjadi kehidupan,” ucap dr. Eka.

 

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #kesehatan wanita #bayi tabung #Bayar SPP pakai Brimo #RSUD Ruslan #kisah harapan #program hamil #IVF #dokter Eka #ruang tindakan #RSUD #fertilitas