JAKARTA–Terlibat kecelakaan dalam kurun waktu yang tak terlalu lama, Garuda Indonesia akhirnya secara resmi membatalkan pembelian 49 pesawat
Boeing 737 seri Max 8. Pesawat tersebut harusnya mulai dikirimkan mulai 2020. Garuda sendiri telah membayar uang panjar sebesar Rp 377 miliar.
Kemarin, Garuda Indonesia menggelar pertemuan dengan petinggi Boeing. Pertemuan itu menjadi ajang maskapai pelat merah asal Indonesia itu untuk resmi membatalkan pesanan.
“Kami tetap percaya kepada produk Boeing akan tetapi untuk keselamatan penumpang Garuda dan masyarakat Indonesia pada umumnya, kami tidak dapat melanjutkan pemesanan 49 pesawat 737 seri Max 8,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askara Danadiputra, kemarin.
Kemarin pagi, Garuda Indonesia menerima kedatangan senior representatif dari Boeing di kantor perseroan di kawasan Cengkareng, Banten.
Dalam pertemuan tersebut, Garuda menegaskan kepada Boeing untuk tidak bisa meneruskan pemesanan pesawat tipe tersebut. “Dari Garuda kami masih percaya terhadap brand Boeing namun kami sudah tidak percaya lagi dengan product Max-8. Khususnya karena masyarakat yang notabene pelanggan kami sudah kehilangan confidence terhadap product itu,” urainya.
Meski demikian, Garuda tidak akan mengganti ke brand lain seperti yang dilakukan beberapa maskapai penerbangan lain. Namun, pihaknya meminta Boeing untuk menawarkan produk lain selain Max 8 tersebut. Sedangkan nilai, jenis dan waktu pengiriman akan dibahas antar kedua tim.
“Untuk hal ini Boeing terbuka dan akan membahas internal di Seattle,” imbuhnya.
Pertemuan lanjutan tersebut rencananya akan dilakukan pada akhir April untuk mencari keputusan terbaik untuk kedua belah pihak. “Kami juga menawarkan masukan kepada Boeing untuk memfasilitasi pertemuan dengan regulator dan memberikan masukan kepada Boeing untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan regulator kepada brand Boeing,” urainya.
Di sisi lain, pihak Boeing turut menyampaikan simpatinya kepada keluarga korban dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Menurutnya, Boeing juga mengerti posisi Garuda dan akan mempelajari kemungkinan untuk merestrukturisasi kontrak yang berlaku, bekerjasama dan memberikan support penuh kepada Garuda untuk memenuhi kebutuhan perseroan ke depan.
“Mengingat Garuda adalah National Flag Carrier dan key customer untuk Boeing,” imbuhnya. Dari sisi teknis Boeing sudah melakukan enhancement atas sistem MCAS dan masih menunggu approval dari FAA dan laporan akhir atas kecelakaan ethiopian air dan Lion Air.
Pengamat Penerbangan Arista Atmajati mengatakan pembatalan pemesanan pesawat Boeing 737 Max sepenuhnya merupakan aksi korporasi masing-masing maskapai.
“Pelanggan tidak terlalu paham model pesawat. Mereka tahunya Boeing ya Boeing jadi kalau sampai tidak percaya sama Boeing tidak juga karena tipenya banyak,” urai Arista.
Meski demikian, dia menurutnya aturan pelarangan terbang untuk Boeing 737 MAX 8 memang akan merugikan maskapai. “Sekarang belum ada ketentuan sampai kapan groundednya. Kalau tidak ada ketentuan, yang makai banyak MAX 8 kan rugi seperti Lion 10 pesawat grounded terus sampai kapan kan rugi,” urainya.
Pihak Garuda sendiri telah mengeluarkan dana awalan untuk pemesanan Boeing 737 MAX 8 senilai USD 26 juta atau sekitar Rp 377 miliar (kurs Rp 14.500). Pembatalan tersebut tidak akan membuat hilang begitu saja. Tetapi akan dialihkan pembayaran awal untuk tipe lain sesuai kesepakatan kedua belah pihak.
“Akan jadi PDP juga untuk type lain yang nanti akan disepakati. Gak hilang,” tegasnya. Garuda memang menjadi salah satu maskapai yang banyak menggunakan pesawat pabrikan Amerika Serikat tersebut. (vir/lyn/JPG/r8)
Editor : Administrator