LombokPost – Bangunan ruang kelas hasil swadaya masyarakat dan orang tua siswa yang telah berdiri selama 20 tahun di SMAN 7 Mataram tiba-tiba roboh pada Selasa siang.
Insiden ambrolnya atap bangunan tua tersebut terjadi mendadak di tengah pelaksanaan ibadah salat Zuhur berjamaah dan sempat menimbulkan suara dentuman yang sangat keras.
Diketahui, fasilitas yang menaungi dua ruang kelas serta satu perpustakaan ini dibangun sejak tahun 2006. Meski bagian plafonnya sempat diperbaiki pasca-gempa Lombok 2018 lalu, bangunan tersebut akhirnya runtuh tanpa ada tanda-tanda awal atau cuaca ekstrem sebelumnya.
Baca Juga: Kontrak Mataram Mall Berakhir Juli, Negosiasi Pemkot Mataram dan Pengelola Berjalan Alot
Kepala SMAN 7 Mataram Ridha Rosalina, mengungkapkan bahwa kondisi fisik plafon sebenarnya terlihat normal sebelum insiden terjadi.
“Pagi tadi saat jam pertama saya keliling, kondisi plafonnya baik dan tidak ada yang mencurigakan. Kejadiannya tiba-tiba terdengar suara keras, seperti truk dam sedang membongkar batu," terangnya.
Baca Juga: Atap Dua Ruang Kelas Ambruk di SMAN 7 Mataram, Pemprov NTB Turun Tangan
Saat peristiwa berlangsung, tidak ada aktivitas belajar mengajar di dalam kelas. Namun, terdapat empat siswa kelas 11A2 yang sedang berada di dalam ruangan untuk beristirahat. Beruntung, keempatnya berhasil menyelamatkan diri dari reruntuhan.
Kondisi Korban: Tidak ada luka serius, hanya cedera ringan atau lecet.
Tindakan Evakuasi: Semua korban langsung dilarikan ke puskesmas yang berada di belakang sekolah.
Status Terkini: Tiga siswa sudah diperbolehkan pulang, sementara satu siswa harus dirujuk ke Rumah Sakit Kota untuk observasi lebih lanjut karena mengalami syok dan pusing.
Baca Juga: Santiago Gimenez Layak Sandang Gelar Penyerang Terburuk AC Milan 16 Tahun Terakhir
Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan serta penyelidikan lebih lanjut, seluruh area bangunan berumur dua dekade tersebut kini telah disterilkan dan dipasang garis polisi (police line).
Editor : Prihadi Zoldic