Petugas kesehatan rutin mendatangi posyandu remaja. Membawa formulir, dan berbagai instrumen skrining. Namun ada satu masalah yang terus berulang. Remaja sering memilih diam.
---
PARA remaja hadir di kegiatan Posyandu, mengisi beberapa pertanyaan. tetapi banyak persoalan yang sebenarnya sedang mereka hadapi tidak pernah muncul ke permukaan.
Padahal di balik sikap diam itu tersimpan beragam persoalan. “Mulai dari konflik keluarga, tekanan sekolah, gangguan kesehatan mental, hingga kasus kekerasan seksual,” tutur perawat Puskemas Cakranegara Suwandira, A.Md.Per, pada Lombok Post, Jumat (19/6).
Kondisi itulah yang selama bertahun-tahun menggelitik pikiran Suwandira. Perawat yang diberi tanggung jawab menjalankan Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas Cakranegara.
“Remaja ini masih punya stigma malu untuk menceritakan masalah-masalah yang dialaminya. Saat kami turun ke posyandu remaja, banyak yang belum terbuka ketika menggunakan metode konvensional,” terangnya.
Saat itu proses skrining masih menggunakan rapor remaja berbasis kertas. Metode tersebut sebenarnya sudah memuat berbagai indikator kesehatan dan perilaku remaja.
Namun dalam praktiknya, tidak mudah menggali persoalan yang benar-benar mereka hadapi. “Di lapangan kendalanya memang menggali masalah remaja. Mereka masih malu-malu bercerita,” jelasnya.
Dari kegelisahan itu lahir sebuah ide sederhana: bagaimana jika ruang curhat dibuat lebih aman, lebih nyaman, dan lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda yang akrab dengan gawai?
Baca Juga: Membanggakan, Tiga Dokter RS Mandalika Sabet Juara Neuro Battle 2026
Ide tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah inovasi yang diberi nama SIBESTI CAKRA. Singkatan dari Sistem Informasi, Bimbingan Edukasi dan Screening Terpadu Inklusif Cakranegara.
Bagi Suwandira, SIBESTI bukan sekadar aplikasi. Ia adalah upaya menghadirkan sahabat pertama bagi remaja yang sedang mengalami masalah tetapi belum berani berbicara kepada siapa pun.
Yang menarik, Suwandira bukanlah lulusan teknologi informasi. Latar belakangnya adalah tenaga kesehatan.
Namun keinginan untuk menghadirkan layanan yang lebih efektif membuatnya nekat mempelajari berbagai hal di luar bidang yang selama ini ia tekuni. “Belajarnya otodidak. Saya dibantu teman juga,” ujarnya.
Teman yang dimaksud seorang dokter yang memiliki ketertarikan terhadap dunia digital dan pemrograman. Suwandira menuangkan gagasan mengenai kebutuhan layanan remaja, sementara temannya membantu menerjemahkan ide tersebut ke dalam bentuk sistem digital.
Kolaborasi itu berlangsung berbulan-bulan. Sejak Januari 2026, keduanya terus menyempurnakan berbagai fitur yang diperlukan, mulai dari sistem skrining, keamanan data, pengelolaan hasil curhat, hingga ekspor data untuk keperluan evaluasi program.
“Kurang lebih lima bulan sampai aplikasinya benar-benar mantap. Dari segi ekspor data, keamanan data curhat, dan fitur-fitur lainnya terus kami sempurnakan,” katanya.
Hasilnya adalah sebuah platform berbasis website yang dapat diakses melalui tautan maupun QR Code. Pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi terlebih dahulu.
“Cukup memindai QR Code, maka mereka langsung masuk ke layanan SIBESTI CAKRA,” terangnya.
Ke depan, Suwandira berharap sistem tersebut dapat berkembang menjadi aplikasi yang tersedia di Play Store agar semakin mudah dijangkau remaja. Satu hal yang sengaja dilakukan dalam pengembangan aplikasi ini adalah menghadirkan unsur gamifikasi.
Baca Juga: BIZAM Tuntaskan Debarkasi Haji Lombok
Pendekatan ini dipilih karena remaja cenderung lebih tertarik menggunakan platform yang terasa menyenangkan dibandingkan formulir kesehatan yang kaku. “Kita ubah cara menarik minat mereka. Ada unsur gamifikasi supaya mereka lebih nyaman menggunakan aplikasi,” ujarnya.
Di balik tampilannya yang ramah pengguna, DIBESTI sebenarnya bekerja menggunakan pendekatan asesmen kesehatan remaja yang mengacu pada standar Kementerian Kesehatan. Sistem tersebut membantu memetakan berbagai aspek kehidupan remaja, mulai dari pendidikan, aktivitas, pola makan, kondisi mental, hingga risiko kekerasan.
Karena itu, aplikasi ini bukan sekadar tempat curhat. Aplikasi ini menjadi alat skrining dini yang membantu petugas kesehatan mengenali masalah sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih berat.
Keberhasilan menghadirkan inovasi ini tidak lepas dari dukungan lingkungan kerja di Puskesmas Cakranegara. Di bawah kepemimpinan Kepala Puskesmas Cakranegara Zaroan Supriadi, serta dukungan jajaran manajemen termasuk Kepala Tata Usaha I Gde Yasa, berbagai pengembangan layanan berbasis inovasi terus mendapat ruang untuk berkembang.
Bagi Suwandira, dukungan tersebut menjadi modal penting mewujudkan gagasan yang awalnya hanya berangkat dari kegelisahan melihat remaja yang memilih menyimpan masalah mereka sendirian. “Padahal, sering kali persoalan besar bermula dari satu cerita yang tidak pernah tersampaikan,” ujarnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin