Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Terungkap Penyebab Keracunan di MBG Berdasarkan Hasil Uji Lab, Mantan Direktur WHO: Ada 5 Hal...

Fratama P. • Minggu, 28 September 2025 | 20:33 WIB
Penyebab keracunan MBG
Penyebab keracunan MBG

LombokPost - Mantan direktur penyakit menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, angkat bicara mengenai potensi masalah yang dapat menyebabkan insiden keracunan massal yang dikaitkan dengan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Prof. Tjandra menegaskan bahwa kasus keracunan makanan adalah fenomena global, tidak hanya terikat pada program MBG saja.

Ia merujuk pada pedoman World Health Organization (WHO) yang mengidentifikasi setidaknya lima kategori penyebab keracunan makanan.

Ia menyarankan agar kelima kategori ini diperiksa secara menyeluruh di laboratorium Indonesia sehubungan dengan kasus keracunan yang diduga berasal dari MBG.

"Secara umum World Health Organization (WHO) menyebutkan setidaknya ada lima hal yang dapat dideteksi di laboratorium untuk menilai keracunan makanan, dan baik kalau lima hal ini juga diperiksa di laboratorium kita sehubungan keracunan makanan yang dikaitkan dengan MBG ini," kata Tjandra.

Temuan Laboratorium Jawa Barat: Bakteri Dominan Salmonella dan Bacillus Cereus

Prof. Tjandra Yoga Aditama, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Adjunct Professor di Griffith University, menyoroti hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) di Jawa Barat terhadap sampel makanan MBG.

Hasil lab tersebut mengindikasikan setidaknya ada dua penyebab utama keracunan:

1. Kontaminasi Bakteri Salmonella: WHO mengaitkan kontaminasi Salmonella dengan makanan tinggi protein, seperti daging, unggas, dan telur.

2. Kontaminasi Bakteri Bacillus cereus: Merujuk pada data dari NSW Food Authority Australia, Bacillus cereus, yang dapat menyebabkan keracunan makanan, seringkali berhubungan dengan metode penyimpanan nasi yang tidak tepat.

Lima Kategori Pemicu Keracunan Makanan Menurut WHO

Di luar temuan spesifik di Jawa Barat, Prof. Tjandra menjabarkan lima kategori pemicu keracunan makanan berdasarkan kajian global WHO yang patut diwaspadai:

1. Bakteri

Penyebab utama keracunan makanan yang luas adalah bakteri seperti Salmonella, Campylobacter, dan Escherichia coli.

Selain itu, Listeria dan Vibrio cholerae juga termasuk dalam daftar potensi pemicu.

2. Virus

Jenis virus yang diidentifikasi WHO sebagai penyebab keracunan makanan adalah Novovirus dan virus Hepatitis A.

3. Parasit

Keracunan dapat dipicu oleh parasit seperti cacing trematoda dan cacing pita (misalnya Ekinokokus maenia Taenia).

Kasus yang lebih jarang melibatkan cacing seperti Askaris, serta parasit Kriptosporidium, Entamoeba histolytica, dan Giardia, yang masuk ke dalam rantai pasok makanan melalui air dan tanah yang tercemar.

4. Prion

Meskipun kasusnya jarang, Prion, yang merupakan bahan infeksi yang terdiri dari protein (contohnya Bovine spongiform encephalopathy—BSE), juga dapat menyebabkan keracunan makanan.

5. Kontaminasi Bahan Kimia

Kontaminasi kimia dibagi menjadi tiga subkategori yang perlu diantisipasi:

- Logam Berat: seperti timbal, kadmium, dan merkuri.

- Polutan Organik Persisten (Persistent organic pollutants - POPs): seperti dioksin dan polychlorinated biphenyls (PCBs).

- Berbagai Bentuk Toksin Lain: mencakup mycotoxins, marine biotoxins, cyanogenic glycosides, aflatoxin, dan ochratoxin.

"Berbagai potensi yang di sebut WHO ini tentu patut jadi pertimbangan kita, walau tentu sama sekali tidak berarti bahwa keracunan makanan yang berhubungan dengan MBG sekarang ini adalah disebabkan lima hal itu. Penjelasan umum WHO ini disampaikan hanya sebagai bagian dari kewaspadaan kita saja," jelas Prof. Tjandra, menegaskan bahwa penjelasannya bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan menyimpulkan penyebab kasus MBG.

Data Labkes Jabar: 20 Kali KLB MBG dan Faktor Higienitas

Secara terpisah, Laboratorium Kesehatan Jawa Barat (Labkes Jabar) mengonfirmasi telah menerima ratusan sampel makanan dari program MBG yang diduga menjadi pemicu keracunan sejak Januari 2025, berasal dari belasan kabupaten/kota di Jawa Barat.

Kepala Labkes Jabar, Ryan Bayusantika Ristandi, mengungkapkan bahwa sampel tersebut dikirim melalui dinas kesehatan masing-masing daerah.

"Berdasarkan sampel yang masuk dari Januari–September, didapatkan sampel KLB keracunan makanan dari MBG sebanyak 163 sampel, dengan jumlah instansi pengirim sebanyak 11 dinas kesehatan kota/kabupaten di Provinsi Jawa Barat," kata Ryan.

Total frekuensi Kejadian Luar Biasa (KLB) MBG yang tercatat adalah sebanyak 20 kali.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan:

1. Pemeriksaan Mikrobiologi: 72% hasil negatif dan 23% hasil positif (termasuk Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Bacillus cereus).

2. Pemeriksaan Kimia: 92% hasil negatif dan 8% hasil positif nitrit.

Ryan menyebutkan bahwa secara frekuensi, bakteri yang paling banyak mengontaminasi adalah Salmonella dan Bacillus cereus.

Sementara di laboratorium kimia, kontaminasi nitrit paling banyak ditemukan.

Ketika disinggung mengenai faktor penyebab keracunan, Ryan menegaskan bahwa kebersihan air, peralatan memasak, dan higienitas pekerja dapur (food handler) sangat berpengaruh.

"Ya, kebersihan air, peralatan, dan higienitas pekerja dapur (food handler) sangat berpengaruh terhadap terjadinya keracunan makanan, dan hal ini diatur jelas dalam regulasi," pungkasnya, menunjukkan bahwa faktor kebersihan dalam proses penyiapan makanan MBG sangat krusial.***

Editor : Fratama P.
#Mbg