Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berawal dari Penyakit Bronkopneumonia Anak, Vivian Sukses Membangun Bisnis Madu Trigona

Sanchia Vaneka • Rabu, 29 Oktober 2025 | 09:49 WIB

 

Vivian pemilik bisnis madu trigona Melonia
Vivian pemilik bisnis madu trigona Melonia

Cerita manis Vivian Watania membangun Melonia Artisanal Honey berawal dari kekhawatiran saat sang buah hati divonis bronkopneumonia. Berbekal rekomendasi dokter untuk konsumsi madu, ia menemukan madu trigona, yang kemudian menjadi benih sebuah usaha ekspor ke Singapura dan Dubai dalam waktu satu tahun.

 

SANCHIA VANEKA, Mataram

 

SUARA tawa Freya, putri kecil Vivian Watania, kini terdengar riang. Namun, Vivian mengenang masa-masa awal, saat sang anak lahir dan divonis bronkopneumonia, penyakit serius yang menyerang paru-paru. Rekomendasi dokter anak dan spesialis penyakit dalam saat itu salah satunya yakni konsumsi madu.

 "Awalnya saya coba semua madu. Pokoknya semua madu saya konsumsi untuk anak saya," kenang Vivian, saat ditemui di sela kesibukannya mengurus Melonia.

 Perjalanan pencarian madu terbaik itu mengantarkannya pada satu jenis yang berbeda, madu trigona. Madu dari lebah tak bersengat ini memiliki rasa unik, yang Vivian sebut "nano-nano" asam, asin, pahit, dan manis menyatu dalam satu tegukan, jauh berbeda dari madu manis pada umumnya. Setelah melihat kondisi Freya membaik, benih ide bisnis pun tumbuh.

 "Sebenarnya sih lebih ke iseng-iseng ya. Oke, kenapa nggak dicoba untuk berbisnis madu trigona?" ujarnya.

Gayung bersambut. Teman Vivian dari Dubai, yang kemudian mencoba madu trigona ini, langsung tertarik.

Baca Juga: Inovasi Madu Trigona Lainnya dari Limbah Menjadi Produk Unggul, Kisah UMKM Bengkaung Didampingi Astra Motor NTB

“This kind of honey is totally different with honey-honey di luar sana,” puji temannya.

Keputusan itu diambil persis setahun lalu. Pada 15 Oktober tahun kemarin, Vivian resmi mendirikan Melonia Artisanal Honey. Nama Melonia sendiri diambil dari mitologi Yunani Kuno, merujuk pada Dewi penjaga para peternak madu.

Vivian, seorang pendatang di Lombok, tidak memulai bisnis ini sendirian. Ia langsung bersinergi dengan kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) madu lokal yang sudah lebih dulu berdiri, bahkan ada yang sudah lebih dari lima tahun. Kelompok ini terdiri dari 15 ketua kelompok yang membawahi banyak pelaku usaha madu trigona, tersebar di Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Barat.

 "Kami bersinergi sama-sama. Kalau Melonial ini sendiri baru setahun,” ucapnya.

Sinergi ini memungkinkan Melonia untuk memiliki channel dan pasokan yang kuat. Terbukti, meski baru setahun, Melonia berhasil mencatatkan prestasi yang cepat.

Jika sebelumnya penjualan UMKM madu lokal hanya berkutat di pasar lokal, setelah bergabung dengan brand Melonia, madu mereka kini telah menembus pasar ekspor, yakni Singapura dan Dubai. "Alhamdulillahnya, Ekspor," kata Vivian bangga.

Namun, pencapaian ini tidak diraih tanpa perjuangan. Vivian menceritakan, satu tahun bukanlah waktu yang singkat, apalagi ia harus beradaptasi sebagai pendatang dengan bahasa yang berbeda dari bahasa kesehariannya asal Jakarta.

Baca Juga: Permen Sehat dari Madu Trigona Asli Lombok Utara, Mau?

Pengurusan standar ekspor menjadi tantangan berat. Mulai dari sertifikasi halal yang bahkan sempat diubah dua kali, NKV (Nomor Kontrol Veteriner) yang memakan waktu dua bulan, hingga sertifikat ISO. Semua demi memenuhi standar A1 untuk ekspor, terutama ke Dubai yang sangat mengutamakan kehalalan.

Tantangan terbesar yang dihadapi Vivian di pasar internasional adalah masalah rasa. Madu trigona yang memiliki rasa unik nano-nano, seringkali ditolak atau dianggap telah dicampur. Harus berusaha memperkenalkan langsung ke Dubai, mempresentasikan di sana. Sekali dua kali penolakan itu ada.

"Orang yang tahunya madu itu kan manis. Sedangkan trigona ini rasanya itu nano-nano," terangnya.

Penolakan itu memaksa Vivian untuk memastikan keaslian produknya dengan uji laboratorium. Meski sulit, ia bersyukur Melonia juga telah memberdayakan banyak petani. Di Bayan, salah satu desa di Lombok Utara, kepala desa setempat bahkan memberikan sepuluh stup (kotak budidaya lebah) untuk setiap satu Kepala Keluarga (KK).

Kendala yang dihadapi adalah masa panen. Madu trigona hanya bisa dipanen dua kali dalam setahun. Untuk mendapatkan madu kualitas golden brown, peternak harus menunggu hingga enam bulan. Rasa madu pun berbeda tergantung nektar yang dimakan lebah di setiap daerah, misalnya nektar mangrove yang menghasilkan rasa pahit, atau nektar bunga kelapa yang menghasilkan rasa creamy seperti santan.

Di ujung perbincangan, Vivian kembali pada titik awal usahanya, kesehatan sang anak.

"Alhamdulillah anak saya yang tadinya setiap bulan itu pasti setoran di rumah sakit, sekarang enggak," ucapnya.

Ia meyakini, meski belum ada penelitian mutlak, madu trigona menjadi penunjang kesehatan yang luar biasa, tidak hanya bagi anaknya, tapi juga bagi omnya yang tengah menjalani kemoterapi.

Editor : Jelo Sangaji
#Madu Trigona