LombokPost – Dinas Pariwisata Kota Mataram terus memperkuat wisata berbasis sejarah melalui program Heritage Walk di kawasan Kota Tua Ampenan. Berkolaborasi dengan Komunitas Lombok Heritage Society (LHS), kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta yang terdiri atas pelajar, wisatawan lokal, hingga mancanegara.
Para peserta diajak menyusuri sejumlah titik bersejarah di Ampenan. “Sambil mengenal perjalanan ilmuwan asal Inggris Alfred Russel Wallace yang pernah singgah di Lombok pada 1856,” terang Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra, Minggu (5/7).
Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh penjelasan mengenai sejarah kawasan pelabuhan tua, jejak Wallace di Ampenan, hingga perannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Sementara Heritage Walk menjadi bagian dari upaya memperkuat atraksi wisata berbasis komunitas sebagai salah satu kekuatan destinasi wisata.
“Kami terus berkolaborasi dengan komunitas untuk membenahi dan memperkuat atraksi wisata berbasis masyarakat. Heritage Walk menjadi salah satu bentuk pengembangan Community Based Tourism di Kota Mataram,” ujarnya.
Menurut Cahya, pengembangan pariwisata tidak lagi hanya berorientasi pada tingginya angka kunjungan wisatawan. Yang lebih penting bagaimana aktivitas pariwisata mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal melalui keterlibatan langsung dalam setiap atraksi wisata.
“Nilai tambah yang mampu menyejahterakan masyarakat sekaligus membantu mengentaskan kemiskinan masyarakat lokal,” tekannya.
Ia menjelaskan, keterlibatan komunitas sejarah dalam Heritage Walk menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat berperan sebagai pelaku utama pariwisata. Selain menjaga warisan sejarah, masyarakat juga memperoleh peluang ekonomi melalui jasa pemandu wisata, penyelenggaraan kegiatan, hingga pengembangan usaha kreatif di kawasan Kota Tua Ampenan.
Dalam Heritage Walk tersebut, peserta diajak mengenal jejak Alfred Russel Wallace yang tiba di Pelabuhan Ampenan pada 17 Juni 1856. Selama berada di Lombok, Wallace melakukan penelitian flora dan fauna, mengunjungi sejumlah wilayah di Pulau Lombok, serta menyusun berbagai catatan ilmiah yang kemudian menjadi salah satu dasar lahirnya Wallace Line, garis imajiner yang membedakan persebaran fauna Asia dan Australia.
Selain menyajikan kisah sejarah, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai bangunan tua dan kawasan bersejarah. Lokasi ini masih menjadi identitas Kota Tua Ampenan sebagai kawasan waterfront bersejarah.
Baca Juga: Asap Masaro Sempat Dikeluhkan Warga Senteluk, DLH Lobar Siapkan Uji Emisi Bulan Ini
Cahya berharap Heritage Walk dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Sekaligus menjadi salah satu atraksi unggulan yang ditawarkan kepada tamu-tamu dari berbagai daerah.
“Kami ingin Heritage Walk menjadi salah satu atraksi wisata andalan Kota Mataram, termasuk dipersiapkan menyambut agenda APEKSI 2027. Potensi sejarah yang dimiliki Ampenan harus terus dihidupkan agar memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat citra Kota Mataram sebagai destinasi wisata sejarah,” pungkasnya