Di usia 28 tahun, Erwin Wirawan memilih jalur pengusaha, membawa komoditas daun kelor dari NTB mendunia di bawah brand Morikai, sambil secara konsisten memberdayakan ratusan petani lokal.
Bagi sebagian besar pemuda, menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah sebuah impian stabilitas.
Namun, bagi Erwin Wirawan, pilihan hidupnya sudah jelas terukir untuk menjadi seorang pebisnis yang berkelanjutan.
Berbekal passion yang mengakar kuat dari lingkungan keluarga pengusaha, Erwin kini memimpin Morikai, sebuah industri kelor terintegrasi yang bertekad membawa produk lokal NTB bersaing di kancah global.
Baca Juga: 4 Alasan Utama Kenapa Harus Nonton Drama Yummy, Yummy? Yummy!
Morikai, yang berdiri sejak 2016, berawal dari diversifikasi bisnis keluarga. Dari semula jamu, pandangan Erwin tertuju pada potensi luar biasa daun kelor di desa-desa NTB.
"Peluang dan potensi tanaman kelor ini sangat luas, banyak sekali di desa-desa NTB. Itu yang mendorong kami untuk terus berinovasi, menciptakan produk bernilai tambah," ujarnya.
Tak hanya mengolah daun kelor kering, serbuk, dan teh celup yang kini sudah diekspor ke 15 negara termasuk pasar utama seperti Malaysia, Jepang, dan Spanyol, Morikai juga fokus pada produk inovatif seperti "special lockdown Kelor" dan "COVID-19 Kelor". Produk yang dikembangkan di tengah pandemi, menunjukkan semangat adaptasi.
Baca Juga: LWC Cetak Pengusaha Muda Berbakat NTB
Keputusan untuk fokus pada kelor didukung oleh keyakinan Erwin bahwa semua komoditas alam di NTB menjanjikan, hanya kurang digali nilai tambahnya. Dengan tekad dan keberanian menghadapi risiko, ia membuktikan bahwa kelor bisa menjadi komoditas emas.
Menjadi pengusaha adalah jalan hidup yang dipilih Erwin. Alasan utamanya sederhana: ia lahir dan dibesarkan di tengah keluarga pelaku usaha.
"Jalan satu-satunya yang harus saya pilih saat ini terus menjadi pengusaha yang bisa beradaptasi, berinovasi, dan memiliki relasi yang luas," jelas Magister Pertanian Agribisnis ini.
Minat menjadi pegawai atau ASN pun hampir tidak ada. Justru semangatnya terfokus pada pemberdayaan. Sejak 2016, Morikai aktif memberdayakan petani lokal.
Di Lombok Utara, mereka mengembangkan sentra produksi dan budi daya kelor, melibatkan hingga 23 anggota kelompok perempuan tani di Desa Gondang dan Desa Pendusari.
Secara keseluruhan, Morikai saat ini bekerja sama dengan kurang lebih 100 anggota kelompok tani di NTB.
Model bisnisnya sangat memberdayakan, Morikai tidak memiliki lahan, melainkan membeli bahan baku dari hasil tanam para petani.
Baca Juga: Mendagri Tito: Rp 210 Triliun Capex Kopdeskel Akan Hidupkan Ekonomi Desa dan Daerah
“Kami sebagai pabrik membeli hasil tanam dari mereka. Ini yang terus kami gencarkan untuk kita 'kelorisasi',” imbuhnya.
Dalam mengolah kelor, Erwin menjamin kandungan gizi tetap terjaga melalui proses terstandarisasi. Mulai dari penanaman, budi daya, hingga pascapanen, semuanya mengikuti SOP yang telah dibentuk oleh standarisasi BPOM, Halal, HACCP, dan Standar Retail Indonesia (SRI).
Ke depan, Morikai membidik target pasar yang sangat spesifik yakni Generasi Milenial berkisar 19 sampai 39 tahun dan kaum wanita. Empat manfaat utama yang mereka sasar berdasarkan riset adalah memperbaiki siklus haid, membantu menjaga berat badan ideal, mengatur gula darah, dan meningkatkan produksi ASI.
Baca Juga: Saatnya Scale Up Bisnismu Bersama BRI di Pengusaha Muda BRILian 2023
Rencana lima hingga sepuluh tahun ke depan, Erwin bertekad menjadikan Morikai sebagai pengembang agribisnis kelor berbasis desa yang terintegrasi di NTB.
Mereka akan memaksimalkan rantai pasok dan rantai nilai, serta masif dalam konten edukasi kesehatan, sambil terus memperluas jangkauan pasar global dengan pemasaran digital terintegrasi.
Dengan latar belakang pendidikan yang linier dengan bisnisnya dan semangat untuk menciptakan lapangan kerja serta warisan jangka panjang, Erwin dan Morikai membuktikan komoditas lokal sekelas daun kelor memiliki tempat istimewa di panggung dunia, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat desa. (*)
Editor : Marthadi