Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lombok Berada di Atas "Bom Waktu", Mengapa Selatan Pulau Lombok Jadi Sorotan Ahli Gempa?

Nurul Hidayati • Kamis, 28 Agustus 2025 | 15:34 WIB
Ilustrasi Tsunami. BRIN menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur di selatan Jawa – seperti bandara, pelabuhan, dan kawasan industri – belum sepenuhnya mengintegrasikan risiko tsunami.
Ilustrasi Tsunami. BRIN menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur di selatan Jawa – seperti bandara, pelabuhan, dan kawasan industri – belum sepenuhnya mengintegrasikan risiko tsunami.

LombokPost – Wilayah selatan Pulau Lombok kini menjadi pusat perhatian para ahli kegempaan. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab area ini berada di atas Segmen Sumba, sebuah bagian dari zona megathrust yang membentang dari selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.

Menurut seismolog dari BMKG, Pepen Supendi, segmen ini berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan dahsyat hingga magnitudo 8,5.

Tentunya sebuah skenario terburuk yang tak bisa diabaikan dan harus dimulai dengan sekarang.

 Baca Juga: WASPADA! NTB Diintai Gempa Megathrust Hingga Tsunami, BMKG Ingatkan Ancaman Bahaya Untuk Bagian Selatan Lombok

Yang menjadi kekhawatiran terbesar adalah fenomena seismic gap—sebuah zona yang seharusnya sudah melepaskan energi besar melalui gempa, namun belum terjadi dalam kurun waktu yang lama.

"Zona megathrust memiliki bagian-bagian yang terkunci dan itu yang kita khawatirkan," ujar Pepen.

Energi bisa jadi masih tersimpan, menunggu waktu untuk dilepaskan dalam bentuk gempa besar.

 Baca Juga: Wilayah Lombok Selatan Diintai Gempa Dahsyat, Ahli BMKG Ingatkan Potensi Magnitudo 8,5

Ancaman Ganda: Megathrust dan Potensi Gempa Lain

Ancaman terhadap Lombok tidak hanya datang dari megathrust. Ada sumber gempa lain yang tak kalah berbahaya, seperti zona outer-rise dan Flores Back-Arc Thrust. Pepen mengingatkan kembali pada gempa outer-rise berkekuatan magnitudo 8,3 yang mengguncang Lombok pada tahun 1977, memicu tsunami.

Pemodelan skenario terburuk BMKG juga menunjukkan dampak yang mengerikan jika megathrust Segmen Sumba pecah. Tsunami bisa mencapai ketinggian 66–68 meter di Lombok Tengah, dengan perkiraan waktu tiba hanya 18-20 menit setelah gempa. "Ini skenario terburuk. Prinsipnya, kita memodelkan kondisi paling parah agar kita siap," jelasnya.

 Baca Juga: Edukasi Kebencanaan di Sekolah Harus Digalakkan, BRIN Telah Ungkap Jejak Tsunami Raksasa di Selatan Jawa

Membangun Budaya Siaga: BPBD NTB dan Peran Masyarakat

Menyikapi potensi ini, Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi menyatakan pihaknya telah menyiapkan serangkaian strategi mitigasi. Langkah-langkah tersebut meliputi:

Pelatihan dan Simulasi Bencana: Mengintensifkan simulasi gempa dan tsunami di seluruh kabupaten/kota untuk membangun refleks tanggap darurat.

Pemetaan Daerah Rawan: Menyusun data rinci daerah rawan bencana sebagai landasan kebijakan pembangunan.

Penguatan Infrastruktur: Bekerja sama dengan pemerintah dan instansi terkait untuk memastikan bangunan vital tahan gempa.

Edukasi Publik: Menggandakan kampanye literasi bencana melalui berbagai media untuk mengajak masyarakat paham, bukan takut.

Peningkatan Kapasitas Relawan: Merekrut dan melatih relawan tanggap bencana sebagai garda terdepan saat terjadi krisis.

Mitigasi sebagai Kunci: Bukan Menunggu, Tapi Bersiap

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Pepen Supendi menekankan bahwa karena belum ada teknologi yang bisa memprediksi waktu dan lokasi pasti gempa, mitigasi adalah satu-satunya kunci. Ia mengajak masyarakat untuk mengubah fokus pertanyaan dari "kapan gempa terjadi?" menjadi "bagaimana kita menyiapkan diri?".

Langkah-langkah sederhana di rumah tangga, seperti menentukan jalur evakuasi, mengikat benda berat, dan menjauhkan area berkumpul dari struktur berbahaya, bisa sangat efektif. "Gempa bumi sendiri sebenarnya tidak membunuh. Yang menyebabkan korban adalah runtuhan bangunan. Salah satu mitigasi struktural paling efektif adalah membangun rumah yang tahan gempa," pungkasnya.

Penting untuk diingat, seluruh informasi ini disampaikan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran dan budaya siaga yang kuat di tengah masyarakat.

Editor : Pujo Nugroho
#Tsunami #bmkg #Gempa #BPBD #Selatan #Mitigasi Bencana #NTB #Lombok