Peristiwa alam ini bukan sekadar pemandangan biasa, karena penyinaran matahari akan terasa jauh lebih maksimal di wilayah tropis, termasuk di berbagai penjuru tanah air.
Mengutip informasi dari radarsurabaya.jawapos.com, fenomena ini menjadi salah satu sorotan utama bagi para pengamat langit dan masyarakat yang ingin merasakan keajaiban presisi alam semesta.
Siang dan Malam Hampir Identik
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa ekuinoks terjadi akibat posisi sumbu rotasi Bumi yang tegak lurus terhadap arah sinar matahari. Efeknya sangat unik: durasi siang dan malam di seluruh dunia menjadi hampir sama.
Secara etimologi, nama "Ekuinoks" berasal dari bahasa Latin equinoctis yang memiliki arti harfiah “malam yang sama”. Meski secara teknis panjangnya tidak persis 12 jam akibat pengaruh refraksi atmosfer, sensasi keseimbangan waktu ini tetap menjadi fenomena yang memukau.
Hilangnya Bayangan dan Penanda Musim
Salah satu fakta paling menarik dari peristiwa ini adalah fenomena Hari Tanpa Bayangan. Di wilayah yang dilintasi garis khatulistiwa seperti Pontianak, bayangan benda yang berdiri tegak akan menghilang sesaat ketika Matahari mencapai titik tertinggi atau zenith.
Lebih dari sekadar tontonan, ekuinoks Maret di Indonesia juga membawa pesan penting bagi lingkungan. Fenomena ini merupakan lonceng penanda berakhirnya musim hujan dan dimulainya transisi menuju musim kemarau.
Warisan Budaya Dunia
Sejak zaman kuno, ekuinoks telah menjadi bagian penting dalam sejarah manusia. Di Kamboja, arsitektur megah Angkor Wat dirancang sedemikian rupa sehingga Matahari terbit tepat di atas candi pusat saat ekuinoks berlangsung.
Hal ini membuktikan betapa peradaban masa lalu sangat bergantung pada pergerakan langit untuk menentukan aktivitas pertanian mereka. Di era modern pun, negara seperti Jepang masih merayakan momen ini sebagai hari libur nasional.
Jadi, saat Anda bersantai sore ini, nikmatilah momen langka di mana Bumi berada dalam keseimbangan sempurna dengan sang surya.
Editor : Marthadi