Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Langkah Kecil Dari Masyarakat Untuk Mengolah Sampah 

Sanchia Vaneka • Selasa, 26 Agustus 2025 | 21:48 WIB

 

Tidak banyak masyarakat yang mulai sadar dan melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga.
Tidak banyak masyarakat yang mulai sadar dan melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga.
 

LombokPost - Pemerintah memang tidak bisa bekerja sendiri. Inisiatif masyarakat seperti bank sampah perlu didukung dan diperkuat oleh regulasi yang tegas. Di sisi lain, peran produsen sebagai pihak yang paling diuntungkan dari produk sekali pakai, juga harus dilibatkan secara adil. Tanpa kolaborasi ini, krisis sampah bukan lagi sekadar metafora, melainkan akan menjadi realita yang siap menghampiri.

Hermawan, pendiri Nol Sampah Surabaya mengatakan survei yang dilakukan Nol Sampah Surabaya menunjukkan bahwa kebutuhan tas kresek di satu toko modern bisa mencapai 80-100 lembar per hari. Angka ini melonjak drastis di supermarket besar, yang bisa menghabiskan 500 hingga 2.000 lembar kresek setiap harinya.

"Jika peraturan penggunaan plastik ini ditegakkan di semua pusat perbelanjaan,

dampaknya akan sangat besar dalam mengurangi sampah kresek,” tambahnya.

Dalam hal ini, Kota Mataram merupakan salah satu kota yang telah menerapkan

pengurangan plastik tersebut. Langkah ini dinilai efektif dalam mengurangi tumpukan

sampah, khususnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

 Baca Juga: Waspada Krisis Sampah, TPAR Kebon Kongok Mode Bertahan

Hermawan juga menyoroti pentingnya perluasan kebijakan ini ke sektor lain, seperti pasar tradisional dan pelaku UMKM dan ke daerah lain.

 Selain tas kresek, Perwali Mataram juga membatasi penggunaan alat makan sekali pakai seperti sendok, piring, sedotan, dan gelas plastik.

"Faktanya, volume sampah dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai ini terus meningkat. Pemerintah kota perlu bertindak tegas untuk mendorong penggunaan wadah yang bisa dipakai berulang kali,” tegasnya.

Selain berdampak pada lingkungan, sampah plastik sekali pakai juga berbahaya bagi kesehatan. Hermawan mengingatkan bahwa mikroplastik dan zat kimia dalam kemasan ini dapat memicu penyakit serius seperti kanker, gangguan hormonal, dan masalah pada sistem reproduksi.

Pengolahan sampah dari hulu, seperti melalui TPS3R, pengomposan, dan bank sampah, juga harus terus didorong.

Di sisi lain, masalah sampah sisa makanan juga menjadi fokus. Dengan porsi yang cukup besar, sampah ini bisa dikurangi melalui gerakan "Makan Dihabiskan". 

 “Dengan pendekatan budaya dan agama, kita bisa mengajak masyarakat untuk mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya. Ini langkah sederhana tapi berdampak besar,” jelasnya.

Aisyah Odist, pendiri Bank Sampah NTB Mandiri sepakat, akar masalahnya adalah edukasi. Menurutnya, perubahan perilaku tidak bisa instan dan butuh proses panjang. Ia juga mengkritisi minimnya pendidikan formal tentang pengelolaan sampah.

"Coba lihat saja sekolah-sekolah, apakah ada yang mengajarkan pelajaran terkait itu? Coba minta mahasiswa saja untuk mengolah," tantangnya.

Ia merasa peran bank sampah yang ia kelola masih terlalu kecil. Aisyah pun mempertanyakan mengapa beban pengelolaan sampah selalu dibebankan pada masyarakat lapisan bawah.

“Bank sampah itu hanya kecil seperti kuku. Saya sudah beberapa kali tanda tangan MOU, kerja sama segala macam, tapi tidak ada yang diterapkan," ungkapnya. 

Aisyah juga menyoroti peran para produsen plastik yang disebutnya sebagai "bisnis raksasa" yang selama ini seolah lepas tangan. Aisyah berandai-andai, jika pemerintah serius, industri plastik bisa

dikenakan pajak sebesar 30 persen. Dana dari pajak tersebut bisa dialokasikan untuk anggaran pengelolaan sampah.

Baca Juga: Dua Daerah Ungkap Masalah Klasik dan Solusi Baru Pengolahan Sampah 

"Berani tidak pemerintah? Itu yang harusnya diperjuangkan. Itulah sebenarnya mereka yang mengambil keuntungan besar," tantangnya.

 Begitu juga dengan Faizul Bayani, pendiri bank sampah Kekait Berseri menjelaskan, pemilahan dan pengolahan sampah adalah hal yang sangat mudah dilakukan jika sudah menjadi kebiasaan dan memiliki kesadaran.

 “Anak-anak istri saya juga sudah terbiasa memilah dan mengolah sampah. Kami siapkan tempat sampah yang sesuai jenis di rumah,” terangnya.

Sampah organik, seperti sisa makanan dan daun kering, dapat diolah menjadi kompos. Proses pengomposan ini membantu mengurangi volume sampah dan menghasilkan pupuk alami yang bermanfaat bagi tanaman.

Faizul menjelaskan, sampah anorganik, seperti botol plastik, kertas, dan kaleng, disalurkan ke Bank Sampah Kekait Berseri. Bank sampah ini berperan sebagai jembatan antara masyarakat dan industri

daur ulang. Masyarakat dapat menyetorkan sampah anorganik yang telah dipilah, dan nantinya akan ditimbang serta dihargai. Dana yang terkumpul dari penjualan sampah ini dapat digunakan untuk

berbagai keperluan, seperti iuran lingkungan atau kegiatan sosial.

“Jadi ini bukan cuma kewajiban. Tapi juga ada manfaat ekonominya,” katanya.

Sedangkan untuk sampah organik, bisa diolah menjadi kompos dengan metode takakura. Pembuatan kompos dimulai dengan menyiapkan keranjang berlubang berisi media starter. Sampah organik yang dicacah lalu dicampurkan ke dalamnya.

Jaga kelembaban dan aduk secara berkala agar proses penguraian berjalan optimal. Setelah 30-45 hari, kompos matang bisa dipanen, sementara sisa yang belum terurai dapat menjadi media starter berikutnya.

Baca Juga: Mataram & Amerika Jajaki Kerja Sama Atasi Sampah! Wali Kota Mohan: Butuh Teknologi dan Investasi Konkret 

“Jadinya ini nanti bisa dipake langsung untuk tanaman di rumah. Hasinya bisa dimasak atau dijual, itulah namanya ekonomi sirkular,” ucapnya.

Sama dengan Aisyah, Faizul juga menyoroti pentingnya regulasi yang tegas. Menurut Faizul, tanpa sanksi bagi pembuang sampah sembarangan, kesadaran masyarakat akan sulit terbentuk.

“Regulasi itu perlu diperkuat juga. Tinggal diaplikasikan. Di-follow up lagi," tegasnya.

Begitu juga dengan Made, pengelola Rumah Maggot Unggul Mataram mengaku memang mengelola sampah menjadi hal

yang tak mudah. Dirinya mengolah sampah yang berasal dari berbagai sumber, termasuk sisa makanan dari perusahaan besar seperti Transmart.

“Kami kerja sama. Mereka butuh tempat pemusnahan barang kedaluwarsa, saya butuh pakan maggot," jelasnya.

Kerjasama ini menguntungkan kedua pihak. Made mendapatkan bahan baku gratis, sementara pihak perusahaan tak perlu repot memusnahkan limbah.

Setiap hari, ia membutuhkan pakan dalam jumlah besar. Satu kilo maggot bisa menghabiskan tiga kilo pakan dalam sehari. Made mengumpulkan sampah organik hingga 100 kg lebih dari Transmart,

yang di dalamnya termasuk sisa sosis, susu kental manis, dan susu cair.

"Semua itu kita fermentasi dulu sebelum diberikan," tambahnya.

 Baca Juga: Masa Depan Sampah Lobar Ditangani Kecamatan? DLH Gelar Kajian Mendalam

Selain dari Transmart, Made juga menjalin kerjasama dengan industri rumahan roti di Babakan, Kota Mataram untuk mendapatkan roti kedaluwarsa. Ia bahkan rela membayar untuk sampah-sampah ini.

Made juga merupakan bagian dari komunitas Lombok Maggot, yang kini beranggotakan sekitar 90 pegiat dari Lombok hingga Sumbawa. Melalui kegiatannya, Made membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara mandiri dan memberi dampak positif bagi lingkungan dan ekonomi.

Editor : Siti Aeny Maryam
#DLH LOBAR #sampah #DLHK NTB #DLH MATARAM #kebon kongok