Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Fenomena ‘Fatherless’ Jadi Atensi

Chia • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:10 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

LombokPost - Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menaruh perhatian serius terhadap tingginya angka fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan figur ayah dalam pengasuhan anak. Isu krusial ini dinilai menjadi salah satu pemicu utama maraknya kasus kekerasan terhadap anak, perundungan atau bullying, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang masih menjadi potret buram secara nasional.

“Ini bukan lagi sekadar persoalan daerah kita saja, melainkan tantangan nasional. Ayah dan ibu harus bersama-sama memberikan pengawasan maksimal serta pembimbingan yang sehat kepada anak,” kata Mohan. 

Berdasarkan data BKKBN NTB, 442 ribu anak dan remaja atau sekitar 20 persen di Provinsi NTB dilaporkan mengalami fatherless atau tumbuh tanpa figur ayah. Dengan itu, Mohan menegaskan untuk meredefinisi kembali fungsi keluarga secara spesifik. Di tengah disrupsi informasi yang masif dan keterbukaan akses media sosial tanpa batas, tantangan mendidik anak saat ini menjadi berkali-kali lipat lebih berat bagi para orang tua.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak Tumbuh dalam Fenomena Fatherless Country, Gubernur Iqbal Tekankan Pentingnya Peran Ayah bagi Keluarga

Orang nomor satu di Kota Mataram ini menekankan pentingnya kehadiran ayah dalam proses tumbuh kembang anak. Menurutnya, stigma konvensional yang membebankan seluruh urusan domestik dan pola asuh hanya kepada ibu harus segera diubah.

“Bonding atau ikatan emosional antara ayah dan anak-anaknya harus semakin kuat untuk pembimbingan yang seimbang. Kehadiran figur ayah ini sangat esensial agar anak tidak kehilangan arah,” terangnya.

Lebih lanjut, disinggung mengenai tren pelaporan kasus kekerasan anak yang cenderung meningkat, Mohan tidak menampik hal tersebut. Namun, ia melihat fenomena ini dari sudut pandang kebijakan publik yang inklusif. Menurutnya, lonjakan data terjadi karena regulasi dan pendampingan pemerintah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) berjalan efektif, sehingga membuat masyarakat kini berani bersuara.

“Pemerintah melahirkan regulasi bukan sekadar formalitas, tetapi bagaimana kebijakan tersebut benar-benar dirasakan asas kemanfaatannya oleh masyarakat,” urainya. (chi) 

 

Editor : Kimda Farida
#FATHERLESS #PERAN AYAH #hari keluarga nasional #Mataram #Mohan Roliskana