TGH Fadli mengatakan, deklarasi keduanya bisa jadi dilaksanakan di Yatofa Bodak. Tepatnya, di makam almarhum orang tuanya TGH Fadil Tohir. “Ini sebagai bentuk komitmen saya,” tegasnya.
Jika ada yang meragukan, pihaknya mempersilakan siapa pun datang langsung ke kediamannya. Pernyataan tersebut, sekaligus menjawab isu-isu miring yang menyatakan pasangan Pathul-Nursiah bisa berubah.
TGH Fadli menekankan, tidak ada calon dari keluarga Bodak. Baik atas nama anak dari Bupati HM Suhaili FT yaitu Ferdian Elmansyah atau adik H Humaidi dan H Puaddi FT. “Sekali lagi, tidak ada itu dan siapa pun itu,” tegasnya lagi.
Dia tidak ingin, ada politik dinasti. Kecuali, ingin melihat ada regenerasi kepemimpinan baru dari kalangan lain di luar Bodak. Pasangan Pathul-Nursiah, sudah mewakili kedaerahan di Loteng. Termasuk berbicara figur. “Pathul dari utara Loteng, atau maiq dan Nursiah dari selatan Loteng, atau meres,” tandasnya.
Kata dia, Pathul seorang politisi murni dan Nursiah seorang bikrorasi murni. TGH Fadli menilai, pasangan Pathul-Bahri mampu melanjutkan ikhtiar pembangunan Bupati HM Suhaili FT. Kendati demikian, pihaknya telah menitip pesan. Kalau keduanya terpilih, maka tidak boleh retak atau pecah di tengah jalan.
Informasi yang diserap Lombok Post, pasangan Pathul-Bahri sendiri diusung dan didukung Partai Gerindra tujuh kursi, Partai Golkar tujuh kursi dan Partai Berkarya satu kursi. Sehingga mereka mendapatkan 15 kursi dari 50 kursi dewan, atau melebihi syarat yang ditentukan KPU sebanyak 10 kursi.
Sementara calon pasangan lainnya, Ziadi-Aswatara diusung Demokrat dan PPP, Suriade-Habib Ziadi, diusung PKS. Sementara, pasangan Masrun-Aksar, sudah mengantongi rekomendasi PKB. “Kalau Dwi-Normal masih solid empat parpol,” kata Samsul Qomar, juru bicara tim Dwi-Normal, terpisah.
Parpol yang dimaksud yakni Partai NasDem, PDIP, PAN dan Partai Hanura. (dss/r5) Editor : Administrator