Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Taman Kanak-Kanak YRPU, Jejak Sejarah Perjuangan Pendidikan Sejak 1932

Sanchia Vaneka • Selasa, 2 September 2025 | 09:57 WIB

 

Tampak depan TK YRPU sejak 1932 di Jalan Kamboja, Kota Mataram.
Tampak depan TK YRPU sejak 1932 di Jalan Kamboja, Kota Mataram.

Pendidikan Zaman Belanda di Mataram

Jauh sebelum kemerdekaan, sebuah sekolah kecil di Mataram telah menanamkan tunas-tunas pendidikan bagi anak-anak Lombok.

Berdiri sejak zaman kolonial Belanda, Taman Kanak-Kanak YRPU (Yayasan Perguruan Rendah Umur) menjadi monumen hidup yang merekam lika-liku perjuangan pendidikan di tengah catatan sejarah.

 SANCHIA VANEKA, Mataram

 Atas inisitatif beberapa orang masyarakat dan pegawai pemerintah Mataram, Lombok yang ingin memajukan bangsa Indonesia, maka dipelopori oleh alm. Bapak Soedi Dwidjosudiro yang saat itu menjabat menjadi Kepala Pertanian Daerah Mataram, Lombok (adj. landbou consulent) dan Nyonya Moerjati Soebali membentuk Panitia Penyelenggara Pendirian Taman Kanak-Kanak Mataram pada tahun 1932 dan memberi nama untuk Taman Kanak-Kanak tersebut sebagai "Particuliere Frobel School" dengan Nyonya Moerjati Soebali sebagai gurunya. Bahasa pengantar yang dipakai utnuk mengajar pada waktu itu adalah bahasa Belanda. 

Pada mulanya sekolah ini mengajar murid dalam satu kelas yang berjumlah 20 orang dalam kelas pemula (voorbereidence class). Alat yang digunakan dalam mengajar saat itu sangat sederhana. 

 “Pada saat itu banyak peminat yang ingin meyekolahkan anak-anak mereka di sekolah ini,” kata Kepala Sekolah TK YRPU Mukti Mey Leni, saat ditemui Lombok Post. 

Setelah beberapa waktu berlangsung, sekolah Taman Kanak-Kanak (Forbel School) yang didirikan berjalan dengan baik.

Hasil dari pembelajaran di sekolah  membuat anak-anak di daerah ini memiliki kecerdasan otak dan budi pekerti yang baik. 

Baca Juga: Jejak Sejarah dan Identitas Budaya, Koleksi Harus Dirawat dengan Baik

 “Sejak beridirnya Frobel School ini semakin tahun muridnya semakin banyak,” jelasnya. 

Uang sekolah yang dipungut pada saat itu tidak jumlah dan pendapatannya tidak mencukupi untuk membiayai pemeliharaan sekolah. Akan tetapi, sekolah ini terus berjalan.

Bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, anak-anak hasil didikan yang telah tamat dari Frobel School tanpa rasa takut lagi dengan kegembiraan mereka melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi seperti ke HIS dan ELS di masa sebelum Perang Dunia II. 

“ELS adalah sekolah dasar bagi anak-anak Eropa dan keturunan Belanda, sedangkan HIS adalah sekolah dasar bagi anak-anak pribumi dari kalangan elit yang berpendapatan tinggi,” terangnya. 

Selanjutnya, pada masa zaman Jepang, zaman Revolusi, sekolah ini berjalan terus.

Pada masa ini terjadi perubahan besar pada bahasa pengantar yang digunakan dalam mengajar.

Sampai zaman Revolusi, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Belanda.

Lalu, masa Revolusi bahasa pengantar diganti menggunakan bahasa Indonesia. 

Pada masa Revolusi ini, sekolah tersebut pindah ke gedung "Mardi Bekso".

Tempat itu diberikan secara cuma cuma oleh Pemerintah Daerah Lombok.

Tempatnya lebih besar untuk menampung murid yang semakin banyak. 

Pada tahun 1946, tentara NICA dan sekutu masuk ke Lombok.

Semua gedung sekolah dan pemerintahan diambil secara paksa oleh tentara NICA. Gedung sekolah di "Mardi Bekso" termasuk diduduki oleh tentara NICA. 

 “Akhirnya sekolah ini ditutup untuk waktu yang tidak kami ketahui,” jelasnya. 

Pada tahun 1951, Sdr. Tiboeloedji dipindah kerjakan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sdr. I.G.B. Okka ke Bali, dan Mamiq Mustiarep menyerahkan kepada pengurus, oleh karenanya dibentukalah pengurus baru dengan ketua Sdr. Soebali. 

Hingga tahun 1953 ini, Taman Kanak-Kanak Mataram telah berusia 19 tahun dan masih berdiri.

Pada tahun ini telah didirikan sebuah gedung sekolah yang berasal dari bantuan dan dukungan masyarakat Mataram, Lombok.  

“Telah banyak kesulitan yang di alami selama mendirikan sekolah ini baik mengenai peralatan, tenaga guru karena keuangan tak mungkin mencukupi untuk membayar gaji guru-guru,” ucapnya. 

Selama ini, tenaga pengajar masih mengandalkan pengorbanan dari guru-guru yang belum berkemampuan dalam mengajar tetapi mau dididik untuk menjadi pengajar dan memiliki niat untuk memajukan pendidikan anak-anak.

 “Mudah-mudahan kesulitan ini dapat cepat diatasi dan cita-cita kami untuk mempunyai Taman Kanak-Kanak yang betul-betul memenuhi syarat dengan kelengkapan sekolah yang baik dan pengajaran yang baik,” harapnya.  

Pemerintah Lombok pada saat itu, sedikit demi sedikit telah memikirkan soal pendidikan anak-anak ini dengan mulai memberikan guru-guru yang memiliki ijazah dengan gaji yang berasal dari pemerintah.  

“Semoga kekelumit karya yang saat ini masih ada bermanfaat bagi bangsa khususnya untuk memajukan pendidikan dasar anak-anak pada masyarakat Lombok dapat bermafaat dan hasilnya dapat dinikmati sebagai buah bagi pengembangan sumber daya manusia Lombok menuju generasi yang lebih baik,” tulis Ketua YPRU Soebali yang ditulis pada riwayat singkat YPRU 5 Oktober 1953.(bersambung)

 

 

Editor : Kimda Farida
#belanda #pendidikan #sejarah #Mataram