Pengumuman ini menyusul pengunduran diri Perdana Menteri sebelumnya, Sebastien Lecornu, setelah dua hari pembicaraan intensif yang bertujuan mencari solusi atas krisis politik terburuk Prancis dalam sejarah modern.
Kebuntuan politik yang berkepanjangan ini telah mempersulit pengesahan anggaran pengetatan yang sangat dibutuhkan. Anggaran ini dituntut oleh investor yang khawatir dengan defisit Prancis yang melebar.
"Pertanyaan yang diajukan hari ini adalah apakah ada cukup orang yang bertanggung jawab,” kata juru bicara pemerintah, Aurore Berge, kepada radio RTL.
“Saya pikir ini adalah kesempatan terakhir.” tambahnya.
Meskipun Lecornu telah menyampaikan pandangan mayoritas parlemen, prospek penunjukan perdana menteri baru gagal meredakan perpecahan di antara partai-partai rival. Partai oposisi sebagian besar tetap pada pandangan awal mereka.
Manuel Bompard dari partai kiri radikal France Unbowed (LFI) mendesak Macron untuk mundur, sementara Jordan Bardella, presiden partai kanan jauh National Rally (RN), mengulang seruan partainya untuk mengadakan pemilu parlemen baru.
Kedua partai ini bahkan memboikot pembicaraan dengan perdana menteri. Partai Sosialis menuntut perdana menteri dari kubu kiri, namun Partai Republik—yang merupakan bagian dari pemerintahan Lecornu—menolak mendukung usulan tersebut.
Di tengah ketegangan ini, pasar keuangan sempat menunjukkan ketegangan, namun obligasi mempertahankan kenaikan karena optimisme bahwa Prancis dapat menghindari pemilu parlemen dadakan dan mencapai kesepakatan mengenai anggaran.(*)
Editor : Redaksi Lombok Post