LombokPost - Harga beras di 48 kabupaten masih di atas harga eceran tertinggi (HET). Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengklaim, jumlah daerah yang harga berasnya tinggi terus berkurang dalam dua bulan terakhir.
Penurunan harga itu dipicu intervensi terpadu dari pemerintah.
Ketentuan HET beras premium adalah Rp 14.900/Kg untuk zona I, termasuk Pulau Jawa. Kemudian, Rp 15.400/Kg untuk zona II (Sumatera kecuali Lampung dan Sumatera Selatan, NTT, serta Kalimantan), dan Rp 15.800/Kg untuk zona III (Maluku dan Papua). Sementara, HET beras medium adalah Rp 13.500/Kg untuk zona I, Rp 14.000/Kg untuk zona II, dan Rp 15.500/Kg untuk zona III.
Amran mengatakan, dalam dua bulan terakhir terjadi penurunan daerah yang harga berasnya di atas HET.
Untuk mengawasi harga beras di seluruh rantai pasok, Kementan membentuk tim terpadu.
”Sehingga, intervensi pemerintah, mulai dari operasi pasar hingga penguatan distribusi cadangan pangan dapat dijalankan lebih masif dan terukur,” ucapnya kemarin (27/11).
Amran mengakui, masih ada wilayah yang mengalami kenaikan harga beras. Tetapi, jumlahnya menurun.
”Hampir dua bulan kami memantau harga harian. Awalnya, ada 200 kabupaten/kota yang harga berasnya berada di atas HET,” jelasnya.
Setelah ada intervensi, jumlah daerah dengan harga beras di atas HET turun menjadi 100, lalu berkurang tinggal 48 kabupaten.
Di daerah yang harga berasnya di atas HET itu, Pemerintah menempatkan personel Bapanas, Dirkrimsus Polri, dan Bulog.
Turun Berkat Intervensi
Menurut Amran, penurunan harga beras karena adanya intervensi terpadu yang mencakup operasi pasar beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan).
Beras SPHP dijual murah di bawah HET beras premium. Yaitu, Rp 62.500 kemasan 5 kg atau Rp 12.500/Kg. Selain lewat operasi pasar, beras SPHP juga sudah banyak dijual di minimarket.
Dia lantas merespons soal beras Thailand yang harganya saat ini jatuh di kisaran Rp 5.000/Kg.
Amran menegaskan, harga beras di Thailand dan Vietnam jatuh karena Indonesia tidak impor.
RI tidak impor lantaran produksi beras dalam negeri meningkat.
Kondisi itu disebabkan petani bersemangat menanam padi, karena ada HET pembelian gabah Rp 6.500/Kg.
Bila RI mengimpor beras dari Thailand, kata Amran, harga beras petani bakal jatuh. Menurut dia, HET yang ditetapkan pemerintah sudah memperhatikan petani, pengusaha penggilingan, dan konsumen akhir.
Daerah yang Harga Berasnya Masih di Atas HET
Awal pemantauan: 200 kab/kota
Setelah intervensi: 100 kab/kota
Kini tersisa: 48 kabupaten
Batas Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras
Beras Premium
Zona I: Rp 14.900/Kg
Zona II: Rp 15.400/Kg
Zona III: Rp 15.800/Kg
Beras Medium
Zona I: Rp 13.500/Kg
Zona II: Rp 14.000/Kg
Zona III: Rp 15.500/Kg
Intervensi Pemerintah
Operasi pasar beras SPHP (lebih murah dari HET).
Harga SPHP: Rp 62.500/5 kg (Rp 12.500/Kg).
SPHP dijual di pasar dan minimarket.
Tim pengawasan terpadu: Kementan, Bapanas, Dirkrimsus Polri, dan Bulog. (wan/aph/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida