Berdasarkan analisis terbaru pada Kamis (22/1/2026) pukul 07.00 WIB, pusat sirkulasi sistem ini terpantau berada di koordinat11.4°LS 118.9°BT di Samudera Hindia.
Kehadiran bibit siklon ini diprediksi akan memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia dalam 24 jam ke depan, setidaknya hingga Jumat (23/1/2026) pagi.
Dampak Cuaca dan Gelombang LautBMKG mengeluarkan peringatan dini terkait dampak tidak langsung dari fenomena ini.
Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Sementara itu, wilayah NTB diprediksi akan diguyur hujan lebat hingga sangat lebat.Selain curah hujan tinggi, angin kencang berpotensi menerjang Bali, NTB, dan NTT.
Sektor perairan juga terdampak dengan rincian sebagai berikut:Gelombang Sedang (1,25–2,5 meter): Laut Bali, Laut Flores, Selat Bali, dan Selat Lombok.Gelombang Tinggi (2,5–4,0 meter): Perairan selatan Jawa Tengah hingga NTT, Laut Sawu, Samudra Hindia, dan Laut Arafuru bagian barat.
Kondisi ini dipicu oleh kecepatan angin maksimum pada pusat bibit siklon yang telah mencapai 25 knot atau setara 46 kilometer per jam.Analisis Teknis BMKGKetua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Khusus BMKG, Miming Saepudin, menjelaskan bahwa aktivitas atmosfer di sekitar pusat sirkulasi menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
”Aktivitas konvektif di sekitar pusat sirkulasi terpantau cukup fluktuatif dalam 24 jam terakhir, area dense overcast meluas terutama di sebelah barat daya sistem. Begitu juga dengan area deep convective yang semakin bertambah menandakan adanya perawanan konvektif yang berkembang signifikan dengan suhu puncak awan yang sangat dingin,” terang Miming.
Faktor pendukung lainnya adalah aktifnya gelombang Low Frequency, Kelvin, dan Rossby di sekitar sistem, serta suhu muka laut yang hangat berkisar antara 29 hingga 31 derajat Celsius.
Prediksi 72 Jam ke Depan
Dalam jangka pendek, sistem ini diperkirakan akan terus menguat seiring pergerakannya ke arah selatan-tenggara.
”Berdasarkan prediksi BMKG, dalam 24 jam kedepan intensitas sistem ini diprakirakan akan cenderung meningkat dengan kecepatan angin maksimumnya sekitar 25 knot dan sirkulasi yang lebih tertutup dengan arah gerak selatan-tenggara,” ungkapnya.
Miming menambahkan bahwa pada periode 48 jam, kecepatan angin diprediksi meningkat hingga 30 knot. Namun, kekuatan sistem ini diperkirakan akan meluruh saat mencapai daratan Australia.
”Sedangkan dalam 72 jam kedepan sistem mulai memasuki daratan Australia bagian barat sehingga diprakirakan akan kembali melemah. Secara umum, potensi bibit 91S menjadi siklon tropis dalam 24 jam dalam kategori sedang, dalam 48 jam dalam kategori kuat, dan dalam 72 jam dalam kategori sedang,” pungkas Miming.
Editor : Redaksi Lombok Post