Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) di Mataram tak hanya tentang absen di sekolah, melainkan menghadirkan afeksi, memotong mata rantai bullying, hingga menitipkan adab yang tak mampu digantikan canggihnya teknologi informasi.
----------------------------
Ratusan pasang kaki melangkah ragu menapak gerbang sekolah yang baru.
Di samping mereka, tidak hanya ada tas punggung yang berat, melainkan ayah yang menggenggam erat tangan anak-anak mereka. Hari itu adalah penanda dimulainya tahun ajaran baru.
Sebuah tahap yang diwarnai oleh Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS), sebuah kampanye nasional yang menuntut keterlibatan aktif figur aman seorang kepala keluarga di hari pertama sekolah hingga saat jemput sekolah nanti.
Berdiri di tengah kerumunan, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menyaksikan lebih dari 90 persen dari total sekitar 300 orang tua yang hadir didominasi oleh para ayah.
Baginya, fenomena ini adalah sinyal positif, sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya pengasuhan bersama telah mulai menembus ruang keluarga.
“Tadi saya melihat langsung, orang tua banyak sekali mendampingi anak-anak mereka di satu tempat. Saya sengaja mengingatkan, tidak hanya kepada orang tua, tetapi guru dan muridnya juga ikut saya sampaikan pesan-pesan penting ini,” kata Mohan, kemarin (13/7).
Baginya, kehadiran seorang ayah pada fase krusial pertumbuhan anak, terutama di tingkat SD dan SMP, adalah sebuah fondasi emosional.
Anak-anak yang sedang tumbuh sangat membutuhkan afeksi nyata untuk membangun kepercayaan diri.
Kehadiran fisik seorang ayah, walau hanya berupa komunikasi singkat di depan gerbang atau pelukan hangat saat menjemput, memberikan rasa aman. Anak akan merasa dilindungi, dihargai, dan memiliki motivator utama dalam hidup.
“Saya bilang bahwa orang tua, ayah terutama, harus selalu hadir di dalam kehidupan anak. Bagi yang situasi keluarganya tidak memiliki ayah, peran penting itu tentu bisa digantikan oleh figur ibu, paman, atau keluarga lain yang mampu memberikan perlindungan,” terangnya.
Lebih lanjut, Mohan menekankan fokus utama pendidikan anak di tingkat dasar bukanlah semata-mata menuntut mereka untuk langsung menjadi pintar. Aspek akademis memiliki waktunya tersendiri untuk berkembang.
Hal paling mendesak yang wajib dihadirkan saat ini adalah memunculkan rasa bahagia dan ketenangan di dalam diri anak-anak tersebut.
Momentum hari pertama sekolah ini juga dimanfaatkan Mohan untuk memberikan peringatan keras terkait mitigasi perundungan atau bullying yang kerap menghantui siswa baru. Peran guru dituntut melampaui batas formalitas kurikulum baku.
Menurutnya, jika guru hanya memposisikan diri untuk mentransfer ilmu pengetahuan, maka peran itu lambat laun akan tergeser oleh kekayaan informasi digital dan kecerdasan buatan.
“Di sinilah peran guru dan orang tua berkolaborasi untuk memperhatikan setiap atensi terhadap perubahan perilaku anak agar mendeteksi sejak dini dan meminimalisir potensi perundungan,” tambahnya.
Ia berharap interaksi yang terjalin erat melalui GAMAS ini tidak menguap sebagai seremonial satu hari saja. Melainkan konsisten dilakukan setiap hari demi mengawal transisi psikologis anak dari rumah menuju lingkungan sosialnya yang baru.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan