Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Cabai dan Daging Ayam Melandai, Apa Karena MBG Libur? 

Chia • Minggu, 5 Juli 2026 | 13:24 WIB
Harga cabai mulai stabil
Harga cabai mulai stabil

LombokPost - Harga sejumlah komoditas bahan pokok (bapok) di pasar tradisional Kota Mataram mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai rawit, cabai merah keriting, hingga tomat terpantau kompak melandai akibat pasokan yang melimpah dari berbagai daerah sentra produksi.

Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Sri Wahyunida, mengungkapkan stabilitas harga ini dipicu oleh masuknya masa panen raya di wilayah hilir.

 Pasokan luar daerah saat ini mengalir deras memenuhi pasar-pasar utama di Ibu Kota Provinsi NTB.

”Bawang merah sekarang turun drastis menjadi Rp 25 ribu sampai Rp 26 ribu per kilogram dari yang sebelumnya sempat menyentuh Rp 40 ribu per kilogram. Penurunan ini terjadi hampir setiap hari,” katanya.  

Nida menjelaskan, merosotnya harga bawang merah dikarenakan melimpahnya stok akibat panen raya di Bima, Sumbawa, hingga pasokan dari pulau Jawa.

Kondisi serupa terjadi pada komoditas cabai rawit yang kini bertengger di kisaran Rp 30 ribuan per kilogram, memotong setengah dari harga normal yang biasanya mencapai Rp 60 ribu per kilogram.

Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Mataram Tembus Rp90 Ribu

Melandainya harga cabai rawit ini dipengaruhi oleh hadirnya jalur distribusi baru. Jika biasanya pasar Mataram hanya mengandalkan pasokan dari Lombok Timur, Lombok Barat, atau Jawa, kini Kabupaten Sumbawa mulai menjelma menjadi pemasok besar.

”Kami sudah bertemu langsung dengan salah satu distributor hulu dari Lantung, Sumbawa. Sekarang Sumbawa juga sudah panen raya. Ini yang menyebabkan produksi kita sangat melimpah di pasar,” tambahnya.

Selain hortikultura, penurunan harga juga merambah ke sektor peternakan.

 Harga daging ayam ras terpantau turun ke angka Rp 32 ribu per kilogram, setelah sebelumnya bertengger kokoh di angka Rp 40 ribu per kilogram di tingkat pedagang bawah.

Meski pasokan melimpah menjadi berkah bagi konsumen, penurunan harga ini juga mengindikasikan adanya kelesuan di tingkat pasar.

Berdasarkan koordinasi dan komunikasi berkala dengan para pedagang, Disdag mencatat terjadinya penurunan aktivitas belanja masyarakat yang cukup signifikan.

Baca Juga: Sekolah Libur, MBG Distop: BGN Klaim Hemat Insentif Rp 3,4 Triliun

Merosotnya daya beli ini disinyalir erat kaitannya dengan momentum akhir bulan serta jeda libur sekolah.

Kondisi tersebut bertepatan pula dengan dihentikannya sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur, yang selama ini menjadi salah satu motor penggerak serapan komoditas pangan dalam jumlah besar.

Ketika dimintai konfirmasi mengenai dampak penutupan program MBG tersebut terhadap anjloknya harga dan daya beli di pasar, Nida memilih untuk enggan berkomentar lebih jauh mengenai program pusat tersebut. Ia menegaskan fokus instansinya saat ini adalah memastikan kelancaran distribusi.

”Bagi kami, yang paling penting adalah alhamdulillah stok dan pasokan di lapangan tetap aman dan terjaga dengan baik,” pungkasnya. (chi) 

 

Editor : Kimda Farida
#HARGA DAGING AYAM #MBG LIBUR #harga cabai #Mataram #Pasar Tradisional