Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menjemput Rezeki dari Tangan Dingin Mengolah Ratusan Kilogram Ikan Tongkol

Sanchia Vaneka • Kamis, 4 September 2025 | 07:39 WIB

 

 

Sahni, seorang ibu rumah tangga di Huntara Bintaro yang memindang tongkol.
Sahni, seorang ibu rumah tangga di Huntara Bintaro yang memindang tongkol.


Sahni, Penjaga Rasa Ikan Pindang di Huntara yang Tak Lekang Digusur

 

Jari-jemari Sahni seorang pemindang tongkol dengan cekatan mengolah ratusan kilogram ikan tongkol menjadi pindang, memastikan aroma gurihnya terus mengepul di pesisir Pantai Bintaro Ampenan. 

SANCHIA VANEKA, Mataram 

Di salah satu sudut hunian sementara (huntara) di pesisir Pantai Bintaro, Ampenan, Mataram, aroma khas ikan tongkol yang dipindang menyeruak kuat. Di sana, di antara deretan rumah darurat, Ibu Sahni, 50 tahun, tampak sibuk bekerja. 

Bersama dua temannya, ia tak berhenti memasukkan potongan-potongan ikan ke dalam gerembeng (wadah dalam bahasa sasak) besar berisi air mendidih. Wajahnya yang keriput dan tangannya yang cekatan bercerita tentang perjuangan sehari-hari yang tak kenal lelah.

Baca Juga: Siap Sambut Maulid, Pemkot Mataram Jamin Pasokan LPG 3 Kilogram Aman

Sahni adalah salah satu dari sekian banyak warga yang harus pindah ke huntara setelah rumahnya digusur. Ia dan suaminya, seorang nelayan, menempati satu kamar kecil. Kehidupannya kini bergantung pada hasil tangkapan laut dan upah mengolahnya.

“Dulu saya tinggal di dekat Pura, dua kali digusur. Sudah dua bulan ini pindah ke sini,” kenangnya.

Bagi Sahni, memindang ikan bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan seni mengolah hasil laut agar bisa dinikmati lebih lama. Ia mendapat upah borongan dari seorang bos. Setiap hari, Sahni dan teman-temannya bisa mengolah hingga 500 kilogram ikan tongkol. Prosesnya pun tak main-main.

"Pindang ini prosesnya direbus,” jelas Sahni. 

Baca Juga: PNM Dukung Perajin Anyaman Lombok Tembus Pasar Internasional

Pertama, ikan dibersihkan lalu diberi garam. Garamnya garam yang biasa, tapi harus pas. Setelah itu, ikan dimasukkan ke dalam wadah yang dalam bahasa Sasak disebut gerembeng atau wadah. 

 Baca Juga: Pemkot Mataram Bangun Huntara II sebagai Solusi Darurat Atasi Abrasi Pantai

Untuk satu kali merebus, ia bisa memasukkan hingga 16 tumpuk keranjang berisi ikan. Proses perebusan ini memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Setelah matang, ikan pindang ini siap untuk didistribusikan. 

Biasanya, bosnya akan membawa 300 bakul pindang untuk dijual di Pasar Bertais pada subuh keesokan harinya. Harga jualnya bervariasi, tergantung kondisi pasar. Jika ikan sedang melimpah, harganya bisa murah, sekitar Rp 25 ribu per kilogram. Sebaliknya, saat musim paceklik, harganya bisa melonjak hingga Rp 40 ribu atau Rp 50 ribu.

Sebagai tukang pindang, upah Sahni dihitung per borongan. Sering kali, jika tangkapan sedikit, upahnya pun ikut berkurang.

“Tergantung banyak ikannya. Kalau 50 kilo, saya dapat Rp 30 ribu. Paling sedikit, saya dapat Rp 100 ribu sehari. Alhamdulillah, bisa untuk makan,” katanya.

Baca Juga: Pemkot Mataram Bangun 20 Huntara, Tanggap Cepat Atasi Dampak Banjir 

Hidup sebagai istri nelayan juga penuh tantangan. Suaminya melaut bergantung pada cuaca. Jika ombak sedang tidak bersahabat, ia tidak bisa melaut dan penghasilan pun terhenti. 

“Ya tergantung cuaca, kalau lagi bagus, banyak. Kalau enggak, ya enggak ada,”keluhnya.

Meski harus tinggal di hunian sementara yang serba terbatas, Ibu Sahni tetap bersyukur. Ia tinggal bersama suami dan seorang anaknya. 

“Alhamdulillah, cukup,” ucapnya. 

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai tempat tinggal permanen bagi mereka. 

“Katanya mau dibuat rumah susun di sini,”kata Sahni. Tapi belum ada omongan lagi,” jelasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
#Ikan Pindang #Nelayan #Bintaro #Ampenan #huntara #tongkol